
Sementara itu, di dalam kamarnya Hesti tengah memandang sebuah foto dengan tatapan yang sangat tajam namun dengan mulut yang tersenyum lebar.
"akhirnya, apa yang aku inginkan tercapai juga dan kamu bersiaplah untuk menerima penderitaan yang lebih karena setelah ini aku akan memastikan bahwa putraku akan meninggalkanmu."ucap Hesti Seraya menusukkan sebuah jarum pentul di sebuah foto yang mengarah tepat di wajah menantunya.
Hesti merasa sangat bahagia karena pada akhirnya, putranya itu mau mendengarkan apa yang ia inginkan. Tidaklah wanita paruh baya itu tahu apa yang direncanakan oleh menantu yang akan di bangga-banggakan itu.
Mungkin, jika Hesti mengetahui hal itu, mungkin saja Hesti tidak akan pernah ingin berurusan dengan dua wanita iblis seperti mereka.
"mah, apa sudah siap?"lamunan wanita paruh baya itu terhenti, saat mendengar suara dari suaminya yang telah berada di belakang wanita paruh baya itu.
Hesti yang mendengar itu, seketika membalikkan badan dan tersenyum penuh dengan kebahagiaan.
"siap lah Pah, Mamah kan mau menyambut menantu yang Mama idam-idamkan selama ini,"Hesti mengembangkan senyumannya dan menggandeng tangan sang suami.
Berbeda dengan raut wajah yang ditunjukkan oleh Hesti, Ivan justru merasa sedikit khawatir. dengan calon anggota barunya itu.
Namun sayangnya, laki-laki paruh baya itu tidak dapat berbuat apa-apa. karena memang, selain Ivan tidak bisa memarahi istrinya karena serangan jantung, harta yang mereka miliki ini adalah murni milik Hesti. dan Ivan hanya bertugas untuk mengelolanya saja. karena memang, laki-laki paruh baya itu tidak memiliki kuasa apapun.
" semoga apa yang papa takut kan tidak akan pernah terjadi ya mah,"ucap Ivan ambigu.
Membuat Hesti yang mendengar itu, seketika menautkan kedua alisnya. karena merasa bingung, dengan ucapan yang ditunjukkan oleh suaminya itu.
__ADS_1
"emangnya kenapa?"tanya Hesti yang saat ini menatap suaminya dengan tatapan menyelidik.
Namun, Ivan yang mendengar itu, segera menggelengkan kepalanya."tidak ada Papah hanya asal bicara saja, ayo kita berangkat, apa Gavin sudah siap,"ucap Ivan untuk mengalihkan perhatian istrinya.
"aku sudah siap Pah," tiba-tiba saja, Gavin keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang sangat rapi.
Tentunya, itu membuat Hesti seketika tersenyum lebar. dan dengan segera langsung menghampiri putra kesayangannya itu."kamu tampan sekali hari ini, ucapnya Seraya mengusap rahang kokoh milik anaknya.
"ayo kita segera berangkat Mah,"ujar Gavin Seraya menggandeng tangan sang ibu.
Namun seketika itu, langkah Kevin dan kedua orang tuanya terhenti. saat melihat, Elia keluar dari dalam kamar dengan membawa sebuah tas ransel.
"mau ke mana kau?"tanya Hesti dengan raut wajah yang sangat ketus.
"aku memutuskan akan pergi dari sini,"ujar Elia Seraya menggandeng tas ransel yang ada tangannya.
"baguslah, akhirnya kau sadar diri juga,"sahut Hesti cepat.
Elia yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu. namun, sejenak Elia menghentikan langkahnya. kemudian, berbalik menatap suami dan kedua mertuanya itu.
"oh iya satu lagi, kalian tidak tahu bagaimana sifat ibu tiri dan kakak tiriku. dan nanti jika waktunya tiba, jangan pernah kalian menyesal."ujar Elia tersenyum tipis. kemudian melangkahkan kakinya untuk meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
"itu tidak akan pernah terjadi! dasar gadis sinting!"maki Hesti dengan suara lantang.
"sudah lah Mah, lebih baik kita berangkat saja,"ucap Ivan mencoba untuk menenangkan.
Walaupun laki-laki paruh baya itu juga memiliki firasat yang sama dengan apa yang dikatakan oleh menantunya itu. Namun, sekali lagi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. dan akhirnya, keluarga Harsono berangkat menuju ke tempat acara.
*****
Akhirnya, kini Gavin dan Monalisa telah sah menjadi suami istri. dan hal itu membuat Monalisa dan juga Sofia, merasa berada di atas awan. Begitupun juga dengan Hesti. wanita paruh baya itu, tersenyum sepanjang acara.
"selamat ya sayang, semoga kamu berdua dapat menjalani rumah tangga ini dengan bahagia."ucap Hesti yang langsung memeluk menantu kesayangannya itu.
"terima kasih ya mah, akhirnya Monalisa bisa menikah dengan mas Gavin. ini adalah impian Monalisa,"ujarnya Soraya tersenyum manis.
Mereka semua, tampak berbincang-bincang hangat. Namun, hal itu tidak terjadi pada Amar. karena laki-laki paruh baya itu tengah menatap ke sekeliling. seperti tengah mencari seseorang.
"anda mencari siapa tuan?"tanya Ivan Seraya menepuk bahu laki-laki paruh baya itu.
"aku mencari Elia, ada yang mengatakan katanya ini sudah sembuh, tapi kok tidak ada, di mana dia?"tanya Amar pada Ivan.
Mendadak, wajah Ivan berubah sedikit masam."dia memutuskan untuk pergi tuan,";ucapnya dengan wajah sendu.
__ADS_1
Amar yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala.