Cinta Tulus Gadis Buta

Cinta Tulus Gadis Buta
Bab 109


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, Akhirnya kini Elia telah sampai di kediaman mertuanya. gadis itu segera turun dan berjalan menuju ke kediaman mertuanya itu.


Elia sesekali akan tersenyum saat berpapasan dengan para pekerja di rumah itu. langkahnya terhenti di ambang pintu utama.


.


Kemudian tangannya terangkat hendak mengetuk pintu rumah itu. namun tepat saat setelah gadis itu ingin mengetuk pintu, seseorang membuka pintu itu dari dalam.


Suasana sejenak mendadak menjadi sunyi saat dua pasang mata itu saling bertemu satu sama lain dengan tatapan yang berbeda.


"Elia,"gumam Gavin yang masih berada di ambang pintu dengan langkah terhenti dan tubuh yang seperti membatu.


Sementara orang yang disebut namanya, segera mengumpulkan kesadarannya. karena sejujurnya, gadis itu juga merasa sedikit terkejut.


"maaf tuan, bolehkah saya masuk?"tanya Elia dengan suara lembut dan juga kepala yang menunduk ke bawah. menandakan kesopanan. dan hal itu membuat Gavin semakin merasa nyeri.


Karena ternyata, istrinya ini benar-benar menjadi orang lain dan tidak bisa dijangkau lagi.


"silakan,"ujarnya dengan suara lirih dan juga terdengar sangat berat. Elia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah itu.


Namun tiba-tiba saja, langkah gadis itu terhenti saat mendengar suara Gavin. "ternyata kau masih peduli dengan ibuku, tapi kenapa kau tidak ingin menerimaku kembali?"tanya Kevin dengan suara mengintimidasi.

__ADS_1


Membuat Elia yang mendengarnya, merasa sedikit tercengang. gadis cantik itu sejenak terdiam. namun hal itu tak berlangsung lama. Elia segera membalikkan badannya, menatap laki-laki itu dengan tatapan dingin disertai senyuman miring.


"apakah pantas, seseorang yang telah tega memfitnah kita dan juga menduakan kita mendapatkan maaf dan posisi di hatinya kembali?"tanya Elia sarkas.


Membuat Gavin seketika terdiam. laki-laki itu merasa tidak percaya, gadis polos yang ditemui pertama kali, kini telah berubah menjadi gadis yang sedikit pintar.


"aku minta maaf, tapi bukankah kamu tahu aku melakukan itu hanya karena hasutan ibuku?"Gavin masih berusaha membela diri.


Membuat Elia semakin memandang rendah laki-laki yang ada di hadapannya itu. sungguh, dirinya tidak mengerti kenapa bisa jatuh ke dalam pelukan laki-laki seperti ini. laki-laki yang akan nurut apa kata ibunya.


"dengar Tuan Gavin Harsono, anda seorang laki-laki bukan, jika anda seorang laki-laki, maka Anda harus bersikap tegas. janganlah terlalu mengikuti apa kata ibu anda. karena ibu anda juga hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan."ujar Elia dengan senyuman kecut di wajah cantiknya.


Kemudian gadis cantik itu kembali melangkahkan kaki untuk menuju ke kamar sang ibu mertua. namun, langkahnya kembali terhenti. dan menatap Gavin dengan tatapan yang masih sama.


Meninggalkan Gavin yang masih tertegun di tempatnya. nampaknya, lagi tampan itu masih berusaha mencerna ucapan dari Elia. namun hal itu tak berlangsung lama. setelah tersadar dari lamunannya, Gavin segera menyusul Elia yang telah masuk ke dalam kamar sang ibu.


****


"mau apa kau kemari?!"tanya Hesti saat Elia telah berada di dalam kamar wanita paruh baya itu.


Sementara Elia yang mendapatkan tatapan tajam itu, hanya dapat tersenyum simpul."aku kemari hanya ingin melihat keadaan ibu, apakah ibu baik-baik saja?"tanya Elia dengan tangan terangkat handak mengusap bahu wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Namun dengan segera, gerakan Elia terhenti saat mendapatkan tepisan tangan dari wanita paruh baya itu.


"astaga ibu,"gumam gadis cantik itu dengan nada yang lirih yang nyaris tidak terdengar oleh siapapun. "ternyata sikapmu masih sama,"ucap gadis itu dalam hati.


"untuk apa kau masih di sini, sekarang kau pergi sana cari kakakmu sampai dapat dan bawa dia kemari!"ucap Hesti Seraya melayangkan tatapan yang sangat tajam.


"baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."ucapnya Seraya meraih tangan wanita paruh baya itu dan menciumnya.


Begitupun dengan Ivan. Elia juga melakukan yang sama. bedanya, saat mencium punggung tangan Ayah mertuanya itu, Lia mendapatkan alusan hangat dari laki-laki paruh baya itu.


"aku janji, pasti akan menemukan kakak tiriku,"setelah mengatakan hal itu, Elia bergegas keluar dari dalam kamar mertuanya dan langsung menuju ke pintu utama.


Sementara itu, Gavin yang hendak menyusul Elia untuk mengantarkannya pulang, lagi-lagi harus berhenti saat mendengar suara dari ibunya.


Elia yang melihat itu semua, merasa begitu miris. laki-laki yang seharusnya memiliki pendirian, malah seperti anak kecil yang harus mengikuti semua apa kata ibunya. namun setelahnya, Elia menggelengkan kepala. merasa tidak berhak ikut campur atas keluarga itu lagi.


****


Di sinilah Elia saat ini. di depan rumah sang ayah. dengan perlahan-lahan, Elia segera mengetuk pintu rumah itu. dan tak berselang lama, seseorang membukanya dari arah dalam.


"eh Non Elia, silakan masuk. Tuan sedang tidak enak badan. beliau ada di dalam kamar,"Elia menganggukkan kepala Seraya melangkahkan kakinya menuju ke kamar sang ayah.

__ADS_1


"bagaimana keadaan Ayah?"tanya Elia saat gadis itu telah masuk ke dalam kamar Amar.


Sementara laki-laki paruh baya itu, hanya terdiam Seraya menatap Elia dengan tatapan sendunya.


__ADS_2