Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 88


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit mata, Kevin segera membawa Elia menuju ke ruang operasi. karena semuanya, telah dipersiapkan oleh kedua teman sekaligus karyawannya itu.


" persiapkan dirimu. sebentar lagi, kamu akan memasuki ruangan operasi." masih dengan nada yang sama, Gavin berkata pada gadis itu.


Setelah berkata demikian, laki-laki Tampan itu segera beranjak dari ruang perawatan istrinya. Entahlah, Mengapa dirinya tidak ingin menemani sang istri untuk meredakan rasa gugup yang saat ini menjalar di seluruh tubuh gadis itu.


Sesulit itukah, dirinya harus memaafkan kesalahan yang tidak pada tempatnya? suatu saat nanti, Gavin pasti akan menyesal saat mengetahui semua kenyataan yang tidak ia ketahui.


" Mas, Sampai kapan kau akan memperlakukan aku seperti ini? Sungguh, aku tidak pernah melakukan apapun yang kamu tuduhkan itu." Elia berkata dengan nada yang sangat Lirih. membuat langkah Gavin seperti ke terhenti.


" semuanya sudah jelas, jangan banyak pikiran. sekarang, kau fokus saja dengan kesembuhan yang sudah ada di depan mata." Gavin mengatakan hal itu, tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya berada.


Setelahnya, laki-laki Tampan itu segera keluar dari dalam ruangan untuk menemui kedua sahabatnya yang memang ada di sana.


" Kenapa kau ada di sini? Kenapa tidak teman istrimu saja? pasti dia sangat ketakutan," tanya Arman dengan wajah bingung.


bukannya menjawab, laki-laki itu malah menjatuhkan tubuhnya di kursi kosong sebelah sahabatnya itu. sementara Arman dan Justin yang melihat itu, seketika Saling pandang.


" untuk apa, menemani istri yang telah menghianati kita?" tanyanya Seraya memejamkan mata.


Hal itu, sukses membuat Justin dan Arman semakin merasa kebingungan.


" Bagaimana maksudmu?" tanya Arman dengan tatapan mata yang sangat serius menatap ke arah sahabatnya.

__ADS_1


Gavin segera menyerahkan ponsel miliknya pada kedua sahabatnya. dan dengan segera, Arman dan Justin membuka benda pipih itu. Seketika, mata mereka membulat sempurna. saat mengetahui, apa yang ada di dalam ponsel itu.


" ini serius?" tanya Arman dengan ekspresi wajah tak percaya.


"hmm,"


Justin dan Arman, kembali Saling pandang. Karena jujur saja, mereka berdua merasa begitu terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka dapatkan itu.


"tapi Vin, Kenapa kau langsung Percaya saja, Kenapa kau tidak menyelidikinya terlebih dahulu?" tanya Arman mencoba untuk berpikir positif.


" kalian baca saja chattingan yang ada di aplikasi hijau itu." perintah Gavin kepada dua temannya. dan hal itu langsung dituruti oleh mereka berdua.


Mata keduanya, kembali membulat sempurna saat membaca isi chattingan itu.


" tapi kok, seperti ada yang janggal?" tanya Arman mencoba untuk menyelidiki tulisan itu. Memang, Arman lebih dewasa di antara mereka bertiga.


" Sudahlah, Aku tidak ingin memikirkan hal itu." ucapnya kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Tak berapa lama, beberapa tim medis berjalan menuju ke ruangan Elia. dan Hal itu, membuat ketika laki-laki Tampan itu, seketika berdiri.


" maaf tuan Gavin, Apa Anda sudah menyetujui semuanya?" tanya Dokter spesialis mata yang bernama dokter Jessie itu.


Gavin yang mendengar itu, menganggukkan kepala. dan dengan segera, brankar yang ditempati Elia, segera didorong oleh para perawat untuk menuju ke ruang operasi.

__ADS_1


Mereka bertiga, menatap kepergian Elia dengan tatapan berbeda-beda. jika Justin dan juga Gavin memandangi kepergian Gadis itu dengan tatapan datar mereka, berbeda dengan Arman. karena laki-laki itu memandangi dengan tatapan kasihan.


****


Akhirnya, operasi mata yang dijalani oleh Elia berjalan dengan lancar. dan Gadis itu, saat ini berada di ruang perawatan VVIP. Tentunya, Elia merasa sangat terharu. karena sebentar lagi, dunianya akan kembali ceria dan berwarna.


" terima kasih, Terima kasih karena mas Gavin telah bersedia untuk membayarkan semua biaya operasi untukku." ucapnya Seraya menyunggingkan senyuman tipis.


" tidak usah berterima kasih, Anggap saja, ini adalah Kado Terakhir yang bisa aku berikan padamu." ucap laki-laki itu, dengan sikap acuh tak acuh.


Tentu saja, itu membuat Elia seketika menghela nafas panjang. dan Gadis itu, mulai terdiam. entah apa yang dipikirkannya. hingga tak lama berselang, masuklah dokter dan beberapa perawat menghampiri Elia.


" selamat siang Nona Elia," sapa dokter Jessie Seraya menghampiri gadis itu.


" siang dok," ucapnya tersenyum tipis.


" Nanti sore, perban di mata anda akan dibuka. anda sudah siap, kan?" tanya dokter Jessie terdengar begitu menenangkan.


" siap dok,"


Dokter muda itu, menganggukkan kepala. dan dengan segera, kedua perawat itu memeriksa semua kondisi Elia. Memastikan, Gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.


" baik kalau begitu, kami permisi dulu. kalau ada sesuatu yang diinginkan, jangan sungkan untuk memencet tombol yang ada di sebelah anda." ucap dokter Jessie pada Elia.

__ADS_1


Elia yang mendengar itu, menganggukkan kepala mengerti. Sementara ketiga laki-laki Tampan itu, hanya terdiam di tempatnya. entah apa yang mereka pikirkan.


__ADS_2