
Gavin mulai Mengerjap-mengerjapkan matanya. saat laki-laki Tampan itu, mulai menggeliatkan tubuhnya, yang terasa kaku. Sejenak, laki-laki Tampan itu menatap ke sekeliling untuk memastikan apa yang ia lihat.
" kenapa aku ada di sini? Bukankah,--" Gavin segera menggantungkan ucapannya. dan dengan segera, menoleh ke arah samping tubuhnya.
Sejenak, dirinya terdiam. karena memang, di sampingnya saat ini tidak ada siapa-siapa." siapa yang membawaku kemari?" tanya Gavin seorang diri.
Atensi laki-laki Tampan itu teralihkan, saat mendengar pintu kamar itu dibuka dari luar. dan Hal itu membuat Gavin, merasa sedikit terkejut.
" Elia," gumamnya dalam hati. dan pandangannya, masih tertuju terhadap wajah cantik gadis yang ada di hadapannya itu.
" mas Gavin sudah bangun?" tanya Elia tersenyum manis. Seraya melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang. gimana saat ini, suaminya berada.
" kenapa aku ada di sini? dan kenapa kok malah duduk di sebelahku? atau jangan-jangan,--" ucapan Gavin terhenti, saat mendengar sahutan dari Elia.
" Memangnya ada yang salah dengan apa yang kita lakukan? ingat kita masih suami istri!" ucap Elia tersenyum tipis. Namun, di dalam mata gede itu tersirat akan Aura yang lain.
Tentunya, itu membuat Gavin, seketika terdiam. dan dengan segera, Elia melangkahkan kakinya untuk mendekati suaminya yang masih terbaring di atas ranjang.
" apa kau masih ingin menikahi kakak tiriku?" tanya Elia penuh dengan makna.
__ADS_1
Gavin yang mendengar itu, seketika menoleh dan menatap gadis yang ada di hadapannya itu." apa ini benar-benar kamu? kenapa kamu berubah seperti ini Elia?" tanya Gavin dengan raut wajah tak percaya.
membuat Elia yang mendengar itu, seketika tersenyum misterius. hingga membuat Gavin semakin merasa tidak mengenali gadis yang ada di hadapannya itu.
" terkadang, sifat manusia itu dapat berubah dengan Seiring berjalannya waktu. Apalagi, jika orang itu selalu mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Apalagi, mendapat kecurigaan dari orang yang katanya sangat menyayanginya. Namun, dapat dengan sekejap berubah menjadi seperti orang lain." ucap Elia penuh makna.
Gavin yang mendengar itu, ini menatap tajam ke arah istri kecilnya itu." apa kau menyindirku? Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? yang bisa-bisanya mau dibawa oleh laki-laki lain?" tangannya dengan tatapan yang sangat tajam.
" itu karena aku juga merasa sangat ketakutan. karena ibumu, meninggalkanku di tempat yang sangat asing." tak mau kalah dari sang suami, Elia juga melayangkan tatapan tajam.
Kevin yang mendengar itu, seketika langsung tersulut emosi. dan dengan segera,..
Plak
" Jangan pernah memfitnah ibuku. memang Ibuku sangat keterlaluan dengan memperlakukanmu selama ini, namun, bukan berarti kamu bisa memfitnah ibuku sesuka hatimu." ucap Gavin dengan Tatapan yang sangat tajam.
Elia yang mendengar itu, seketika menundukkan kepala. bukan karena merasa takut dengan perbuatan yang dilakukan oleh suaminya itu. Namun, Elia merasa sangat bodoh karena terjebak di dalam situasi seperti ini.
" Aku menyesal, menyesal karena memiliki perasaan yang sangat dalam terhadapmu." ucap Elia Seraya mengusap air matanya yang jatuh.
__ADS_1
Dengan langkah tergesa-gesa, Elia keluar dari dalam kamar itu Seraya berderai air mata. dirinya berlari entah sampai ke mana.
Hingga akhirnya, dirinya sampai di sebuah taman yang berukuran sedang. dan dengan segera, gadis cantik itu menjatuhkan dirinya di kursi kayu yang ada di tengah-tengah hamparan bunga.
" kenapa kenapa Tuhan, kenapa engkau memberikan rasa yang begitu besar terhadap laki-laki yang salah?" tanya Elia menengadahkan pandangannya ke atas. menatap langit yang mulai gelap gulita itu.
***
Sementara Gavin yang baru menyadari apa yang baru saja ia perbuat, segera mencampak rambutnya dengan sedikit kasar.
"aarrgghh! Kenapa aku bisa lepas kendali seperti ini sih?" tanya laki-laki itu seorang diri.
" itu memang pantas untuk seorang wanita penggoda seperti Elia." tiba-tiba saja, terdengar suara dari arah belakang. dan dengan segera, Kevin menoleh ke arah sumber suara.
" mama, Mama mendengar semuanya?" tanya Gavin pada wanita paruh baya itu.
" tentu saja Mama mendengar semua yang kalian katakan." ucap Hesti tersenyum kecil." ingat Gavin, apapun yang dikatakan oleh Elia, itu sama sekali tidak benar. mana ada, seorang ibu yang ingin menjerumuskan anaknya?" wanita paruh baya itu mengusap kepala putranya dengan perasaan sayang.
Gavin yang mendengar itu, seketika mendogak menatap ibunya." lalu, apa yang aku harus lakukan? apa aku harus mencarikan dia?" tanya Gavin pada wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Hesti menggelengkan kepala" jangan, lebih baik kamu segera menikah dengan Monalisa. karena itu hukuman yang paling pantas untuk istri durhaka Seperti Elia."
Gavin yang mendengar itu, mengangguk setuju." Baiklah kalau begitu, aku ikut Ibu saja." ucapnya Seraya berjalan keluar dari dalam kamar itu.