Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 101


__ADS_3

Beberapa hari setelah pembukaan restoran milik Elia dan teman-temannya, mereka semakin disibukkan dengan kegiatan baru. karena restoran itu semakin lama semakin ramai. tentu saja hal itu membuat Elia tersenyum bangga. karena akhirnya dirinya bersama dengan yang lain, dapat berdiri di kaki sendiri.


"bagaimana Elia, apakah pesanannya sudah siap?"tanya Arman yang masuk ke dalam area dapur untuk mengecek semua makanan apakah sudah siap atau belum.


"sudah Kak, semuanya sudah siap. ini yang meja nomor satu, ini nomor 2 dan ini nomor 5."ucap Elia Seraya menunjuk beberapa menu yang ada di depan mereka.


Arman yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala dan dengan segera meletakkan semua menu itu di atas nampan.


"kalau gitu, aku pamit dulu ya,"ujar Arman Seraya tersenyum tipis. dan hal itu diangguki oleh Elia.


Mereka bertiga, saat ini bahu membahu membangun restoran itu agar ramai kembali. dan nama restoran itu pun, diubah dari nama yang sebelumnya. dan juga memberikan nuansa berbeda terhadap bangunan itu. dan saat ini, satu persatu pengunjung mulai berdatangan ke restorannya.


"Elia aku minta satu gelas jus dong,"tiba-tiba saja, suara Justin membuat lamunan gadis itu seketika terbuyarkan.


"eh kak Justin, ngagetin aja." ucapnya Seraya mengusap dada karena merasa sangat terkejut dengan kedatangan laki-laki itu.


Justin yang mendengar itu seketika terkekeh pelan."kamu yang aneh padahal aku aku cuma manggil gitu aja. kok udah kaget?"tanya laki-laki itu Seraya menaikkan satu alisnya.


"pasti lagi ngelamunin mantan,"sahut Arman dari arah belakang. membuat kedua orang itu seketika menoleh ke arah sumber suara.


"enggak ya, enak aja"Ayah memanyungkan bibirnya. membuat kedua laki-laki tampan itu seketika terkekeh pelan.


"semua udah beres apa belum?"tanya Elia mencoba untuk mencari topik selain membahas tentang laki-laki itu.


Karena menurutnya, tidak ada gunanya juga membahas tentang seseorang yang telah membuang kita Dan mencampakkan kita seperti sampah.

__ADS_1


"sudah semuanya sudah selesai,"ucap Justin Soraya mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah pantry. hal itu disusul oleh Arman yang juga ikut duduk di sebelah Justin.


Elia yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala dan ikut duduk diantara kedua laki-laki tampan itu m


"nggak nyangka ya, baru beberapa hari buka udah ada pelanggan tetap yang menempati cafe ini,"ucap Elia tersenyum simpul.


"itulah yang namanya kerja keras. nggak sia-sia kan, kita merenovasi kecil-kecilan bangunan ini. ternyata bisa menarik pelanggan secepat ini."ujar Justin Seraya tersenyum bangga.


"gimana kalau kita pasang poster di sosial media,"ucap Arman memberikan usul.


Membuat Justin dan Elia yang mendengar itu seketika mengangguk setuju."aku setuju, tapi,-"ucapan gadis itu terhenti seiring dengan kepalanya yang menunduk ke bawah.


"kenapa?"tanya Arman dan Justin secara bersamaan.


"aku nggak punya HP dan juga nggak ngerti cara main sosial media,"ucap Elia polos. tentu saja, hal itu membuat kedua laki-laki tampan itu terkekeh pelan.


"ini apa Kak?"tanya Elia pada laki-laki itu.


"itu ponsel milik adikku yang sudah tidak terpakai. semuanya masih bagus kok, kamu tinggal pakai aja,"ucapnya Soraya tersenyum tipis.


"yakin ini buat aku?"tanya Elia dengan raut wajah tidak percaya dan juga pancaran mata yang benar-benar.


"iya Elia, ini buat kamu. soalnya adikku udah punya ponsel baru,"ujar Justin tersenyum simpul.


"huh katanya nggak punya uang, tapi bisa membelikan HP baru untuk adiknya,"ucap Arman menyindir sahabatnya itu.

__ADS_1


" gak punya uang versi orang lain itu kan berbeda-beda,"ujar Justin membela diri. dan terdengar Arman mendengus kesal. membuat Elia yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan.


"ajarin caranya dong Kak,"pinta gadis polos itu. dan langsung disanggupi oleh Arman. mumpung cafe milik mereka sedang sepi pelanggan. jadi mereka bisa sedikit berleha-leha.


*****


Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di rumah kediaman Harsono, terlihat semua orang tengah terduduk di kursi meja makan untuk menikmati sarapannya.


"gimana kalau kita pergi makan ke cafe yang baru buka?"tiba-tiba saja, Monalisa berucap dengan meletakkan sendok dan garpu di atas meja.


Tentu saja ucapan dari wanita itu, membuat semua orang yang ada di ruangan itu, mendunga dan menatapnya dengan wajah yang serius.


"oh ya, ya udah ayo kita pergi!"ujar Hesti dengan nada yang sangat antusias. sementara Ivan dan juga Gavin, dua laki-laki itu hanya menurut saja. toh tidak ada gunanya juga untuk menolak. karena pasti ujung-ujungnya mereka akan dipaksa.


Akhirnya, keluarga dari Harsono berangkat menuju tempat yang dituju. dan tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi, telah berada di halaman cafe itu.


Degh


Jantung Gavin seketika berdetak cukup kuat saat menyadari sesuatu. "bukankah ini,-" belum sempat laki-laki tampan itu melanjutkan ucapannya, tangannya telah terlebih dahulu ditarik oleh Monalisa.


"ayo sayang kita masuk,"ucap wanita itu Seraya menggelayut manja di lengan Gavin.


sreek,..


Tepat saat mereka menggeser pintu Cafe itu, sebuah pemandangan langsung tersaji di hadapan mereka.

__ADS_1


"Elia,"ucapnya dengan raut wajah merah padam. sementara yang lainnya, juga ikut mematung di tempatnya.


__ADS_2