
Saat Elia menuju kamarnya, samar-samar gadis itu seperti tengah mendengarkan seseorang yang sedang berbincang-bincang.
Dengan langkah perlahan-lahan, Elia melangkahkan kaki menghampiri sumber suara. entah sejak kapan, Elia menjadi pribadi yang sedikit kepo terhadap urusan orang lain. padahal biasanya gadis itu tidak pernah ingin tahu urusan orang lain.
"bagaimana, apa rencana kita berjalan dengan mulus?"tanya seseorang yang Elia tahu, adalah mertuanya.
"tante tenang saja semua akan baik-baik saja dan rencana kita akan berjalan dengan semestinya"ucap seseorang yang Elia tahu adalah Andri.
"baguslah kalau begitu, semoga saja Gavin akan percaya dengan apa yang akan saya katakan."ucap Hesti seraya tersenyum miring.
tentunya itu membuat Elia yang mendengarnya, merasa sedikit terkejut. dan dengan segera, gadis cantik itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"tidak pernah menyangka ternyata mereka merupakan orang-orang yang bekerja sama untuk memisahkan aku dengan mas Gavin." ucap Elia dengan raut wajah kecewa.
dan setelah merekam semuanya Elia segera kembali ke dalam kamar untuk beristirahat karena besok pagi gadis itu akan menunjukkan semua pada suaminya.
*****
sementara itu di lain tempat, terlihat dua orang wanita yang berbeda generasi, sepertinya tengah berbahagia.
"akhirnya mah aku bisa mendapatkan keinginanku dan setelah semuanya terpenuhi kita harus pergi dari sini."ucap seorang wanita muda kepada wanita tua yang ada di sampingnya.
__ADS_1
siapa lagi orangnya jika bukan Monalisa dan juga ibunya. sepertinya, dua orang wanita berbeda generasi itu, tengah menikmati kebahagiaan mereka. tanpa tahu takdir apa yang akan mereka jalani selanjutnya.
"kamu memang benar sayang, setelah kamu dapat menguasai semuanya, kita harus segera pergi dari sini."ucap Sofia seraya tersenyum penuh kemenangan.
Akhirnya, ibu dan anak itu segera masuk ke dalam rumah mereka untuk beristirahat. karena pagi nanti, Monalisa akan menyambut kebahagiaan karena telah berhasil menikah dengan pengusaha kaya raya seperti Gavin Harsono itu.
Pagi harinya, Monalisa dan Sofia, terlihat begitu sibuk mempersiapkan semuanya. bahkan tak tanggung-tanggung, wanita paruh baya itu sampai menyewa sebuah tim khusus untuk membuat hari dari putrinya menjadi lebih bahagia.
Baginya, tidak ada masalah untuk merogoh uang lebih dalam. karena sebentar lagi, derajatnya akan diangkat oleh Putri kesayangannya itu.
"bagaimana, apakah semua sudah siap?"tanya Sofia pada Putri cantiknya itu. yang menurutnya, hari ini terlihat sangat cantik dan mempesona.
wanita paruh baya itu yakin, jika Gavin pasti akan langsung terpesona dengan kecantikan Putri semata wayangnya itu.
Jika, kalian bertanya apakah Amar wirawan merestui semua perbuatan yang dilakukan oleh istri dan anak tirinya, jawabannya adalah iya. karena laki-laki paruh baya itu, sama sekali tidak peduli dengan nasib Putri kandungnya.
Mereka semua segera bergegas menuju ke tempat acara yang terletak di sebuah hotel ternama di kota itu.
"Monalisa sudah tidak sabar untuk menyambut kebahagiaan ini Mah,"ucapnya seraya tersenyum simpul.
"Mama juga sudah tidak sabar untuk mendapatkan pesan sekaya mereka,"ujarnya berbisik di telinga Putri kesayangannya itu.
__ADS_1
Jangan kalian kira, dua wanita itu akan leluasa mengatakan rahasia mereka di depan orang lain.
karena Sofia dan juga Monalisa, tidak ingin semua orang tahu akan rencana mereka itu. karena mereka yakin, jika ada orang yang tahu maka semuanya akan hancur berantakan.
****
"mas tunggu, aku ingin berbicara serius. tolong jangan kau sepelekan ucapanku itu karena semuanya memang benar-benar akan terjadi mas,"ucap Elia mencoba untuk meyakinkan suaminya agar mau membatalkan semua rencana pernikahan itu.
namun, alih-alih mendengarkan laki-laki itu malah mendorong tubuh istrinya dengan sedikit kasar. karena beranggapan, jika Elia hanya mengada-ada saja. dan juga alasan cemburu. sehingga, mampu memfitnah mertuanya sampai sekejam itu.
"sudahlah Elia, jangan pernah kau memfitnah ibuku lagi."ucapnya dengan nada rendah namun dengan tatapan yang sangat tajam.
"mas aku tuh nggak bohong, kalau mas gak percaya, coba mas dengarkan rekaman ini."
brang
Elia menatap nanar kepada benda pipih yang baru saja dibanding oleh suaminya itu.
"jangan pernah mencoba untuk mempengaruhi ku dengan fitnahan murahanmu itu!"setelah mengatakan hal itu, Gavin segera berjalan meninggalkan Elia yang masih menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"terserah kalau kamu nggak percaya,"setelah mengatakan hal itu, Elia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
rencananya, Elia akan keluar dari rumah itu. karena dia merasa, rumah ini bukanlah tempat yang aman untuk dirinya berteduh. terlebih lagi, sekarang tidak ada orang yang mau mendengarkannya.