
Tak lama berselang, Gavin telah berada di rumah kediaman orang tuanya. laki-laki tampan itu langsung berlari menuju ke arah kamar sang ibu.
"apa yang terjadi?"tanya Kevin dengan nada yang sangat panik.
"saya tidak tahu tuan, tapi yang jelas sebelum Nyonya pingsan, beliau sempat memanggil nama Nyonya Monalisa dengan nada yang sangat tinggi."ujar salah satu pelayan Seraya menundukkan kepala.
Tak lama berselang, terdengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah kamar ibunya. dan tak berselang lama, muncul Ivan dari balik pintu.
"apa yang terjadi dengan ibumu?"tanya laki-laki paruh baya itu pada Sang putra.
"entahlah Pah, tapi aku tidak tahu. aku juga berada di kantor, dan setelahnya pelayan itu menelponku"ujar laki-laki tampan itu Seraya menunjukkan arah salah satu pelayan yang masih berada di sana.
Pelayan itu mendongakkan kepala saat namanya disebut oleh Ivan.
"Rossi, coba kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,"Pinta Ivan pada pelayan wanita itu.
"saya tidak tahu tuan. tapi yang jelas, sebelum Nyonya pingsan, beliau sempat berteriak memanggil nama Nyonya Monalisa!"jelas Rossi dengan raut wajah yang sangat serius.
Ivan yang mendengar itu, segera mengangguk-anggukkan kepala."baik kalau begitu, kamu tolong panggilkan dokter keluarga ini,"ucap Ivan pada pelayan itu. dan dengan patuh langsung disanggupi oleh Rossi.
"coba kita lihat CCTV,"ujar Gavin saat mereka telah sama-sama terdiam cukup lama.
"papa setuju!"ujar Ivan Seraya berjalan mendahului putranya.
Di sepanjang perjalanan menuju ruang CCTV atau ruang keamanan, mereka sesekali berbincang-bincang. "jadi bagaimana, apa kamu berhasil mendapatkan Elia kembali?"tanya laki-laki paruh baya itu pada putranya.
Membuat Gavin yang mendengar itu, menggelengkan kepala dengan raut wajah yang sangat lesu.
"Gavin belum berhasil mendapatkan hati Elia kembali, tapi Gavin berjanji bagaimanapun caranya Gavin harus mendapatkan Maaf dari gadis itu."gumamnya penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Yap, Ivan setelah mengetahui semuanya. semua rencana yang dibuat oleh istrinya dan itu diceritakan langsung oleh Gavin lewat sambungan telepon. dan Ivan pun, mengira jika sakit yang diderita oleh Hesti itu, adalah akibat dari pertengkaran mereka. Namun ternyata, dugaan laki-laki paruh baya itu salah besar. karena ternyata ada orang asing yang membuat istrinya menjadi seperti ini.
"jangan terlalu dipaksakan, mungkin memang jodoh kalian memang hanya sampai di sini,"ujarnya memberi nasehat.
Gavin yang mendengar itu seketika menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat lekat. "tapi aku masih sangat mencintainya Pah, aku belum ingin kehilangan dia."ujarnya dengan raut wajah yang sangat memelas.
"bersabarlah, jika kalian memang masih ditakdirkan untuk berjodoh, maka Elia akan kembali padamu. namun jika tidak, kau harus siap dengan semua kenyataan yang ada,"ujar laki-laki paruh baya itu Seraya berjalan mendekati komputer yang ada di ruangan keamanan.
Suasana menjadi sangat sunyi. karena dua laki-laki berbeda generasi itu, tengah sibuk mengamati rekaman demi rekaman yang tertangkap dari kamera pengintai rumah itu.
"sialan!"maki Gavin saat laki-laki tampan itu baru saja menyelesaikan sebuah video rekaman.
"sudah papa duga, wanita itu pasti hanya mengincar harta kita saja."ujar Ivan Seraya menghela nafas panjang.
tok tok tok
Suasana kembali tenang saat mereka berdua mendengar sebuah ketukan yang berasal dari luar pintu.
Gavin dan Ivan yang mendengar itu, segera melangkahkan kaki untuk menuju ke kamar Hesti.
"bagaimana keadaan istri saya, Dok?"tanya Ivan saat mendapati dokter itu telah selesai memeriksa keadaan Hesti.
"Dia hanya syok saja Tuan, sebentar lagi Nyonya Hesti juga akan sadarkan diri kok,"ucap dokter laki-laki itu Seraya menyerahkan resep kepada Gavin.
"tolong ini diminumkan setiap hari agar mentalnya tidak terguncang lagi."ujar dokter itu. dan setelahnya, pamit undur diri.
Sesaat setelah dokter itu pergi, Hesti mulai menggerakkan anggota tubuhnya. dan tak berselang lama, mata wanita paruh baya itu terbuka.
"Monalisa, di mana wanita sialan itu? kembalikan sertifikat rumahku!!"teriak wanita paruh baya itu dengan tubuh bergetar hebat.
__ADS_1
Gavin yang mendengarnya, langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.
"tenang mah, Gavin akan mengusahakan semuanya."ucap laki-laki tampan itu Seraya mengusap punggung ibunya.
Hesti yang mendengar itu, seketika mendogak ke arah putranya dengan lelehan air mata yang membasahi wajah keriputnya itu.
"maafkan mama Gavin, Mama menyesal karena telah menerima wanita ular itu ke dalam keluarga kita,"ucapnya dengan sesungguhkan.
"sudah lah Mah, jangan dipikirkan terlalu dalam. biar itu menjadi urusan Gavin dan papa."ucapnya Seraya kembali merebahkan tubuh sang ibu ke atas kasur.
****
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di cafe milik Elia, terlihat gadis cantik itu baru saja mengantarkan kedua teman barunya untuk pulang. siapa lagi jika bukan Sonya dan juga Marsha.
"Elia,"panggil seseorang dari arah belakang. hingga membuat gadis itu seketika menoleh.
"Kak Arman, ada apa?"tanya Elia dengan raut wajah kebingungan.
Terlihat wajah laki-laki sedikit gondrong itu, sangat gelisah hingga membuat Elia semakin merasa keheranan.
"mamanya Gavin jatuh sakit akibat ulah kakak tirimu,"ujar Arman dengan nada yang sangat hati-hati.
Elia yang mendengarnya, tentu saja merasa sangat terkejut. "apa? baiklah kalau begitu, aku ingin ke sana. aku izin ya,"ucap Elia pada Arman.
"silakan saja,"ucap laki-laki berambut panjang itu, dengan senyuman kecil.
Tak butuh waktu lama, Elia segera melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan taksi yang biasanya lewat.
"nanti aku akan segera pulang Kak,"ujar Elia saat gadis itu telah masuk ke dalam sebuah taksi yang baru saja berhenti.
__ADS_1
Arman yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala.