
Pagi harinya, Elia membuka matanya. saat sayup-sayup, gadis cantik itu mendengar ada keributan di lantai bawah rumahnya itu. dan tak lama berselang, Bi Wati datang menghampiri Elia dengan tergopoh-gopoh.
" non Elia, lebih baik sekarang mandi. karena, akan ada hal penting yang akan dibahas oleh Tuan." ucap Bi Wati dengan ekspresi wajah tegangnya. Sayangnya, ketegangan itu tak bisa dilihat oleh Elia.
Namun, Kendati demikian, gadis itu merasakan sesuatu yang aneh. tiba-tiba saja, tubuhnya merasa bergetar hebat. dan Elia tidak tahu apa itu. Sampai-sampai, gadis cantik itu mengusap tengkuknya yang merasa, bulu halus di sana tiba-tiba saja berdiri.
" Bi kenapa, kok aku kayak ngerasa nggak enak gini ya?" tanya Gadis itu Seraya sesekali masih mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
" sudah non, lebih baik, non sekarang mandi. karena non Elia sudah ditunggu oleh Tuan dan yang lainnya di ruang tamu.
Elia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. dengan segera, Gadis itu menuruti apa kata asisten rumah tangganya. dan setelah hampir 30 menit, Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi.
" sebenarnya, Apa yang sebenarnya terjadi, Mengapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini.?" tanya gadis itu Seraya mengenakan pakaiannya.
Perlahan-lahan, gadis cantik itu melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar dan menuruni anak tangga secara perlahan-lahan. karena jika tidak berhati-hati, maka siap-siap saja Gadis itu akan tergelincir ke bawah.
sebenarnya, Amar sudah memerintahkan Bi Wati untuk membersihkan kamar Elia yang berada di bawah. agar Gadis itu tidak kesulitan dalam naik turun tangga untuk menuju ke kamarnya.
Namun, dengan kekeuh, Sofia Melinda mengabaikan perintah dari suaminya itu. dan tetap kekeh untuk menaruh Elia di kamar atas. Entahlah, Amar juga tidak mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya itu. lagi pula, laki-laki paruh baya itu juga tidak peduli dengan kondisi Putri kandungnya itu. dan malah, lebih memperhatikan Monalisa yang merupakan anak sambungnya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Elia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah dengan perlahan. dan dengan segera, Ketiga orang yang memang Tengah menunggunya, seketika itu buah bangkit dari duduknya.
Plak
Belum sempat Elia mendekat, satu tamparan keras, telah lebih dulu mendarat mulus di pipi gadis itu. hingga membuat sudut bibirnya, seketika mengeluarkan darah.
__ADS_1
Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika terperangah kaget. tak terkecuali Elia dan juga Bi Wati. begitupun juga dengan Monalisa dan Sofia Melinda. mereka berdua tidak menyangka, jika efeknya akan sedahsyat ini.
Sementara Elia yang diperlakukan seperti itu, seketika mematung di tempatnya." Ayah nampar aku?" tanya gadis itu Soraya menyentuh pipi yang terasa kebas dan panas.
" kamu memang anak tidak diuntung. bisa-bisanya kamu mencoreng nama keluarga dengan tingkah dan kelakuan kamu yang menjijikan itu!" bentuk Amar pada gadis yang ada di hadapannya yang tak lain adalah Putri kandungnya.
Mendengar penuturan dari sang ayah, seketika membuat Elia, mematung di tempatnya." Ayah Maafkan Aku. aku tidak bermaksud untuk mencoreng nama baik keluarga ini." ucap Elia Seraya meraih tangan laki-laki paruh baya itu.
Namun, dengan cepat Amar menepis tangan Elia yang hendak menyentuhnya." mulai sekarang, kau bukan lagi anakku. sekarang kau pergi dari sini!" ucapnya dengan nada yang cukup menggelegar.
Tentu saja hal itu membuat Elia dan yang lainnya, merasa sangat ketakutan. karena baru pertama kali ini, Elia dan yang lainnya melihat dan mendengar Amar berbicara seperti orang kerasukan.
" Wati, segera bawa anak tidak berguna ini pergi." ucap Amar dengan nada yang terdengar dingin dan juga datar. tentu saja hal itu membuat Elia yang mendengarnya, merasa sangat menyakitkan.
" Ayah tega sekali berkata seperti itu. hiks hiks hiks." ucap Gadis itu lirih di sela-sela Isak tangisnya. Namun, Amar sama sekali tidak menggubris gadis itu.
" akhirnya, kita bisa menyingkirkan gadis manja itu." bisik Sofia kepada anaknya Monalisa.
" Iya Mah, Mona nggak nyangka, ternyata si tua bangka itu berani berbuat sejauh ini." ucap gadis itu Saraya melirik sinis ke arah Elia sang adik tiri.
flashback on.
pagi pagi sekali, Monalisa dan Sofia Melinda, Tengah duduk di tepi ranjang kamar Monalisa." mah bagaimana cara kita untuk menyingkirkan gadis manja itu. Mona sudah tidak tahan melihat dia ada di sini." keluh Mona pada sang ibu.
Sejenak mereka berdua terdiam memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada gadis yang sangat mereka benci itu. yang padahal, Elia tidak memiliki salah apapun pada mereka.
__ADS_1
" mama punya ide. Kamu tunggu di sini, sepertinya si tua itu sudah datang." ucap Sofia Seraya beranjak dari duduk.
Sofia Melinda datang menghampiri Amar yang baru saja pulang dari lemburnya." Mas Untung kamu cepat pulang." ucap Sofia Seraya memasang wajah sedihnya.
" memangnya, apa yang terjadi?" tanya laki-laki paruh baya itu. dan dengan perlahan, Sofia menceritakan semuanya pada suaminya itu. tentu saja, cerita itu tidaklah benar.
" benarkah dia berbuat seperti itu?" tanya Amar dengan sedikit ragu. dengan segera, Sofia menganggukkan kepala. Kemudian, memperlihatkan video yang diambil dari CCTV saat Elia keluar dari dalam mobil dengan mengenakan pakaian terbuka.
Tentu saja hal itu membuat Amar seketika murka. dan dengan segera, memerintahkan sang asisten rumah tangga untuk memanggil Elia. Sementara Sofia yang melihat itu, segera berlari menuju kamar Monalisa.
" berhasil sayang. sekarang kita ikut ke bawah." ucap Sofia Seraya memeluk pinggang Monalisa. dan akhirnya, mereka berdua melinggang menuju ke lantai bawah. di mana, Amar berada dengan ekspresi wajah murka.
flashback off.
*****
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di kamar, Elia menangis dengan sesenggukan Seraya tangan lentiknya, mulai mengemasi pakaian-pakaian yang harus ia bawa.
" non, non Elia yang sabar ya, semoga, secepatnya penderitaan non Elia segera berakhir." ucap Bi Wati Soraya memeluk tubuh mungil gadis itu.
" Mengapa hidupku seperti ini, apa salah Elia. Mengapa ayah berkata seperti itu? padahal Elia tidak seperti itu. hiks hiks hiks." ucap gadis itu menangis terisak di dalam pelukan orang yang telah dianggap oleh Elia sebagai keluarganya sendiri.
" Sabar ya Non, semoga. semuanya segera terbuka lebar." ucap Bi Wati Seraya mengusap kepala Gadis itu dengan sayangnya.
" Makasih Bi, kalau begitu, Elia pamit. tolong jaga ayah. selama Elia tidak ada di rumah ini." ucapnya Seraya mengurai pelukan aku
__ADS_1
Nb : mampir Yuk kak siapa tau suka. Bangus lho ceritanya