
Gavin segera mengendarai mobilnya dengan ketepatan di atas rata-rata. laki-laki tampan itu merasa sangat kesal dengan apa yang menimpa hidupnya. ternyata terlalu patuh dengan omongan orang tua apalagi ibu itu memang tidak akan berakhir baik.
Terbukti saat ini, hanya penyesalan lah yang menyelimuti hati dan pikiran laki-laki tampan itu.
"sialan!"makinya Seraya memukul pohon yang ada di sebelah mobil yang ia parkir itu.
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga pukulan, berhasil ia layangkan kepada benda mati yang tidak tahu apa kesalahannya. hingga membuat jari tangannya, seketika mengeluarkan darah karena luka robek akibat terkena duri dari pohon itu.
"aaagrrggghh! Mama sudah menghancurkan semua impianku!"teriak laki-laki itu.
Gavin sama sekali tidak memperdulikan pandangan orang-orang yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang aneh dan juga kebingungan. yang ia pikirkan saat ini, bagaimana caranya untuk mendapatkan hati gadis itu kembali.
"aku harus mendapatkan Maaf dari Elia!"gumamnya Seraya berenjak dari tempat itu. dan dengan segera, Gavin segera mengemudikan mobilnya di atas rata-rata.
Karena yang ingin laki-laki itu lakukan, adalah cepat sampai ke tempat di mana istrinya berada.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gavin telah berada di depan Cafe milik istri dan teman-temannya itu. dengan langkah sedikit berat dan ragu-ragu, akhirnya Gavin memutuskan untuk menuju ke dalam bangunan itu.
****
Elia menatap seseorang yang telah berdiri di hadapannya itu dengan tatapan sedikit terkejut. namun dengan segera ekspresi wajahnya pun, dibuat sebiasa mungkin.
"ada apa Tuan kemari?"tanya Elia Seraya membungkukkan badan. mulai saat ini, gadis itu akan bersikap seperti selayaknya seorang yang tidak saling kenal.
Karena memang sebelum mereka dipertemukan, keduanya adalah dua orang yang tidak saling mengenal dan asing satu sama lain. dan sekarang, mungkin sudah kembali seperti semula.
Tentu saja ucapan dari Elia itu membuat Gavin sedikit merasa terkejut. "apa dia sedang membuat jarak padaku?"hanya laki-laki tampan itu pada dirinya sendiri.
"boleh, mau bicara di mana Tuan?"tanya Elia dengan senyuman ramah. jujur saja, perlakuan dari Elia itu membuat Gavin merasa sangat tidak nyaman. ingin sekali, laki-laki tampan itu, memeluk dan mendekapnya dengan erat.
"mau bicara apa Tuan?"tanya Elia saat mereka telah duduk di bagian belakang Cafe itu yang sengaja dibuat seindah mungkin oleh Arman dan juga Justin.
"tolong maafkan aku Elia, aku sudah mendengar semuanya dari Ibuku sendiri. aku sangat menyesal, tolong kembalilah padaku."ujarnya Seraya menggenggam tangan Elia dengan erat.
Membuat gadis itu yang mendengarnya, sedikit merasa terkejut. namun dengan segera, senyuman mengejek terbit dari kedua sudut bibirnya dan menghiasi wajah cantik gadis itu.
"jika anda tidak mendengar ucapan dari ibu anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan? pastinya Anda masih akan terus membenciku dan menganggapku seperti sampah bukan?"tanya Elia dengan raut wajah sinisnya dan juga kata-kata yang sangat menohok.
__ADS_1
Hingga membuat Gavin, seketika terdiam membisu dan tak memiliki jawaban apapun atas pertanyaan Elia.
"kenapa, kenapa Anda diam? apakah anda tidak memiliki jawaban atas pertanyaanku?"tanya gadis itu dengan raut wajah mengejek. dan juga tatapan sinisnya.
"sayangnya, aku tidak akan pernah kembali kepada laki-laki yang telah terang-terangan menyia-nyiakanku!"ujarnya dengan nada datar namun juga tegas. dan setelahnya, Elia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam cafenya.
Namun, baru beberapa langkah Elia kembali menghentikan kakinya. saat mendengar ucapan dari laki-laki yang ada di belakang sana.
"tapi kau tetap Menjadi milikku, karena kita memang belum pernah bercerai, kan?"ucap Gavin Seraya beranjak dari duduknya.
"anda percaya diri sekali tuan, saya akan segera melayangkan surat gugatan."ujarnya kembali melangkah.
"dan aku tidak akan pernah mendatangani surat itu."ucap Gavin tak kalah tegas."karena sampai kapanpun, kau akan tetap menjadi milikku!"ucapnya berbisik di telinga gadis itu.
Membuat Elia seketika membalikkan tubuhnya. sehingga membuat keduanya saat ini, menatap satu sama lain.
"jika kau bersikeras untuk mempertahankan hubungan itu, mungkin aku akan menjadi sebuah boneka. yang akan selalu terima engkau permainkan, tapi tidak memiliki rasa sedikitpun denganmu!"ujarnya Seraya mendorong tubuh laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Elia segera melangkahkan kakinya dengan cepat karena merasa sesuatu ingin meledak di dalam sana. apalagi jika bukan amarah yang sengaja dipancing.
"dasar egois!!"ujar Elia berteriak Seraya memukul tembok dengan sekuat tenaga. dan setelahnya, tubuhnya beringsut dan terduduk di atas lantai dengan tangis yang menggema.
__ADS_1