
Setelah dari rumahsakit mata, Elia dan Gavin memutuskan untuk yang berkunjung terlebih dahulu di sebuah rumah makan yang memang berada tak jauh dari sana.
" Kamu mau makan apa sayang?" tanya Gavin Seraya menatap ke arah sang istri. Seketika itu pula, Elia yang mendengarnya, mematung di tempatnya.
"Ma-mas barusan bicara apa?" tanya Elia memastikan dengan nada yang terbata-bata. Karena baru pertama kali ini, gadis itu, mendengar ucapan romantis dari seorang laki-laki.
Tentu saja, Hal itu membuat Gavin yang melihat ekspresi dari istrinya itu, menjadi sangat gemes. Kemudian, dengan kedua tangannya menangkup pipi tembem milik Elia.
" sayang," bisiknya tepat di telinga wanita itu. Sementara Elia yang mendengarnya, tubuhnya, semakin terasa panas.
Elia pun dengan segera, mencoba melepaskan kedua tangan suaminya yang berada di wajahnya itu. Karena dirinya merasa, jantungnya berdetak lebih kencang. sepertinya tidak aman.
"Mas, Maaf aku malu." cicitnya Seraya dudukan kepala dengan wajah yang tampak sekali memerah karena banyakan malu.
Gavin yang mendengar itu, semakin tersenyum senang. karena ternyata, istrinya itu, adalah tipe wanita yang apa adanya. yang tidak munafik Apalagi bermuka dua.
Berarti sudah tidak bisa diragukan lagi. dirinya akan tetap mempertahankan pernikahan ini Apapun Yang Terjadi. Karena di zaman seperti ini, jarang sekali mendapatkan wanita yang. baik yang tulus apa adanya.
" Aku mencintaimu" ucapnya dengan penuh keyakinan. tentu saja hal itu membuat Elia semakin merasa terkejut. wanita itu, bahkan tidak menyangka akan dicintai oleh seseorang.
__ADS_1
Apalagi dicintai oleh seorang pengusaha sukses dan mapan seperti Gavin Harsono. Seketika mata Elia berkaca-kaca. dan siap menumpahkan cairan bening yang ada di bola matanya.
" Kamu kenapa menangis Elia? apa aku menyakitimu?" tanya Gavin dengan raut wajah khawatir.
Khawatir, kalau kalau, ada bagian tubuh yang tersakiti. karena detik ini juga, Gavin berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati. dan tidak akan pernah, membiarkan istrinya itu Tersakiti oleh siapapun. dan bahkan, oleh ibunya sendiri.
Walaupun mungkin rasanya sangat berat harus Melawan ibunya sendiri. Namun, itu harus dilakukan apabila istrinya sudah merasa terancam. karena saat ini, Gavin memiliki tanggung jawab yang lebih besar.
Grep,...
Tiba-tiba saja, Elia menubruk Kevin hingga mereka ketemu tengah dalam keadaan berpelukan. dan sesekali, menangis sesenggukan di dalam dekapan laki-laki itu.
Gavin yang mendengar itu, seketika tersenyum lebar dengan tangan yang mengusap air mata wanita itu." Apapun Yang Terjadi, aku akan selalu mendampingimu." ucapnya Seraya kembali memeluk tubuh mungil istrinya itu.
Dirinya benar-benar merasa tidak peduli dengan orang-orang yang di sekitar. yang mungkin saja, Tengah memperhatikannya saat ini. yang jelas, Gavin saat ini, merasa sangat bahagia karena dapat mengantarkan isi hatinya.
Kemudian, mereka berdua sama-sama melerai pelukan itu. "sama-sama mulai saat ini, Jangan pernah ragu untuk bercerita apapun kepadaku. Karena, aku akan membantumu sebisaku." ujarnya nya mengusap kepala istrinya itu.
Elia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. dan setelahnya, mereka kembali menyantap makanannya memang sudah tersedia di hadapan mereka.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap adegan itu dengan Tatapan yang sangat tajam.
" tunggu tanggal mainnya gadis manis." gumam orang itu Seraya melangkah pergi dari sana.
****
" bagaimana? Apa kata dokter? pasti nggak bisa kan? Sudahlah Gavin, lebih baik turuti saja kemauan mama." ucap Hesti saat melihat Putra dan menantunya baru saja masuk ke dalam rumah.
"Mah, jaga bicaramu ya." tegur Ivan pada sang istri. Sementara Hesti yang mendengar itu, hanya memutar bola mata malas.
Kemudian, ikut duduk bersama suaminya dan kembali membaca majalah yang ada di tangannya itu.
" Mama salah. kata dokter, Elia akan segera sembuh dengan operasi yang akan dilakukan beberapa bulan lagi." ucap Gavin Seraya menatap lurus ke arah depan.
"Ck," Hesti yang mendengar itu, seketika berdecak kesal." ingat Gavin, waktu yang Mama berikan, kurang beberapa bulan lagi. dan jika hari itu tiba, kamu harus siap dengan semuanya." ucap Hesti Seraya melinggang pergi dari sana.
" apa Papa tidak bisa tegas sedikit dengan Mama? aku sudah merasa capek dengan semua ini." tanya Kevin Seraya menatap sang Papa dengan tatapan yang membahas.
Ivan yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang." Maafkan Papa Fin. Kamu kan tahu sendiri, mama itu punya masalah pada jantungnya. Jadi, Papa tidak bisa menegur terlalu keras." ucap Ivan dengan wajah yang begitu frustasi.
__ADS_1
Gavin yang mendengar itu, seketika hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian, dengan segera menarik dengan istrinya untuk masuk ke dalam kamar.