
Sesampainya di dalam kamar, Gavin segera menonton istrinya untuk duduk di atas tempat tidur. Sementara dirinya, memutuskan akan membersihkan diri terlebih dahulu. karena memang, hari sudah petang.
" kamu di sini dulu ya, Mas mau mandi." ujarnya Seraya mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Elia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, dengan segera Gavin masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Elia, diam-diam Gadis itu mengusap air mata. bukan air mata kesedihan seperti biasanya. Melainkan, air mata kebahagiaan dan juga penuh haru. Karena pada akhirnya, dirinya menjadi orang yang sangat beruntung. dapat dicintai, oleh orang hebat seperti Gavin.
" terima kasih, terima kasih ya Tuhan, akhirnya engkau berlaku adil padaku." ucapnya dengan terus mengusap air mata yang berjatuhan membasahi wajah cantiknya.
Tak berselang lama, Gavin keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. dan dengan segera, langsung memeluk istrinya itu.
Tentu saja, Elia yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba, sedikit terkejut. hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
" Mas kenapa?" tanya Elia dengan raut wajah kebingungan.
Gavin semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya itu. Kemudian, dengan segera mengecup pipih gadis itu.
__ADS_1
" Aku rindu!" bisiknya tepat di telinga gadis itu. hingga membuat pipinya seketika memerah padam karena merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Karena Elia tahu, Apa yang akan terjadi selanjutnya. Gadis itu pun, hanya mengangguk lirih tanda mengiyakan permintaan suaminya.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kamar orang tua Gavin, terdengar suara keributan dari dalam sana. siapa lagi pelakunya jika bukan Hesty dan juga Ivan. kedua manusia paruh baya itu, sepertinya tengah merebutkan sesuatu.
" Mama sudah keterlaluan. Kenapa, kenapa Mama tidak suka terhadap Elia. Padahal, dia itu gadis yang baik." ucap Ivan Soraya menatap istrinya itu.
"Ck," Hesti yang mendengar itu, berdecak sebal. karena ternyata, suaminya itu membuntutinya sampai ke dalam kamar, hanya untuk bertanya masalah yang tidak penting itu." jelas Mama tidak suka. dia itu bukan kriteria mama." selanjutnya dengan masih nada yang sedikit Ketus.
" sudah mah, Gavin itu sudah besar sudah bisa mengatur hidupnya sendiri. Jangan pernah ikut campur lagi urusan dia!" tegas Ivan dengan suara yang sedikit membentak. hingga membuat, Hesti yang mendengarnya, seketika terperanjat kaget.
"Pa-Papa bentak mama?" tanya Hesti dengan linangan air mata yang membanjiri pipinya.
Ivan yang mendengar itu, seketika tersadar dari apa yang baru saja dirinya perbuat. dan dengan segera, langsung memeluk tubuh istrinya itu dan sesekali mengecup keningnya. Sungguh, pria paruh baya itu tidak bermaksud untuk berbuat kasar pada wanita yang sangat ia cintai. mau bagaimana lagi, ini dia lakukan, agar istrinya itu mau mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
" Maafkan Papa mah, Papa tidak bermaksud untuk membentak mama." ucap laki-laki itu penuh dengan penyesalan.
Hesti yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, masih dengan erat memeluk tubuh suaminya itu." kurang ajar! berani kau mengubah anak dan suamiku, awas aja kau Gadis sialan!" ucapnya dalam hati dengan tatapan penuh dengan amarah.
Entahlah, wanita seperti apa Hesti ini. Padahal, dirinya jelas-jelas bersalah dalam hal ini karena selalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Namun, dengan bangga dan entengnya, malah melampiaskan kepada orang lain.
yang lebih parahnya lagi, di dunia ini, banyak sekali manusia-manusia model seperti Hesti ini. di dunia Halu maupun di dunia nyata hehehe.
" sudah ya, sekarang, Kita istirahat. Besok, Papa harus bangun pagi karena ada meeting dengan klien." ucap Ivan dengan nada yang sangat lembut.
Percayalah, di dalam hati Ivan yang paling dalam, sangat menyesali perbuatannya. Karena membentak istri tercintanya itu. Karena, baru pertama kali ini, Ivan membentak Hesti. hingga membuat wanita paruh baya itu, menangis seperti ini.
****
Pagi harinya, mereka semua melakukan aktivitas seperti biasa. dan seperti biasa pula, Gavin dan Elia berangkat bekerja bersama-sama. Namun, ada pemandangan sedikit berbeda dari wanita paruh baya yang ada di rumah itu. Siapa lagi orangnya juga bukan Hesti.
Wanita paruh baya itu, mendadak sedikit lebih lembut kepada Elia. Hal itu membuat dua orang laki-laki yang melihatnya, memberikan reaksi yang berbeda-beda.
__ADS_1
Jika Ivan tersenyum senang, karena laki-laki paruh baya itu berfikir, jika istrinya sudah dapat menerima keberadaan menantunya. Namun, berbeda dengan Gavin. laki-laki Tampan itu, menetap ibunya dengan Tatapan yang sedikit aneh dan juga ada kengerian yang tercipta di dalam diri ibunya itu. Namun, tidak bisa ditebak oleh laki-laki itu.