
Elia dan juga Nella pergi meninggalkan restoran itu menggunakan mobil mewah milik wanita cantik itu. di sepanjang perjalanan, Elia tampak terdiam dengan sesekali, mengusap air matanya.
tentu saja hal itu membuat Nella yang melihatnya dari kaca spion Tengah, menjadi gelisah sendiri. apakah yang ia dengar itu benar, sungguh, saat ini pun, wanita cantik itu merasa bingung untuk Bagaimana cara menyikapi semua ini.
Karena jujur saja, Nella masih sangat mencintai laki-laki yang bernama Gavin Hartono itu. dan ada rasa tidak terima, saat wanita itu mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut laki-laki itu.
" Elia kau baik-baik saja?" tanya Nella menepuk dan mengusap bahu gadis itu dengan pelan. Hal itu membuat Elia yang Tengah melamun, seketika terperanjat kaget.
"i-iya Nona, saya baik-baik saja." ucap Elia dengan nada terbata-bata. setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Sehingga, suasana menjadi begitu hening. Bahkan, hingga mereka tiba di rumah milik Nella, mereka berdua masih saja terdiam.
" Susanti, Tolong bawakan koper ini ke kamar tamu ya!" teriak Nella saat mereka berdua sudah ada di dalam rumah.
Tak lama berselang, muncullah seorang gadis muda yang sepertinya seusia Elia datang menghampiri Nella dengan langkah tergopoh-gopoh.
Gadis yang bernama Susanti itu, dengan cekatan segera menarik koper itu dan membawanya ke kamar tamu. ikuti dengan Elia yang dituntun oleh Nella menuju kamar tamu.
" Nah sekarang, kamu istirahat saja ya, Saya mau kembali untuk bekerja dan memantau semua karyawan. kalau ada apa-apa, jangan lupa dan jangan sungkan untuk memanggil Susanti." ucap Nella dengan begitu lembut kepada Elia.
Sementara Elia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. Nella segera berdiri dari duduknya. Kemudian, menatap Susanti dengan tatapan mengintimidasi.
Kemudian dengan segera, wanita cantik itu menarik tangan Susanti untuk keluar dari dalam kamar tamu yang ditempati oleh Elia.
" tolong jaga baik-baik gadis itu. jangan sampai, terjadi apa-apa dengan dirinya. jika sampai itu terjadi, Bersiaplah kau akan langsung aku pecat!" ucap Nella melayangkan tatapan tajam pada gadis belia itu
__ADS_1
Dengan tubuh yang bergetar hebat, Susanti segera menganggukkan kepala. hal itu, tentu saja membuat Nella, seketika tersenyum dengan sangat lebar. Memang, selama ini Susanti tidak pernah melakukan kesalahan atau bahkan menyinggung perasaan setiap tamu Nela yang datang ke rumah itu.
Namun tidak menutup kemungkinan gadis belia itu akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Elia. Karena bagaimanapun juga, Nella dan Susanti, adalah orang lain bagi Elia.
keluarga gadis Malang itu sendiri pun, sudah tidak peduli dan cenderung menyiksa Elia dengan sangat kejam. Padahal, mereka memiliki hubungan darah. Namun, bisa melakukan tindakan sekejam itu.
Apalagi dirinya dan juga Susanti yang bukan siapa-siapa bagi Elia. bisa saja, hatinya berubah dari rasa kasihan dan sayang, menjadi rasa benci dalam sekejap. Untuk itulah, Nella selalu berdoa pada yang di atas, agar perasaannya tidak diubah.
Ya, memang, semua manusia bisa saja berubah Jika Tuhan berkehendak. Maka, Untuk itulah pentingnya menilai seseorang sewajarnya saja. karena semua yang berlebihan, itu tidak akan pernah berakhir baik-baik saja.
" Ya sudah kalau begitu, saya akan kembali ke restoran Saya. Tolong jaga Elia dengan baik. tutup semua pintu dan jendela Jika kamu sedang berada di belakang." ucap Nella memberi pesan kepada Susanti.
Setelah mengatakan hal itu, Nila segera keluar dari rumah mewahnya. Kemudian, wanita cantik dan anggun itu Segera menaiki mobil mewahnya untuk menuju ke suatu tempat.
****
Sementara itu di dalam kamar, Elia tampak menangis sesenggukan. gadis itu merasa begitu bingung dengan apa yang harus ia lakukan. jika suatu saat, apa yang dikatakan oleh Gavin itu menjadi kenyataan.
Tentu Elia tidak akan pernah menyanggupi kehadiran makhluk lain di kehidupannya. Apalagi dengan semua keterbatasan yang ia miliki. dan juga, di usia yang begitu muda.
" semoga, apa yang Elia takutkan tidak akan pernah terjadi Tuhan," ucap Gadis itu Seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan berlinang air mata.
Sungguh, dirinya akan merasa sangat ketakutan jika hal itu sampai terjadi dan menimpanya. tak berselang lama, terdengar suara pintu diketuk dari luar. dan tak lama berselang, Susanti masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman.
__ADS_1
" nona, Silakan dinikmati makanannya." ucap Susanti Seraya meletakkan nampan di atas nakas. Elia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.
" apa ada masalah nona, Mengapa anda menangis?" tanya Susanti mencoba mengakrabkan diri dengan gadis itu. Selain, karena ancaman dari Nella, Susanti juga merasa bahwa dirinya merasa kasihan terhadap Gadis malang itu.
Namun sepertinya Elia tidak ingin berbicara sepatah kata pun. Gadis itu hanya menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis. hal itu tentu saja membuat Susanti yang melihatnya, hanya dapat menghela nafas panjang.
" Ya sudah kalau Nona tidak ingin berbicara atau membagi sesuatu dengan saya, lebih baik Nona makan dulu aja. ini sudah saya siapkan ayam goreng." ucap Susanti Seraya mengambil piring itu dan menyerahkannya pada Elia.
Elia dengan segera menikmati makanan itu. dengan sesekali tersenyum kecil. Ternyata, di dunia ini masih ada orang baik contohnya Nona Nella dan asisten rumah tangganya.
****
Sementara itu, di tempat lain, tampak tiga orang laki-laki, Tengah duduk saling berhadapan. dengan raut wajah yang berbeda-beda. siapa lagi jika bukan Kevin dan kedua temannya.
Tampaknya, laki-laki itu Tengah menatap kedua sahabatnya dengan tatapan mengintimidasi." kalian Kenapa diam, Ayo coba jelaskan ini." ucap Kevin Seraya menyerahkan ponselnya kepada dua laki-laki itu.
Tentu saja hal itu membuat Arman dan juga Justin yang melihat itu, seketika Saling pandang. dan dengan segera, meraih ponsel milik sahabatnya itu.
Seketika itu pula, wajah kedua laki-laki itu merah padam. mereka berdua bingung bagaimana cara menjelaskan ini semua pada laki-laki yang ada di hadapan mereka itu.
"emm, biar kami jelaskan." ucap Justin dengan suara perlahan-lahan. dan dengan segera, Arman dan Justin pun, menceritakan semua yang ia tahu dengan sedetail-detailnya.
Seketika itu pula, Gavin mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Namun, beberapa detik kemudian, laki-laki Tampan itu menghela nafas panjang. Karena, percuma juga Gavin mengamuk pada kedua sahabatnya itu. toh semuanya sudah terjadi.
__ADS_1