
Selepas kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar, Gavin bukannya masuk ke dalam kamarnya, melainkan menemui Elia di Rumah Belakang.
Hal itu tentu saja membuat semua asisten rumah tangga yang ada di sana, seketika menundukkan kepala. karena merasa sungkan dan takut dengan anak majikan mereka itu.
" Elia di mana?!" tanya laki-laki itu dengan nada datar dan raut wajah yang sangat serius dan juga tegas.
" dia ada di kamar. tuan, sepertinya sedang istirahat." ucap salah satu dari mereka. Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala.
Dengan segera, laki-laki Tampan itu, melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar di mana para asisten rumah tangganya biasanya mengistirahatkan badan mereka. setelah seharian bekerja.
" Elia, Apa kau sudah tidur?" tanya laki-laki itu Seraya mengetuk pintu kamar.
Elia yang mendengar itu, segera bangkit dari posisi rebahannya." belum tuan, saya belum tidur." ucapnya dengan menurunkan kaki.
__ADS_1
"Ceklek," Gavin membuka pintu dari arah luar. dan dengan segera, laki-laki Tampan itu tersenyum manis ke arah Elia yang masih terduduk di tepi ranjang.
Dengan perlahan-lahan, Gavin melangkahkan kakinya mendekati gadis cantik Yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu. setelah saling berhadapan, Gavin baru menyadari sesuatu.
Jika ternyata, Elia begitu sangat cantik matanya yang indah bulu matanya yang lentik, bibirnya yang mungil, dan kulitnya yang Seputih porselen. membuat Gavin seketika terperangah.
" cantik banget," ucapnya Seraya masih menetap ke arah Elia tanpa mengedipkan Mata sedikitpun.
" Tuan bicara sama siapa?" tanya Gadis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kebingungan.
" Oh iya, Besok hari Minggu, kita akan melamar kamu kepada orang tuamu." ucap Gavin Seraya menatap ke arah Elia dengan tatapannya sangat lekat.
Seketika itu pula, tubuh Elia menjadi begitu ketakutan." tu-tuan serius?" tanya Gadis itu dengan nada yang terbata-bata.
__ADS_1
Gavin yang melihat itu, menautkan kedua alisnya karena merasa heran dengan tingkah gadis yang ada di hadapannya itu.
" kamu kenapa? kamu nggak mau ya, ingat ya Elia, kamu nggak boleh egois. karena di dalam sini itu, sekarang ada makhluk yang harus diperjuangkan. Walaupun, prosesnya dengan ketidaksengajaan. tapi tetap, dia tidak bersalah. yang bersalah itu aku." ucap Gavin mencoba mengingatkan gadis itu.
" aku tahu tuan, aku hanya tidak ingin diamuk oleh keluargaku nanti untuk yang kedua kalinya." ucap Elia dengan nada yang lirih.
Gavin yang mendengar itu, seketika tersenyum. dan dengan segera, membawa Gadis itu ke dalam pelukannya. kemudian, mengusap kepala Gadis itu dengan penuh kasih sayang.
" tenang saja, setelah kamu menjadi bagian dari keluarga ini, Aku berjanji akan selalu menjagamu sepenuh hati dan jiwaku." ucapnya dengan nada yang sangat lembut dan juga menenangkan.
Elia yang mendengar itu, menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis." Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku" ucapnya Seraya mendungak seperti seolah menatap Gavin.
Lama Elia dan Gavin terdiam, akhirnya Gavin mencoba untuk menanyakan sesuatu."euum, Elia Di mana ibu kandung kamu?" tanya laki-laki itu secara hati-hati.
__ADS_1
hal itu tentu saja membuat Elia yang awalnya tersenyum lebar, seketika menjadi sangat murung. dan Hal itu membuat Gavin merasa sangat bersalah.
" Maaf, aku nggak bermaksud untuk membuatmu bersedih." ucap Gavin dengan perasaan yang sangat tidak enak.