Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 111


__ADS_3

Mendengar ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu, membuat Elia seketika tersenyum sinis.


"kenapa Nyonya baru menyadari Dan menganggap saya sebagai Putri nyonya? setelah hampir belasan tahun Anda menghilang?"tanya Elia dengan suara tercekat.


Karena sebenarnya gadis cantik itu merasa tidak kuasa untuk mengatakan kalimat itu. namun rasa sakit yang menghantam dadanya, membuat Elia sedikit berani untuk berkata-kata kasar.


Sementara itu, wanita paruh baya yang baru saja mendengar perkataan dari putrinya itu, seketika menundukkan kepala.


"maafkan Mama sayang, sungguh mamah benar-benar menyesal karena telah meninggalkan kamu."ucap wanita paruh baya itu penuh dengan penyesalan.


Elia yang mendengar itu, semakin menatap tajam ke arah ibu kandungnya itu. sepertinya, rasa hormat dari dalam gadis itu, perlahan-lahan mulai terkikis seiring dengan perlakuan yang diterima oleh Elia.


"Maaf saya masih ada banyak urusan nyonya, jika anda tidak memiliki kepentingan lain, saya permisi ke belakang dulu."ucap gadis itu dengan langkah yang sangat cepat. tanpa menyadari ataupun menghiraukan reaksi dari wanita paruh baya itu.


Hatinya terlalu sakit, jika mengingat tentang semua perlakuannya ditunjukkan oleh wanita yang masih menjadi ibu kandungnya itu.


"aakkkhhh aku benci situasi ini!"teriak gadis itu saat berada di dalam kafe itu. Elia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak akibat dari semua masalah yang menimpa kehidupanya itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja seseorang datang dan menarik tubuh Elia. membuat gadis itu tersentak kaget. dan meronta saat orang itu memeluknya dengan erat.


"jangan pernah menangis"ucap orang itu berbisik di telinga Elia. membuat gadis itu seketika mendongak dan mendapati Arman memeluknya dengan erat.


Sejenak, tatapan mata kedua, anak manusia itu saling bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Arman mengangkat degu gadis itu dan mengusap air matanya.


"jangan pernah menangis, jika kamu tidak atau belum bisa memaafkan sesuatu hal yang menurutmu sulit untuk dimaafkan, maka jangan pernah memaksakan dirimu. karena memaafkan seseorang itu harus berasal dari dalam hati kecilnya."ucap Arman Seraya menatap manik hitam milik gadis itu.


Mendengar ucapan dari laki-laki itu, membuat Elia semakin menangis terisak. di dalam dekapan laki-laki berambut gondrong itu.


"aku benci, aku benci mereka yang menyakitiku!"ujar Elia dengan suara yang bergetar hebat. karena merasakan sesak yang menyerukan di dalam dadanya.


"tidak usah menangis, kau jelek kalau sedang menangis,"ucap laki-laki gondrong itu Seraya tersenyum jahil.


Elia yang mendengar ucapan dari Arman, seketika langsung tersadar dan melerai pelukannya.


"maaf Kak aku nggak sengaja,"ujar gadis itu Seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


Arman yang mendengar itu seketika menggelengkan kepala. "tidak masalah Elia, lagi pula aku senang melakukannya."ujar laki-laki gondrong itu penuh dengan makna.


Elia yang mendengar itu seketika terdiam. mendengar ucapan yang terdengar sangat ambigu dari sahabat suaminya itu.


Namun, Elia tidak mau terburu-buru untuk menyimpulkan semua ucapan dan perlakuan laki-laki gondrong itu. bisa saja kan, Arman melakukan hal ini karena merasa menyayanginya seperti adiknya sendiri, dirinya tidak boleh terbawa suasana hanya karena perlakuan dan ucapan laki-laki gondrong itu.


Akhirnya, gadis cantik itu memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa harus memikirkan sesuatu yang tidak penting. karena hidupnya terlalu rumit hingga tidak dapat menikmati sesuatu yang kecil seperti itu.


*****


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah kota terpencil yang tidak terjamah orang banyak, terlihat seorang wanita cantik tengah tersenyum senang Seraya menyentuh sebuah map berwarna coklat.


"akhirnya, aku bisa menikmati hasil dari kerja kerasku!"ucap wanita itu Seraya tersenyum mengerikan.


"kau memang hebat Monalisa!"ujar seorang wanita paruh baya yang datang menghampirinya. siapa lagi jika bukan Sofia Melinda.


Yap, Monalisa dan juga Sofia, saat ini tengah bersembunyi di sebuah kota terpencil yang jauh dari keramaian. karena Monalisa telah mendapatkan apa yang dia inginkan. yaitu harta kekayaan yang telah berbalik nama atas nama dirinya. walaupun itu hanya rumah mewah milik mertuanya yang telah berganti nama menjadi namanya. namun, Monalisa telah merasa bangga karena rumah itu berharga ratusan miliar. dan sebentar lagi dirinya akan menjadi kaya raya jika harus menjual rumah milik mertuanya itu.

__ADS_1


"kapan kita harus menjual rumah ini?_tanya Monalisa dengan raut wajah yang sudah tidak sabar.


"sabar sayang, dua hari lagi kita akan pergi ke tempat penjualan barang-barang mewah yang memang tersedia di kota kecil itu."ujar Sofia Melinda Soraya mengusap kepala putrinya dengan sayang.


__ADS_2