Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 102


__ADS_3

Bagaimana tidak, saat ini Elia tengah bercengkrama dengan Arman dan juga Justin dengan sesekali bercanda. dan malaikat sama sekali tidak menyadari jika seseorang telah datang dan masuk ke dalam cafenya.


"oh jadi ini Cafe milik kalian?"tanya Monalisa Seraya melangkahkan kakinya dua langkah lebih maju dari yang lain.


Tentu saja, hal itu membuat ketika anak manusia yang tengah berbincang-bincang itu, seketika menoleh ke arah sumber suara. dan serentak, mereka bertiga diam membisu.


"murahan!"sahut Hesti dengan tatapan tidak suka dan juga nada yang sangat sinis. sementara dua laki-laki berbeda generasi itu seketika hanya diam.


"ternyata memang benar yang Monalisa, wanita murahan itu cocoknya memang dengan laki-laki murahan juga,"ujar Hesti menghampiri menantu kesayangannya itu.


Membuat Monalisa yang mendengarnya, menganggukkan kepala. "selain murahan, dia memang sangat bodoh."ujar Monalisa ke arah adik tirinya itu.


"Stop!"


Seketikaitu juga, suara Elia menggema di ruangan Cafe itu. dan dengan segera berjalan perlahan menghampiri Monalisa yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"seharusnya kata-kata itu, lebih cocok untuk kamu kakak tiriku tersayang,"ujar Elia Soraya mencengkeram dagu Monalisa hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


Sepertinya Monalisa, tidak pernah menyangka jika adik tirinya yang terkenal lemah dan juga cengeng, dapat berbuat stragis itu.


"hei, gadis sialan lepaskan menantuku!"ujar Hesti mencoba menarik tangan Elia agar melepaskan dari dagu menantu kesayangannya itu.


Elia yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah mantan mertuanya dengan tatapannya sangat datar dan juga sedikit dingin. tentu saja, hal itu membuat Hesti yang melihatnya sedikit merasa gentar.


Namun hal itu segera ditepis oleh wanita paruh baya itu. dirinya tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.


"dengar kakakku sayang, yang harus mendapatkan gelar wanita murahan dan juga bodoh itu adalah dirimu sendiri,"ucapnya tersenyum misterius.

__ADS_1


"apa maksudmu? jangan pernah kau berkata sembarangan ya,"ujar Hesti yang masih mencoba melepaskan cengkraman itu.


"iyalah ibu mertuaku sayang, seorang wanita yang mengetahui laki-lakinya telah menikah namun masih mengejar dan menghalalkan segala cara, apa itu namanya jika bukan murahan dan juga bodoh?"tanya Elia menu hok hati dan jantung kedua wanita berbeda generasi itu.


"hei aku tidak pernah melakukan,--" " ucapan Monalisa terhenti di udara saat mendengar sahutan dari adik tirinya itu.


"jangan berpura-pura bodoh kakakku sayang, bukankah kau tahu kalau Mas Gavin itu sudah beristri. dan kau sendiri kan yang menolak lamaran itu, lantas kenapa sekarang malah kau mencoba menyingkirkanku?"tanya Elia penuh arti.


Karena memang Monalisa bukan hanya pertama kali ini saja mencoba menyingkirkan kedudukan dan posisi Elia. jika dulu gadis Malang itu tidak bisa berbuat apa-apa saat tersingkir dari keluarga dan hati sang ayah, namun tidak untuk saat ini.


Elia akan mengajari bagaimana rasanya disingkirkan oleh seseorang. walaupun nantinya, Elia tidak akan pernah kembali dengan Gavin. Elia hanya ingin memberikan pelajaran pada kakak tirinya saja. bahwa merampas hak milik orang lain itu tidak akan pernah tenang dan bahagia.


"dasar gadis sialan!"


Brugh


Hesti mendorong tubuh Elia hingga gadis itu seketika terpelanting dan menghantam kerasnya lantai dengan sangat kuat. hingga membuat Elia, mengerang kesakitan.


"dasar gadis sinting sialan!"maki Hesti Seraya mencoba menenangkan menantu kesayangannya yang tampaknya telah mengerang kesakitan akibat cengkraman kuat di dagunya itu.


"ayo kita pulang!"ucap Hesti Seraya menarik tangan menantunya. membuat Ivan dan juga Gavin yang mendengarnya, hanya mengangguk patuh. entah apa yang dipikirkan oleh kedua laki-laki itu hingga tidak meraih keributan yang terjadi di hadapan mereka.


Namun, sebelum keluar dari Cafe itu, Gavin menyempatkan diri untuk menoleh ke arah belakang. dan mendapati pemandangan yang melukai hatinya. di mana Elia tengah dibantu oleh kedua mantan sahabatnya.


*****


sesampainya di rumah, Monalisa dan juga Hesti tak henti-hentinya memaki dan mengumpat karena kejadian itu. sementara Ivan dan juga Gavin, memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor masing-masing. Karena memang kedua laki-laki itu tidak ingin mendengar ocehan dari kedua wanita itu.

__ADS_1


"mah pokoknya aku marah ya,"ujar Monalisa Seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"sabar sayang kita harus bermain cantik untuk menghancurkan gadis itu."ucap Hesti mencoba untuk menenangkan menantu kesayangannya itu.


"kasih sertifikat rumah ini sama aku Mah," tiba-tiba saja Monalisa berkata seperti itu dengan menatap wajah wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.


"buat apa sayang?"tanya Hesti dengan raut wajah kebingungan.


"emm," Monalisa mulai gelagapan dibuatnya. namun tak lama kemudian, wanita itu memiliki ide yang sangat cemerlang.


"supaya Elia pasti akan langsung meninggalkan Mas Gavin saat mengetahui dia tidak memiliki apa-apa. dan setelah itu, rumah ini akan aku kembalikan atas nama mama"ucap Monalisa mencoba menyakinkan mertuanya itu.


Hesti yang mendengar itu, segera tersenyum lebar dan dengan segera, mengambil surat yang terdapat di dalam kamarnya.


*****


Sementara itu di dalam kafe milik Elia, terlihat gadis cantik itu tengah mengobati lukanya akibat berkelahi dengan mantan Ibu mertuanya dan juga kakak tirinya.


"kenapa menangis Elia, apa kamu merasa menyesal telah meninggalkan Gavin?"tanya Arman Soraya duduk di samping gadis itu.


Elia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. "bukan, bukan itu yang tengah aku pikirkan."ucap Elia dengan ada yang sangat lirih.


"lalu?"


"aku hanya menyalahkan takdirku kenapa sedari dulu aku tidak pernah merasa bahagia?"tak terasa Elia menitihkan air matanya.


"jika kamu merasa menderita, cobalah lihat orang-orang yang di bawah kamu. dan pastinya nanti, kamu akan merasa sangat bersyukur."ucap Arman bijak. dan setelahnya pergi meninggalkan Elia seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2