
Nella yang mendengar pernyataan dari Elia, menautkan alis karena merasa kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan oleh gadis yang sudah ia anggap seperti Adiknya sendiri itu.
" Memangnya kau mau ke mana Elia?" tanya Nella menatap ke arah gadis itu.
" dia akan segera menjadi bagian dari keluarga Harsono." belum sempat Elia membuka mulut untuk bersuara, Gavin sudah terlebih dahulu berbicara.
Degh
seketika itu pula, jantung Nella seperti ingin lepas dari tempatnya. saat wanita cantik itu, mendengar berita yang menurutnya, begitu mengejutkan itu.
"a-apa maksudnya?" tanya wanita itu dengan ucapan terbata-bata. Dedenya terasa sangat sesak. saat mendengar, perkataan yang menurutnya, begitu menyesakkan dada.
Manohara yang melihat bosnya seperti orang yang kehilangan arah, seketika menangkap dan menyangga tubuh Nella yang hampir ambruk.
__ADS_1
" Nona tidak apa-apa?" tanya Manohara Seraya membawa wanita itu untuk segera duduk.
Sementara Gavin yang melihat itu, hanya terdiam Seraya memandang wanita yang pernah ada di dalam hatinya itu,
" nona, Apakah Nona Nella baik-baik saja?" tanya Elia Seraya meraba benda-benda yang ada di hadapannya itu.
Dengan cekatan Gavin segera meraih dan menarik tangan mungil itu." sudah dia baik-baik saja, sebaiknya, kita segera pergi dari sini." ucapnya Seraya menarik tangan Elia untuk keluar dari dalam restoran tersebut.
Elia yang mendengar itu, sebenarnya merasa kebingungan dengan apa yang terjadi. Namun, Gadis itu tidak berani untuk bertanya kepada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
" Nona Nella baik-baik saja?" tanya Manohara Seraya menepuk bahu wanita cantik itu. Mendengar pertanyaan dari karyawannya itu, hanya dijawab anggukan oleh Nella.
" kamu memang benar-benar keterlaluan Elia!" ucapnya Seraya mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1
Entah apa yang merasuki wanita cantik itu hingga membuatnya menjadi jahat seperti ini. Sejujurnya, pada hakikatnya, manusia itu mudah dihasut oleh hal-hal yang bersifat negatif.
Sama halnya dengan apa yang dialami oleh Nella. wanita yang awalnya sangat baik kepada Elia, kini malah menatap gadis Malang itu dengan Tatapan yang sangat tajam penuh dengan kebencian.
****
Sementara itu di depan sebuah butik ternama di kota itu, Elia dan Gavin baru saja turun dari dalam mobil. Saat, laki-laki itu hendak melangkah untuk memasuki ke dalam butik itu, Tangan Mungil Elia menarik lengan Gavin dengan secara tiba-tiba.
Tentu saja hal itu membuat Gavin seketika menoleh Seraya menautkan alis karena merasa kebingungan dengan tingkah wanita yang akan menjadi istrinya itu.
" Ada apa Elia? Kenapa Wajahmu seperti tegang begitu?" tanya Gavin Seraya memperhatikan raut wajah dari gadis itu.
Elia yang mendengar pertanyaan itu, seketika menggelengkan kepala." tidak ada Tuan, Saya hanya merasa takut." ucap Elia dengan nada yang sangat Lirih.
__ADS_1
Gavin yang mendengar ucapan dari Elia, seketika hanya dapat menghela nafas panjang. Sudah berapa kali laki-laki itu berkata, Jangan pernah Panggil tuan.
" Elia, Sudah berapa kali saya bilang. Jangan pernah panggil saya tuan, karena saya bukan Tuan kamu, Saya sebentar lagi akan menjadi suami kamu. Jadi, biasakan memanggil saya dengan sebutan "Mas" ucap Gavin Seraya memegang kedua pundak Elia.