
Selepas kepergian dari Sherly, Hesti dan Elia kembali masuk ke dalam butik. dan mulai memilih-milih baju yang akan digunakan.
Sementara Elia, Gadis itu masih terdiam di tempatnya tanpa dapat melakukan apa-apa. Karena Hesti melarangnya untuk melangkahkan kaki. Walaupun, hanya bergeser sedikit saja dari tempatnya. Karena, wanita itu khawatir, Gadis itu akan mengacaukan butik milik temannya itu.
Bisa-bisa, dirinya akan menanggung malu jika sampai menantunya itu menabrakan sesuatu yang berharga yang ada di dalam butik itu.
" Maaf mah, apa semuanya sudah selesai?" tanya gadis itu Seraya menatap ke arah lain.
Mendengar ucapan dari menantunya itu, membuat Hesti memutar bola mata malas. kalau saja, wanita itu tidak mengingat akan rencana besarnya, dirinya tidak akan pernah sudi untuk mengajak gadis yang menurutnya sangat di bawah rata-rata itu.
" dasar tak berguna," gumamnya Seraya melirik sinis ke arah Elia berada. Kemudian, dengan segera langsung mengambil pakaian yang akan ia beli itu.
" Ayo sekarang kita pulang!" ucapnya Seraya menarik sedikit kasar ke arah tangan gadis itu. membuat Elia, sejenak terdiam karena merasa aneh dengan tingkah mertuanya itu.
Namun, tak berselang lama Gadis itu mengikuti langkah Ibu mertuanya dengan tangan yang masih menggenggam.
" Eh, kalian di sini?" suara seseorang membuat Hesti dan Elia yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah sumber suara.
" tante apa kabar? datang ke sini pasti ingin mencari gaun untuk pernikahanku dan Mas Gavin ya,?" tanya seorang gadis dengan nada yang sangat percaya diri.
Elia tahu siapa pemilik dari suara itu. Gadis itu memberanikan diri untuk berbicara dengan orang yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
" maksud Kak Muna apa?" tanya Elia. Karena, hati gadis itu terasa sangat nyeri. saat Kakak tirinya itu mengatakan hal demikian.
" Kenapa, kau tidak suka?" tanya Monalisa Seraya berkacak pinggang dengan tatapan tajam ke arah gadis itu." asal kamu tahu, aku akan menjadi istri dari seorang Gavin Harsono. Karena menantu dari keluarga Harsono, tidak ingin memiliki menantu yang tidak berguna sepertimu!" ucapnya Seraya mendorong pundak Elia. hingga membuat gadis itu, seketika melangkah mundur karena merasa takut.
" tante, Tolong persiapkan semuanya ya," ucap Monalisa menatap ke arah Hesti. Kemudian, melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari budi itu.
Monalisa memang sengaja datang ke butik itu dengan undangan Hesti. Tujuannya, ingin mengacaukan mental adik tirinya itu. selain karena tidak menyukai Elia, Monalisa juga bertekad ingin mendapatkan laki-laki tampan yang bernama Gavin Harsono itu.
" kenapa masih di situ? ayo pulang!" ucap Hesti. saat wanita paruh baya itu, masih melihat Elia berdiri di tempatnya.
Perkataan dari ibu mertuanya itu, membuat Elia dengan segera melangkahkan kakinya untuk mengikuti langkah mertuanya itu.
Tiba-tiba saja, muncul ide jail dan licik dari wanita paruh baya itu. dengan langkah yang sangat dipercepat, wanita paruh baya itu segera menuju ke arah mobilnya. dan dengan segera, langsung menyuruh sang sopir untuk melajukan kendaraan itu.
" tapi nyonya, Nyonya Elia bagaimana?" tanya sang sopir dengan raut wajah yang masih merasa takut-takut.
" sudah biarkan saja!" ucapnya dengan tatapan tajam Yang menghunus. tentu saja hal itu membuat sopir, tak lagi berani menjawab.
Dengan segera, langsung melajukan kendaraan roda empatnya itu, keluar dari area butik.
Sementara itu di belakang sana, Elia tampak kebingungan Seraya Memanggil nama ibu mertuanya.
__ADS_1
" mah! Mama di mana?!" teriak Gadis itu dengan suara parau. Karena dirinya, benar-benar merasa ketakutan dengan apa yang tengah ia alami ini.
Elia segera berjongkok Seraya menutup wajahnya, dengan kedua tangannya. Sungguh, gadis itu merasa sangat ketakutan. Bayangan, saat dirinya ditinggalkan oleh ibu tiri dan kakak tirinya itu, kini berputar-putar kembali di dalam pikirannya.
" Mama aku takut," ucapnya dengan nada lirih. tak lama berselang, ada seorang yang berdiri tepat di hadapannya. dan langsung membantunya untuk berdiri.
" Kamu kenapa ada di sini? mana keluargamu?" tanya orang itu Seraya menatap ke arah sekelilingnya.
" Aku tidak tahu. aku takut, hiks hiks hiks. huhuhu," ucap Elia menangis dengan tersedu-sedu.
" kalau begitu, ikut aku! kau bisa tinggal bersamaku!" Ucap orang itu Seraya menarik tangan Elia.
Namun, gerakannya terhenti saat merasakan gadis yang ada di belakangnya itu, seperti mencoba melepaskan genggaman tangannya.
" tidak perlu takut, Aku bukan orang jahat." ucapnya yang seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
" Aku Andra," ucapnya Seraya melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya itu.
" aku Elia," ucapnya tersenyum tipis. Sejenak, Andra menatap manik hitam kecoklatan milik gadis itu. hingga kemudian, laki-laki itu menyadari sesuatu hal.
" Maaf apa kamu,..." ucapan Andra terhenti saat Elia menganggukkan kepala.
__ADS_1
Andra yang melihat itu, mengangguk-anggukkan kepala. kemudian, kembali menarik tangan Elia untuk masuk ke dalam mobilnya. Laki-laki yang bernama Andra William itu, sebenarnya menuju butik ini untuk membeli sebuah jas. Namun, saat baru saja membuka pintu, laki-laki itu tak sengaja menatap seorang gadis yang tengah terduduk di pinggir jalan.
Karena merasa kasihan dengan kondisi gadis itu, membuat Andra berinisiatif menolongnya. nanti setelah di rumah, barulah Andra menanyakan tentang semua identitas gadis itu.