Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
BAB 27


__ADS_3

Tiba tiba saja, terdengar suara ponsel berdering. dan dengan segera, Gavin merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel itu.


" siapa ini, kok nggak ada di kontak ponsel aku?" tanya laki-laki itu Seraya mematikan panggilan itu. karena menurutnya, ini pasti hanyalah orang iseng.


tak lama berselang, ponsel Gavin pun berdering kembali. dan setelah melihat, ternyata adalah nomor yang sama.


" mau apa sebenarnya orang ini?" jika hanya orang iseng, pasti tidak akan berkali-kali seperti ini. Baiklah. akan aku angkat setelah aku menyelesaikan ritual mandiku." gumamnya dalam hati Seraya beranjak dari duduknya. dan kemudian, menyambar handuk yang tergantung di dinding.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Kevin menyempatkan diri untuk melirik ke arah ponselnya. mana tahu, ponsel miliknya kembali berdering. dan ternyata, memang benar ponsel itu kembali berdering.


" ah nanti saja aku angkat, sekarang aku mau mandi dulu." gumamnya Seraya melangkahkan kaki menuju ke arah kamar mandi.


Setelah hampir 1 jam, akhirnya, Gavin keluar dari dalam kamar mandi. laki-laki itu segera menuju ke ruang ganti. dan mengganti pakaiannya, Gavin segera duduk kembali di tepi ranjang.


Kemudian laki-laki itu kembali mencari nomor si penelpon. dan setelah ketemu, Gavin segera menghubungi nomor yang menurutnya asing itu.


" Halo selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya laki-laki itu dengan formal.


" Halo apa benar ini dengan Tuan Kevin Harsono?" tanya seorang perempuan dari seberang sana. hal itu tentu saja membuat Gavin seketika tertegun.


" dari manakah orang ini tahu namaku?" tanyanya pada diri sendiri. cukup lama, Gavin terdiam. hingga, terdengar suara di seberang sana membuatnya terkesiap.


" Halo tuan, Apakah anda di sana?" ucap wanita itu dengan sedikit nada tinggi.


" Eh, iya saya ada di sini. Bagaimana kamu tahu tentang nama saya?" tanya Kevin dengan ekspresi wajah dan nada Terdengar sangat penasaran.


" anda tidak perlu tahu saya tahu dari mana yang pasti, Saya ingin anda menemui saya di cafe mawar sekarang juga." ujar wanita itu dengan ada cukup serius.


hal itu semakin membuat Gavin merasa sangat kebingungan." maaf Nona kita tidak saling kenal sebelumnya. jadi tidak ada alasan untuk kita bertemu." ucap Gavin dengan nada tegasnya.

__ADS_1


" segera datang kemari. atau Saya akan melaporkan anda kepada pihak yang berwajib." ucap wanita itu dengan tenang namun syarat akan ancaman.


Tut tut tut


Belum sempat Gavin mengatakan sesuatu, panggilan itu sudah diputus secara sepihak. hal itu tentu saja membuat Gavin, semakin merasa geram sekaligus kebingungan.


" Ya sudahlah kalau begitu, aku temui aja. Siapa tahu memang penting." ujar Gavin Seraya beranjak dari tempat tidurnya. dan dengan segera, melangkahkan kakinya menuju ke lantai bawah.


Gavin segera menyambar kunci motor sportnya yang ada di meja yang berada di ruang keluarga. dan dengan tergesa-gesa, laki-laki itu melangkahkan kaki untuk segera keluar dari rumah itu.


" Bi Saya pergi dulu ya," ucap Gavin sedikit berteriak saat berpapasan dengan para asisten rumah tangganya yang sedang ada di samping rumahnya.


" Iya tuan muda hati-hati." ucap salah satu dari mereka. sementara pelayan yang lain, hanya menganggukkan kepala Seraya sedikit menunduk hormat.


******


"haish kalau bukan karena rasa iba dan rasa bersalah, Ogah gue hubungin cowok nyebelin seperti ini." gerutu Sonya Soraya sedikit menghentak-hentakkan kakinya.


" sabar aja deh Sonya. setelah kita memberitahukan semuanya, kita sudah tidak ada urusan lagi dengan dia." ucap Marsha menenangkan sahabatnya itu.


mendengar ucapan dari Marsha, seketika Sonya hanya menghembuskan nafasnya kasar." tapi sepertinya, gue mulai ada Rasa aneh deh sama gadis Malang bernama Elia itu." ucapnya dengan nada Lirih.


" Maksudnya gimana?" tanya Marsha yang tidak mengerti apa maksud dari sahabatnya itu.


" gue ngerasa nyaman aja sama itu anak. seperti ada ketulusan dan ketenangan saat gue berada di samping dia. dan seperti ada dorongan untuk selalu melindunginya." ucapnya dengan nada Sendu.


" lu nggak usah gila deh. gimana kalau Monalisa tahu. Lu tau sendiri kan, kalau biaya kuliah kita itu dibiayain sama dia." ucap Marsha mencoba untuk mengingatkan.


" gue tau Sya. tapi mau gimana lagi, gue nggak bisa bohong kalau gue udah mulai menyayangi Elia." ucapnya dengan ekspresi wajah frustasi.

__ADS_1


Marsha yang mendengar ucapan dari Sonya, seketika menghela nafas panjang." gue tahu. karena sebenarnya, gue juga merasakan hal itu. tapi mau gimana lagi," ucap Marsha dengan nada pelan.


" gue ada ide. Gimana kalau kita hubungin si Bianca Anastasia." ucap Sonya dengan nada antusias setelah mereka terdiam cukup lama. dan akhirnya sesuai kesepakatan, mereka akan menemui Bianca. karena memang, di antara semua mahasiswa di kampus itu, hanya Bianca yang memiliki sifat" waras" di antara yang lain.


Tak lama berselang, seseorang datang dan dengan segera tertangkap oleh netra Sonya dan juga Marsha. karena kebetulan, mereka berdua sedang menatap ke arah pintu keluar.


" itu dia Gavin." ucap Marsha Seraya beranjak dari duduknya. dan dengan segera Melambaikan tangan ke arah laki-laki itu.


Memang saat ini tidak ada yang mengenali seorang Gavin Harsono. karena laki-laki itu berpenampilan sangat tidak terawat. dengan kaos oblong dan celana pendek. dan juga rambut yang awut-awutan.


" Anda beneran Tuan Gavin kan ya?" tanya Sonya Seraya menatap dari atas sampai bawah. karena memang, penampilan laki-laki yang ada di hadapannya itu, sangat berantakan. dan tidak Ada kemiripan dengan foto yang ada di kartu namanya.


"hmmm. sudah. ada apa kalian memintaku untuk bertemu?" tanya laki-laki itu to the point.


Sejenak, Sonya dan Marsha Saling pandang seakan mereka Tengah berdiskusi lewat kontak mata. dan akhirnya, mereka berdua sama-sama menganggukkan kepala.


" ini tuan, tolong Anda lihat sendiri rekaman ini." ucap Sonya Seraya menyerahkan ponselnya kepada Gavin.


Betapa terkejutnya laki-laki itu salat menyaksikan rekaman demi rekaman yang ada di ponsel itu. Kemudian, dengan segera laki-laki itu menatap Sonya dan Marsha secara bergantian.


" lalu apa maksud kalian. Apa kalian ingin memeras saya dengan video ini?" tanya laki-laki itu.


"hehe Kalau itu bukan Elia, mungkin bisa saja terjadi. Tapi sayangnya, hati saya terasa lain. Saya tidak setega itu." ucap Sonya masih dalam senyuman manis.


" lalu apa mau kalian?" tanya Gavin Saraya masih memandangi rekaman itu dengan perasaan gemuruh di dadanya.


Nb: mampir ya kak bagus loh hehe mampir ya Kak Nanti nyesel kalau nggak mampir hehehe


__ADS_1


__ADS_2