
Siang harinya, seperti biasa, Elia dan Bianca berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke kantin. karena dari tadi, perut Elia sudah berbunyi. Menandakan, bahwa wanita itu harus menyantap makanannya yang di berikan oleh ibu mertuanya itu.
" Bianca, Apakah kamu ingin makan masakan ibu mertuaku?" tanya Elia Seraya tangannya meraba kotak makanan yang akan ia buka itu.
Sementara Bianca yang mendengar itu, menggelengkan kepalanya." tidak usah nona, lagi pula, Saya ingin makan di kantin." ucapnya menolaknya dengan sopan.
Elia yang mendengar itu, menghela nafas panjang. Apakah statusnya kini telah berubah, sehingga orang-orang menjadi takut dan sungkan untuk berbaur terhadapnya.
Padahal, dulu Elia lah yang merasa terasingkan karena dia merupakan gadis kekurangan. Tapi lihatlah sekarang, Justru orang lain lah yang merasa terasingkan dengan dirinya.
Memang, terkadang kehidupan itu seperti roller coaster. bisa saja di atas dan bisa saja di bawah. jika di atas, janganlah kalian sombong. karena hidup hanyalah sementara. Namun jika kalian di bawah, Janganlah putus asa. karena kehidupan yang akan datang, kita tidak pernah tahu nasibnya seperti apa.
" jangan sungkan padaku Bianca. Jangan pernah melihatku siapa. Lihatlah aku sebagai orang biasa saja." ucapnya tersenyum manis dan penuh makna.
Sementara Bianca yang mengetahui arah tujuan pembicaraan wanita yang ada di hadapannya itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
" Iya nona, anda tenang saja." ucapnya tersenyum kikuk.
Elia Malah semakin keras menghela nafas." stop panggil aku seperti itu. karena aku merasa tidak nyaman dengan panggilan itu."
Bianca yang mendengar itu, hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Kemudian, mereka berdua mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja itu.
Walaupun sesekali, ada tatapan aneh dari para karyawan toko itu saat melihat bahwa kehadiran Elia di tengah-tengah mereka. nggak ada yang langsung menegurnya tanpa malu-malu.
__ADS_1
" Bianca, Siapa dia?" tanya seseorang wanita yang mungkin lebih muda dari Elia yang berdiri di depan kedua wanita itu.
Tentu saja, hal itu membuat Bianca yang menyadari itu segera melayangkan tatapan tajam ke arah wanita itu. Namun, bukannya mengerti, wanita cantik itu malah semakin menjadi dengan mencengkeram lengan Elia. hingga membuat Elia, sedikit meringis kesakitan.
" jaga sikapmu. atau kamu ingin terbebas dari pekerjaan ini?" tanya Bianca penuh dengan penekanan.
Sontak saja hal itu membuat wanita yang tadi mencengkeram lengan Elia seketika langsung menciut. Wajahnya, terlihat sangat pucat Pasi. dengan lelehan keringat yang terlihat membenci diri tubuhnya itu.
" Ma-af saya nggak seng-aja," ucapnya dengan suara terputus-putus. dan dengan segera, langsung lari tunggang langgang. Seperti seseorang yang baru saja melihat penampakan.
"dasar lancang." ucapnya menggerutu kesal. dan setelah itu, kembali menetap ke arah Elia yang masih meringis kesakitan.
" Nona Elia tidak apa-apa,?" tanya Bianca sedikit panik. Karena, terlihat sekali, memar yang ada di lengannya itu. Karena, saat ini, Elia hanya menggunakan kaos lengan pendek.
***
Sore harinya, di saat pekerjaan hampir selesai, tiba-tiba saja, seseorang datang menghampiri Elia. bukan Gavin. Melainkan, seorang wanita cantik dan mempesona.
Siapa lagi orangnya jika bukan Monalisa. wanita cantik itu, memandangi Elia dari atas sampai bawah dengan Tatapan yang begitu menghina.
" maaf. Nona mau mencari siapa?" tanya Bianca dari arah belakang. hingga membuat Monalisa seketika menoleh ke arah sumber suara.
" Monalisa." ucapnya dengan lirih. kemudian, dengan segera memasang ekspresi wajah biasa saja. Padahal, jelas sekali Bianca merasa sangat terkejut.
__ADS_1
Karena tak biasanya, Monalisa mau menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Tapi, Mengapa tiba-tiba wanita itu menginjakkan kakinya di tempat yang menurut Monalisa tidak lah selevel itu.
" Bianca, Lu kerja di sini?" tanya Monalisa sedikit meledek.
Entahlah, Mengapa Monalisa seperti mengejek orang yang berada di bawahnya itu. padahal, dirinya dulu juga berasal dari kalangan bawah. dan berkat suami baru Mamanya lah, yang bisa mengangkat derajat mereka.
Namun, ternyata seiring terangkatnya derajat seseorang, membuat pandangan mereka menjadi berbeda terhadap orang yang ada di bawahnya. Padahal, mereka tidak menyadari bahaya yang mengancam akibat kesombongan mereka sendiri.
" Iya Mon aku kerja di sini." ucap Bianca tersenyum tipis.
Monalisa semakin menatap sinis ke arah Bianca." nggak nyangka ya, ternyata mahasiswa Teladan di kampus gue, Memiliki pekerjaan rendah seperti ini." ucapnya Semakin menjadi.
Hal itu membuat Bianca yang mendengarnya, menghela nafas berkali-kali untuk meredakan amarah yang meledak di hatinya.
" Apakah kedatanganmu ke sini hanya untuk menghina? Jika iya, lebih baik kau pergi saja dari sini." ucap Bianca dengan nada yang sangat tegas.
"Cih, sombong banget. lu itu cuma karyawan. nggak usah sok." ucapnya mengeram kesal.
Bianca tak lagi menjawab perdebatan itu. Bisa-bisa, nanti malah dirinya terbawa emosi dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa-bisa dirinya sendiri yang akan merugi.
" Hai Adik tiriku yang paling cantik, bagaimana, Apakah penderitaan masih kurang?" tanya Monalisa Seraya menatap penuh kebencian kepada Elia yang masih berada di tempatnya itu.
"Ka-kak Mo-na," ucapnya sedikit gelagapan. Karena, Elia masih merasa ketakutan dengan perlakuan yang diperbuat oleh Kakak tirinya itu.
__ADS_1
Kemudian, Monalisa berjalan dengan perlahan menghampiri adik tirinya itu." ini belum seberapa. karena sebentar lagi, kau akan hancur." ucapnya berbisik tepat di telinga Elia.