Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 95


__ADS_3

Setelah proses pernikahan itu selesai, Monalisa segera diboyong ke kediaman kedua orang tuanya. dan sepanjang perjalanan itu, Hesti tak henti-hentinya memeluk menantu kesayangannya itu. dan sesekali, memeluk wanita itu.


Tampak sekali, jika Monalisa merasa sangat risih saat wanita paruh baya itu menyentuh kulitnya. Namun, dirinya harus bersabar dan menerima semua ini untuk menggapai tujuannya yang lebih indah.


Tak lama berselang, Akhirnya mobil yang ditumpangi oleh keluarga Harsono, telah sampai di depan rumah mewah itu.


Hesti segera menggandeng menantunya untuk segera turun dan membawanya ke dalam rumah. sementara Gavin dan Ivan, hanya mengikuti dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, keluarga Harsono segera duduk dan bersantai di dalam ruang tamu. Untung saja, mereka semua telah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai setelah acara itu selesai.


Membuat mereka tidak bersusah payah untuk mengganti pakaian kembali. Hesti mendekati Monalisa yang sepertinya tengah kelelahan itu.


"apa kamu lelah sayang?"tanya wanita paruh baya itu Seraya mengusap lembut kepala Monalisa.


Jika biasanya seorang menantu akan merasa sangat bahagia jika diperhatikan oleh ibu mertuanya, itu tidak berlaku untuk Monalisa. karena gadis seksi itu, malah merasa sangat risih dengan sikap wanita paruh baya yang ada di hadapan yaitu.


Ingin sekali, Monalisa menyingkirkan wanita tak berguna yang ada di hadapannya itu. tapi dia harus ingat dengan tujuan awalnya menikahi seorang Gavin Harsono.


"aku tidak apa-apa Mah,"ucap Monalisa Seraya tersenyum semanis mungkin. agar mereka semua, tidak mencurigainya terlebih dahulu.


"kau pasti lelah kan, lebih baik kau istirahat saja. Gavin, bawa istrimu ini ke kamar kalian." ucap Hesti pada putranya. dan hal itu langsung dijawab anggukan oleh laki-laki tampan itu.


*****

__ADS_1


"aku akan kembali bekerja, kau istirahat saja dulu di sini."ucapkan saat melihat Monalisa telah berbaring di atas kasur.


Membuat Monalisa yang mendengar ucapan dari suaminya itu, segera bangkit dan meraih tangan laki-laki itu.


"apa kau tidak ingin menikmati malam pertama kita sayang?"tanya Monalisa dengan suara yang sangat seksi.


"tidak aku tidak ingin mengganggu istirahatmu. Lagi pula, masih ada hari-hari berikutnya."ucap Gavin terlalu pergi dari sana.


Setelah mengatakan hal itu, Gavin segera berlalu meninggalkan kamar pribadinya.


"kau mau ke mana Gavin?"tanya Hesti yang melihat putranya berjalan dengan sangat tergesa-gesa.


"maaf Mah, Pah, aku harus kembali bekerja. karena siang ini, ada klien penting yang ingin menanamkan berbagai bibit bunga dan juga ikan ke perusahaan Gavin."ucapnya dengan memperbaiki dasi.


"maaf Mah, pernikahan Gavin kali ini kan masih rahasia, lagi pula kan, Gavin belum menceraikan Elia. apa jadinya jika para investor tahu jika Gavin mempunyai istri lebih dari satu?"tanya laki-laki tampan itu kepada sang ibu.


"huh, ya sudah kalau begitu. tapi jangan lupa, segera kau urus perceraianmu dengan gadis itu,"ucap Hesti dengan nada yang sangat ketus.


Gavin yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. memang, antara patuh dan bodoh itu beda tipis. membuat Gavin, seperti merasa kesulitan untuk melawan ibunya sendiri. dan pasti akan terasa, jika sesuatu telah terjadi.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat Elia tengah terduduk lemas di sebuah taman kota Di kota itu. gadis itu tengah merenungi nasibnya yang begitu buruk ini.

__ADS_1


Ingin sekali, dirinya mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun, pendidikan yang tidak Elia punya akibat kecelakaan dan juga kondisi fisiknya yang sempat tidak membaik, membuat gadis itu minim pendidikan.


"kamu ngapain Di sini?"tanya seseorang yang menurut Elia, suaranya sangat familiar. membuat gadis itu seketika mendongak.


"kak Arman, ngapain Di sini?"tanya gadis itu Saraya beranjak dari duduknya.


Arman yang mendengar itu, segera tersenyum simpul Seraya mengusap kepala Elia dengan perasaan sayang. "ditanya kok malah tanya balik?"tanyanya pada gadis itu.


Elia yang mendengar itu, menggelengkan kepala. "oh ya kak Arman, apakah ada tempat penginapan yang murah?"tanya gadis itu berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Mendengar ucapan dari Elia, membuat Arman seketika terkejut."memangnya, Gavin tidak memberi uang dan tempat tinggal?"tanya Arman yang tidak mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi gadis itu.


Namun, tidak ada jawaban dari Elia. membuat laki-laki itu segera memberikan alamat pada Elia.


"udah nggak usah sedih, ini aku punya alamat rumah yang sudah tidak pernah aku pakai. kamu datang aja ke sini. dan kalau mau ditempati, tolong dibersihkan lebih dahulu. "ujarnya Seraya kembali merogoh saku celananya.


"dan ini ada sedikit uang,"ucap laki-laki itu Seraya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.


Elia yang mendengar dan melihat itu, seketika merasa sangat terharu."terima kasih ya kak, nanti kalau aku sudah bekerja lagi, aku akan mengganti semua uang kakak."ucap Elia Seraya sedikit terisak.


Arman yang mendengar itu seketika, tersenyum manis."tidak usah dipikirkan aku ikhlas kok, ya udah kalau gitu aku mau balik kerja dulu bye bye,"ucapnya Seraya melambaikan tangan.


Elia yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala. dan membalas lambaian tangan dari Arman. Setelahnya, segera menuju ke tempat yang telah diberitahu oleh laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2