
Di dalam ruang perawatan VVIP tersebut, terlihat Elia Tengah duduk di atas ranjang rumah sakit dengan detak jantung yang luar biasa kencang. karena sebentar lagi, Gadis itu akan kembali dapat melihat warna-warni indahnya dunia.
" sekarang, kita buka perban-nya ya Nona," wanita cantik itu Seraya tangannya mulai membuka satu persatu helai perban yang menutupi wajah cantik gadis itu.
" Nah sekarang, Nona dapat membuka mata secara perlahan." dokter Jessi berkata dengan sangat lembut.
Ucapan dari dokter itu, segera dilaksanakan oleh Elia. dan dengan segera, gadis cantik itu mulai membuka matanya secara perlahan. Membuat pandangan yang awalnya buram, semakin lama semakin terang. hingga membuat Elia, seketika mematung di tempatnya. karena merasa tak percaya dengan apa terjadi dalam dirinya saat ini.
"i-ini, beneran aku bisa lihat?" tanya Elia dengan suara terbata-bata dan nada gemetar. karena gadis itu, merasa tak menyangka dengan perubahan pada dirinya.
" Iya nona, anda sekarang bisa melihat." ujar dokter Jessie Seraya mulai memeriksa seluruh tubuh milik pasiennya itu.
Seketika itu pula, Elia menangis tersedu-sedu." Aku tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seindah ini, hiks hiks hiks."
Kemudian, Elia mengedarkan pandangan mencari sosok yang ingin pertama kali ia lihat. dan Gadis itu, mendapati dua orang laki-laki tampan Tengah melihatnya dengan senyuman mengembang di bibir masing-masing.
" apa salah satu diantara kalian bernama Mas Gavin?" tanya Elia menatap keduanya secara bergantian.
Sontak saja, kedua laki-laki Tampan itu menggelengkan kepala." tidak Elia, kami adalah teman-teman suamimu. Suamimu baru saja keluar dari ruang ini karena ditelepon oleh ibunya." ucap Justin dengan perasaan tidak tega.
__ADS_1
Apalagi, saat melihat reaksi dari gadis yang Tengah duduk di ranjang rumah sakit itu. mereka berdua, semakin tidak tega untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
" Ya sudahlah kalau begitu." ucap Elia dengan senyuman yang dipaksakan. Sejujurnya, Gadis itu merasa sangat tersiksa dengan semua situasi saat ini. Namun, dirinya tidak memiliki wewenang apa-apa untuk mencegah hal ini terjadi.
" dok, Apa saya bisa langsung pulang?" tanya Elia dengan raut wajah datarnya.
dokter Jessi yang mendengar itu, seketika menatap arah pasiennya itu dengan raut wajah sedikit terkejut." Apa anda tidak salah berucap, Anda baru saja melakukan operasi yang cukup besar nona," tanyanya dengan raut wajah tidak percaya.
" saya sudah sembuh dok, jadi Izinkan saya untuk pulang." ucap Elia dengan raut wajah yang sangat serius.
Sontak saja, dokter Jessie yang mendengarnya, seketika hanya dapat menghela nafas panjang." Baiklah kalau begitu. Tapi, jika terjadi sesuatu terhadap anda, jangan pernah melibatkan kami." ucap dokter itu pada akhirnya.
Arman dan Justin yang mendengar itu, segera membantu membereskan semuanya. dan dengan segera, membawa istri sahabatnya itu keluar dari ruangan VVIP tersebut.
" kamu bisa pulang sendiri Kan Elia, kita berdua masih ada pekerjaan. dan harus kembali ke kantor." ucap Justin dengan perasaan tidak enak.
" Iya Elia, maafkan kami ya, kami tidak bisa mengantarkanmu untuk sampai ke rumah Gavin." ucap Arman dengan raut wajah sedihnya.
Elia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya Seraya tersenyum tipis." tidak masalah Kak, seharusnya aku yang harus meminta maaf karena telah merepotkan kalian berdua." ucapnya Seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
" sama sekali tidak merepotkan kok," Justin dan Arman mulai melangkah dan menaiki kendaraan masing-masing. Sejujurnya, kedua laki-laki itu ingin sekali mengantarkan Elia kembali ke rumah Gavin.
Namun, apalah daya, arah rumah Gavin dengan arah perusahaannya berlawanan arah. dan saat ini, mereka berdua harus menemui klien yang ditugaskan oleh laki-laki itu.
" tidak masalah kok Kak, sekarang kakak Tuliskan alamat Mas Gavin saja. biar aku naik taksi saja."
Dengan segera, Justin menuliskan alamat sahabatnya itu, di sebuah kertas kecil. dan dengan segera, menyerahkannya pada Elia.
" hati-hati ya," Justin berkata, saat laki-laki itu melihat ada sebuah taksi yang sengaja dihentikan oleh Arman.
" masuk sana!" perintah Justin pada Elia. dan langsung diangguki oleh gadis itu. dan dengan segera, Elia masuk ke dalam taksi itu.
" Terima kasih ya kak, sekali lagi." ucap Elia Seraya membuka kaca taksi itu.
Justin dan Arman yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, melajukan kendaraan masing-masing. saat melihat, taksi itu telah melesat jauh ke depan.
***
" akhirnya, aku bisa melihat lagi. Terima kasih ya Tuhan," ucap Elia Seraya memejamkan mata. dan tak terasa, buliran bening itu kembali jatuh membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1