
Akhirnya ketika laki-laki Tampan itu segera masuk ke dalam bangunan klub dan segera menikmati semua fasilitas yang ada di dalamnya. Gavin tak henti-hentinya menutupi ke telinganya karena merasakan denyutan pada gendang telinganya.
" Astaga bisa budeg gue kalau kayak gini." ucapnya dalam hati Seraya menutupi kedua telinganya. Sementara Justin dan Arman, kedua laki-laki itu segera duduk di sofa yang ada di sana. dan tak lama berselang, ada beberapa wanita yang datang menghampiri mereka dengan pakaian yang sangat minim.
Hal itu tentu saja membuat Gavin merasa tidak nyaman. dengan segera laki-laki itu menepis kasar tangan seorang wanita yang ingin menyentuhnya. Sementara Justin dan juga Arman, malah menikmati berbagai sentuhan yang diberikan oleh wanita-wanita malam itu.
Gavin menggelengkan kepalanya. tidak habis pikir dengan tingkah kedua sahabatnya itu. bisa-bisanya mereka tidak terganggu dengan suara musik yang sangat kencang ini. dan lebih parahnya, mereka berdua tidak merasa terganggu dengan sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh wanita-wanita malam itu.
" dasar gila!" umpat Gavin Seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Hingga sesaat, mata laki-laki Tampan itu seakan terpaku dengan satu titik.
Dengan perlahan, laki-laki itu mempertajam pandangannya. seakan ingin mengamati dan memperjelas siapa sosok yang tengah duduk di depan sana.
Namun, seketika pandangannya teralihkan saat Justin menepuk bahunya hingga membuat laki-laki itu menoleh.
" nih Lu minum" ucapnya Seraya menyadarkan satu buah gelas berisi Win itu. Gavin yang melihat itu, segera menepis tangan sahabatnya.
" Sorry gue nggak minum." ucapnya Seraya ingin beranjak dari tempat duduknya. hal itu tentu saja langsung ditahan oleh Arman dan juga Justin.
" Lu mau ke mana sih, rugi tahu nggak, kita udah jauh-jauh ke sini. lagi pula, satu atau dua gelas saja, itu tidak akan pernah membuat kita mabuk." ucapnya Seraya menarik tangan Gavin untuk duduk kembali.
" enggak gue enggak mau," ucapnya dengan nada tegas. hal itu tentu saja membuat kedua laki-laki itu, menghela nafas panjang.
" Ya sudah kalau lu nggak mau, sekarang lu mau minum apa?" tanya Arman kemudian.
" jus atau enggak kopi latte aja." ucapnya Seraya membenahi dasi yang sedikit miring.
Arman yang mendengarnya, menganggukkan kepala. Kemudian, berjalan mendekati meja berita yang ada di belakang sana. Kebetulan, laki-laki itu melihat seorang pelayan sedang membawa minuman.
" Mas ini saya ambil ya buat teman saya." ucap Justin Seraya merampas Minuman itu dari tangan si pelayan.
" eh itu punya orang Mas." ucapnya Seraya berusaha menahan Minuman itu. namun dengan segera, Justin menepis tangan itu.
__ADS_1
Karena memang laki-laki itu sedang malas untuk memesan sebuah minuman. dan Kebetulan juga, di hadapannya, tengah ada seseorang yang membawa Minuman itu. untuk apa susah-susah memesan minuman jika di depan matanya ada minuman yang sudah jadi.
Begitulah prinsip dari seorang Justin azilio. Jika ada yang sudah Mengapa harus dipersulit. lagi pula Minuman itu kan belum tersentuh oleh siapapun jadi masih aman. Pikirnya.
Dengan segera, laki-laki itu membawa Minuman itu untuk diserahkan pada Gavin yang tengah duduk di sofa itu.
" nih Lu minum." ucapnya Seraya menyerahkan Minuman itu pada sahabat sekaligus Atasannya itu. dengan segera, Gavin menerima Gelas itu.
*****
Sementara itu di tempat lain, seorang gadis Tengah duduk di sebuah sofa kecil. gadis itu tampak gelisah karena sedari tadi, dirinya tidak mendengar suara kakak dan teman-temannya.
" Kak Mona ke mana, aku takut." ucap Gadis itu dengan mere-mas baju yang ia kenakan. Sementara di ujung ruangan itu, Monalisa dan teman-temannya tengah mengamati keadaan sekitar.
" mana sih tu orang, buat minuman kok lama banget." gerutu Mona Seraya menatap ke sekeliling bangunan itu.
tak lama berselang, seorang pelayan membawa minuman menghampiri Monalisa dan teman-temannya.
Monalisa dan teman-temannya, menghampiri Elia yang tengah duduk sendiri." Maaf ya El Kakak lama." ucap Gadis itu Seraya duduk di samping Elia.
Elia yang mendengarnya, menganggukkan kepala." Nggak papa kok Kak." ucapnya tersenyum sumringah.
" ini kamu minum dulu." ucap Monalisa Seraya menyerahkan segelas jus kepada Elia. dan dengan segera, gadis polos itu meminum minuman itu.
hal itu tentu saja membuat Monalisa dan kedua sahabatnya, seketika bersorak gembira. karena rencana mereka, akan segera berhasil.
" ikut kakak yuk El " ucap Gadis itu Seraya menarik tangan Elia. sementara Elia, Gadis itu hanya menurut saja. saat sang kakak, menarik tangannya.
" nah sekarang kamu di sini ya, Kakak sama temen-temen mau pergi lagi. nggak lama kok, cuma setengah jam." ucap Monalisa Seraya mengelus kepala Elia.
Sementara Elia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. lantas Gadis itu duduk di kasur yang ada di sana. Ternyata, Monalisa dan teman-temannya membawa Elia masuk ke dalam sebuah kamar.
__ADS_1
Monalisa keluar dari dalam kamar, dengan senyuman kepuasan." mampus lu. setelah ini, dunia Lu pasti akan hancur. hahaha" tawa gadis itu seketika menggema. diikuti oleh kedua sahabatnya yang juga ikut tertawa.
****
Sementara di lain tempat, Gavin tampak menggeliat dari tempat duduknya. laki-laki Tampan itu, merasa sangat tidak nyaman dengan Apa yang dirasakan oleh tubuhnya.
" kalian masukin apa ke dalam minuman gue?" tanya Gavin dengan tatapan mata seperti tampak gelisah. dan sesekali, menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
tentu saja hal itu membuat Justin dan juga Arman yang melihatnya, seketika Saling pandang." gue nggak ngelakuin apa-apa." ucap Justin dengan cepat. Karena memang laki-laki itu yang memberikan minuman pada Gavin.
Sementara Gavin yang melihat dan mendengar penuturan dari kedua sahabatnya itu, mulai tidak fokus. Karena, seperti ada sebuah dorongan yang memenuhi seluruh tubuhnya.
" astaga! jangan-jangan dia,..." Justin tidak berani untuk melanjutkan kalimatnya. dengan segera, laki-laki itu memapah Gavin untuk segera masuk ke dalam kamar.
Karena Justin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. dengan tergesa-gesa, laki-laki itu membawa Gavin untuk masuk ke dalam kamar.
Justin dengan segera membaringkan temannya itu di atas ranjang. tak lama berselang, Arman datang menghampiri.
" Bro, lu disuruh pulang sama adik lu." ucap Arman Seraya menyodorkan ponselnya pada Justin.
" terus ini Gavin gimana, lu-lu temen dia ya," minta Justin dengan nada gemetar.
" Waduh gue juga nggak bisa. gue harus temenin Bianca karena dia mau belanja." ucap Arman yang juga merasa bingung.
" terus ini gimana,?" tanya Justin Seraya menatap Gavin dan Arman secara bergantian.
"emmm, mending kita tinggalin aja dia di sini, nanti kalau Urusan kita udah beres, kita balik lagi." ucap Arman memberi usul.
****
NB : Mampir yuk di karya teman author yang satu ini
__ADS_1