
di sepanjang perjalanan, Elia tak henti-hentinya menangis. Gadis itu bahkan sampai sesekali mencakar-cakar tubuhnya sendiri. karena merasa tubuhnya telah ternodai dan tidak Suci lagi.
Hal itu tentu saja membuat Marsha dan Sonya, seketika Saling pandang. Entah mengapa, mereka berdua, juga ikut merasa sedih. dan merasa bersalah dengan apa yang menimpa gadis itu.
Sementara Monalisa, masih saja tertidur pulas. dan seakan, tak terusik dengan suara isakan tangis yang terdengar menggema itu.
hal itu tentu saja membuat Sonya yang ada di samping Elia, seketika mendekat tubuh gadis malang itu.
" sudah Elia, kamu tenang saja. semua akan baik-baik saja" ucap Sonya Soraya mengusap bahu gadis itu. Elia yang mendengarnya, seketika mendongak menatap ke arah Sonya. walaupun Gadis itu tak dapat melihat wajah cantik orang yang memeluknya. Namun, setidaknya saat ini Elia Tengah berhadapan dengan wajah gadis itu.
" Bagaimana kalau aku Amin Kak?" celetuk Elia tiba-tiba. hal itu sukses membuat Sonya dan juga Marsha, seketika Saling pandang.
Lalu, mereka berdua saling menulis pesan di ponsel masing-masing.
Marsha: gimana nih Sonya, Gue merasa kasihan sama nih anak.
ucap Marsha, Soraya menatap ke arah Elia yang masih berada di dalam dekapan Sonya. sementara Sonya yang mendengarnya, seketika berbisik di telinga sahabatnya itu.
" Sudahlah, nanti gue akan bilang pada Gavin. supaya dia, mau bertanggung jawab." ucap Sonya Seraya menatap iba ke arah Elia yang telah menangis sesenggukan. tak lama berselang, terlihat Monalisa seperti Tengah menggeliat.
Sontak saja, Hal itu membuat Sonya yang dari tadi mendekat tubuh Elia, Seketika mendorong Gadis itu sedikit kasar. hal itu tentu saja membuat Elia, merasa kebingungan dengan tingkah sahabat kakaknya itu.
" eh kita ada di dalam mobil?" tanya Monalisa Seraya menatap ke sekelilingnya. dan setelahnya, Gadis itu menatap Elia dengan ekspresi wajah keheranan." ngapain lu nangis?" tanya Monalisa dengan nada kembali Ketus.
"hiks hiks hiks aku kotor Kak." ucapnya dengan menangis terisak. Setelahnya, Elia kembali menangis tersedu-sedu.
Mendengar ucapan dari adik tirinya itu, seketika itu pula, membuat Monalisa terdiam sejenak. Kemudian, dengan segera melempar pandangan ke arah kedua sahabatnya. seperti meminta penjelasan pada kedua gadis itu.
__ADS_1
" dia baru aja di "sentuh" oleh laki-laki." ucap Marsha dengan berbisik ke telinga Monalisa. seketika itu pula, ucapan dari sahabatnya itu, membuat Monalisa tersenyum lebar.
" akhirnya, gue bisa nyingkirin lu juga dari kehidupan dan menguasai harta suami Ibu gue." ucapnya dalam hati dengan nada sinisnya.
Setelahnya, Gadis itu melengos menatap ke arah lain. seakan tak memperdulikan penderitaan yang dialami oleh Elia. Padahal, penderitaan itu berawal dari ulah dari wanita yang bernama Monalisa Liliana itu.
Sementara Elia, gadis cantik itu masih saja menangis dengan sesenggukan. hal itu tentu saja membuat Monalisa yang mendengarnya, merasa sangat terganggu. karena memang gadis itu, sangat membenci adik tirinya itu.
" Diamlah nggak usah nangis-nangis!" ucap Monalisa dengan menaikkan satu oktaf suaranya. hal itu seketika membuat Elia terdiam membisu. Sepertinya, Gadis itu merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh kakak tirinya itu.
Sementara Marsha dan juga Sonya yang mendengarnya, seketika membuang muka. karena mereka berdua, sangat tidak tega melihat kondisi dari Elia.
*****
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di dalam klub itu, terlihat seorang laki-laki tampan dan mudah, Tengah tertidur lelap di atas ranjang. Nampaknya, laki-laki itu tidak menyadari bahwa dirinya, baru saja melakukan perampasan kepada gadis yang tidak berdosa.
tak berselang lama, terdengar langkah kaki yang berlari menuju ke arah kamar yang ditempati oleh laki-laki itu.
" Justin Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arman panik. Karena, terlihat di samping tubuh polos laki-laki itu, terdapat noda merah yang menempel pada sprei.
Seketika itu pula, Justin dan Arman saling berpandangan. dan dengan secepat kilat, mereka berdua segera menutupi tubuh tanpa benang milik Gavin itu. dan dengan segera, mengenakan pakaian itu hingga kembali melekat pada tubuh Gavin.
" kita harus segera pergi dari sini." ucap Arman dengan wajah paniknya. begitupun juga dengan Justin. kedua laki-laki itu segera membopong tubuh sahabat mereka keluar dari bangunan itu.
****
" Bagaimana ini Arman, Apa yang akan kita katakan pada Gavin?" tanya Justin dengan sangat khawatir.
__ADS_1
Arman yang mendengarnya, seketika menggilingkan kepala." aku juga tidak tahu Justin. tapi yang jelas, kita harus menemukan siapa wanita itu." ucapnya Seraya menatap datar ke arah depan.
Justin yang mendengarnya, seketika hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.
" kita bawa saja Gavin ke apartemen." celetuk Arman melirik ke arah sahabatnya yang masih tak sadarkan diri.
" hmm sepertinya, itu lebih baik. daripada, kita membawa Gavin pulang. Bisa-bisa, kita akan dicincang oleh tante Hesti. kalau sampai, kita membawa Gavin pulang dalam keadaan seperti ini." ucap Justin menimpali.
Akhirnya setelah kesepakatan bersama, Justin dan Arman membawa tubuh tak sadarkan diri milik Gavin, ke apartemen mereka berdua.
Memang saat mereka sedang asyik menikmati malam panjang di sebuah klub, baik Arman maupun Justin, tidak pernah sekalipun pulang ke rumah. Karena mereka tahu, pasti keluarga mereka akan marah besar.
Karena memang benar, baik Justin maupun Arman, sama seperti Gavin. mereka berdua, sebetulnya sama-sama anak mami. yang selalu dimanja dan juga dilimpahkan kasih sayang bak seperti anak kecil.
Namun tidak seperti Gavin yang tidak berani membantah, Arman dan juga Justin justru bersikap sebaliknya. bahkan kedua laki-laki itu, memilih untuk tinggal di tempat yang terpisah dari kedua orang gua masing-masing.
****
tak lama berselang, mobil yang ditumpangi oleh ketiga laki-laki itu, kini telah sampai di parkiran sebuah apartemen menengah ke bawah.
Mereka berdua, segera membopong tubuh lemas sahabatnya untuk masuk ke dalam apartemen. sesampainya di dalam apartemen itu, Justin dan Arman, segera membanting tubuh Gavin di atas sebuah sofa.
" gila berat banget badan ini bocah" gerutu Justin Seraya duduk di samping Arman. sementara Arman yang mendengarnya, hanya terkekeh pelan.
" Gue laper banget." ucap Arman Seraya mencari sesuatu yang bisa dimakan di dalam apartemen itu. Kemudian, matanya menatap ke sebuah kotak yang tergeletak di atas meja.
" Jangan sentuh makanan itu. itu punya adik gue." ucap Justin menghentikan langkah sahabatnya itu.
__ADS_1
Nb : Mampir ya kak, di novel karya temen aku bagus lho ceritanya