
Setelah sampai di rumah, Gavin masih saja terdiam tanpa mengeluarkan suatu kalimat apapun. Tampaknya, laki-laki Tampan itu masih merasa sangat kecewa dengan apa yang baru saja ia lihat itu.
Sementara Elia, Gadis malang itu, menundukkan kepala karena merasa takut dengan sikap suaminya yang terasa sangat dingin itu.
" aku mohon Maafkan Aku," ucap Elia berusaha untuk menggapai tangan suaminya. Walaupun harus meraba-raba tempat lain.
Sementara Hesti yang melihat itu, seketika tersenyum simpul. karena firasatnya mengatakan, jika putranya itu pasti akan menyetujui rencana pernikahannya dengan Monalisa.
Wanita paruh baya itu sesekali masih mengumpuli putranya itu agar mau menuruti perintahnya." Sudahlah nak, jangan bersedih lagi. kalau kamu bersedih, Mama juga akan ikut bersedih." ucapnya Seraya meneteskan air mata.
Sontak saja hal itu membuat Gavin seketika mendongak dan menatap ke arah ibunya dengan tatapan Sendu.
" mah, aku ingin menerima permintaan mama." tanpa pikir panjang lagi, laki-laki Tampan itu mengatakan hal yang menurutnya tidak masuk akal.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat semua orang yang mendengarnya, terbelalak kaget. Termasuk juga dengan Elia sendiri. karena Gadis itu tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
" Gavin, Jangan pernah mempermainkan pernikahan!" tegur Ivan kepada putranya.
Sementara Gavin yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah sang papa." aku tidak main-main Pah, Aku serius!" ucapnya dengan wajah penuh keseriusan.
sementara Elia yang mendengar itu, tubuhnya mulai merasakan gemetaran yang sangat hebat." M-as den-garkan aku du-lu." ucapnya dengan kata-kata yang terbata-bata.
" Aku harap, rencana itu secepatnya dilakukan." ucapnya Seraya beranjak dari duduk. meninggalkan ruang keluarga seorang diri. tanpa mengajak istrinya itu untuk ikut serta bersamanya.
Tanpa basa-basi lagi, Ivan segera beranjak dari duduknya. Karena laki-laki paruh baya itu, akan berusaha berbicara dengan Putra semata wayangnya itu.
" Gavin, ikut ke ruangan papa." ucapnya dengan nada yang sangat tegas. tentu saja hal itu membuat Gavin yang akan menuju ke kamarnya, seketika mengurungkan niat. dan dengan segera, mengikuti langkah sang Papa menuju ke ruang kerja.
__ADS_1
sepeninggal kedua laki-laki berbeda generasi itu, Hesti menghampiri Elia yang masih menangis sesenggukan." kau tidak usah bersedih. Seharusnya, kau senang. karena, suamimu akan mendapatkan istri dan pasangan yang sepadan dengan keluarga kami." ucap Hesti Seraya berbisik di telinga gadis itu.
Seketika, Elia yang mendengarnya terdiam. berusaha, mencerna ucapan yang dilontarkan oleh mertuanya itu.
" apa mama berpura-pura?" tanya Gadis itu seakan tahu apa yang dimaksud oleh Hesti.
" kau memang pintar hahaha." ucapnya dengan tawa menggema kemudian meninggalkan Elia seorang diri di ruangan itu.
****
Sementara itu di ruangan kerja, Ivan Tengah berusaha untuk menyadarkan putranya dari sebuah kekeliruan." Fin, kau itu laki-laki berpendidikan. Jangan pernah gegabah untuk mengambil keputusan. apalagi, ini keputusan besar." ucapnya memperingatkan.
" Gavin tahu pa, tapi laki-laki itu mengakui sendiri jika telah membawa Elia ke rumahnya. lalu apa yang Gavin Tunggu lagi, semuanya sudah jelas." ucapnya dengan nada yang sangat tegas.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Tapi Ingat pesan papa. Jangan pernah kau menyesal nantinya." ucap Ivan Seraya beranjak dari duduknya.