
Mendengar ucapan dari Elia, Gavin tampak termangu di tempatnya untuk beberapa saat. Kemudian, laki-laki itu, kembali mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan dua telapak tangannya.
" Tolonglah Elia, aku hanya ingin bertanggung jawab atas dirimu. Bagaimana kalau Kamu hamil, aku akan merasa sangat bersalah jika itu terjadi." ucap Gavin masih saja berusaha untuk meluluhkan pendirian gadis cantik itu.
Elia yang mendengar perkataan laki-laki itu, sejenak terdiam. dan dengan segera, menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis." anda tidak usah khawatir tuan, jika itu terjadi, maka aku akan menjaga bayi ini dengan sepenuh hati. dan tidak akan pernah membebani tuan dengan kehadirannya." ucap Elia tersenyum tipis.
Gavin yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala dengan kuat. bukan itu tujuannya yang sebenarnya menakut-nakuti Elia. Namun, nampaknya gadis itu keras kepala. dan Sangat kokoh pendiriannya.
" Ayolah Elia, aku ingin menikahimu itu karena, Kamu adalah wanita yang baik dan juga sangat Tulus. dan aku jatuh cinta padamu." ucap Gavin dengan sangat Lirih.
Elia yang mendengar penuturan laki-laki yang ada di hadapannya itu, seketika menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis.
" maaf tuan, tapi Sekali lagi saya katakan, Saya tidak mau menikah dengan orang yang hanya mengasihani saya. karena saya sudah lelah dengan keterpura-puraan." ucapnya dengan lirih namun juga penuh dengan penekanan.
Gavin yang mendengar itu, seketika hanya menghela nafas panjang. entah bagaimana lagi, laki-laki itu untuk meyakinkan Elia agar mau dan bersedia menikah dengannya.
" Ya sudah kalau begitu, Saya pergi dulu. tapi ingat, kalau kamu berubah pikiran, Tolong beritahu saya." ucap Gavin Soraya melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan itu.
" dan satu lagi, menjadi single mother di usia muda itu tidak enak. apalagi dengan semua keterbatasan itu. Tolong jangan keras kepala!" lanjut Gavin dengan nada tegas.
Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang sedari tadi Mendengar pembicaraan antara Elia dan juga Gavin. Siapa lagi orangnya jika bukan Nella. Wanita itu sebenarnya tidak sengaja mendengar percakapan antara Gavin dan juga Elia. saat dirinya, hendak melewati ruangannya sendiri.
Mengetahui jika ada seseorang yang akan membuka pintu, dengan segera gadis itu bersembunyi di balik pot bunga yang sangat besar yang berada di samping kiri ruangannya.
Nella dapat melihat, raut kekecewaan yang tercetak jelas di wajah tampan laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya itu. Entah mengapa, rasanya Nella masih merasakan rasa Getaran yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Dengan segera, wanita itu menepis pikiran-pikiran aneh yang berbisik di dalam hatinya." daripada menduga-duga seperti ini, Lebih baik aku bertanya langsung dengan Elia." gumamnya Seraya melangkahkan kaki untuk memasuki ruangannya.
***
Sementara itu, di dalam ruangan, Elia tampak termenung di tempatnya. dan sesekali, air matanya jatuh tak tertahankan. ternyata orang yang melakukan itu, bukannya orang yang tidak ia kenal. Melainkan, orang yang beberapa kali menolongnya.
" apa dia sengaja berbuat seperti itu, karena tahu jika aku adalah gadis yang sangat lemah dan mudah dibohongi?" tanya Gadis itu dalam hati.
Sesekali, Elia tampak mengusap air matanya yang mengalir deras seperti anak sungai." apa yang harus aku lakukan sekarang, yang dikatakan oleh laki-laki itu memang benar. kalau aku, tidak akan bisa merawat seseorang dengan kondisiku seperti ini." gumamnya dengan nada lirih.
" Ya Tuhan tolong Elia, Jangan biarkan kehidupan lain tumbuh di kehidupan Elia, karena sepertinya Elia tidak akan sanggup Tuhan!" ucapnya Seraya berderai air mata.
Sungguh dirinya benar-benar sangat ketakutan akan hal itu benar-benar terjadi. Gadis itu terus saja memohon agar Tuhan tidak memberikan kehidupan di dalam rahimnya. dengan kata lain, jangan ada janin di dalam perutnya.
Namun Kendati demikian, gadis itu tetap enggan untuk menerima lamaran dari Gavin. karena dirinya tidak ingin, menjadi sasaran bullying untuk yang kesepian kalinya.
Apalagi orang-orang dan keluarga besar Gavin, pasti tidak akan pernah menyetujui hal ini. terlebih lagi, dirinya sudah cukup merasa lelah mendapatkan perundungan dari berbagai pihak termasuk dengan keluarganya sendiri.
Jadi, Elia memutuskan untuk tetap bertahan dengan keputusannya ini. toh pasti, keluarganya juga akan menanggung malu jika nantinya dirinya hamil tanpa suami. begitupun dengan keluarga Gavin. pasti juga akan merasakan malu yang cukup mendalam. Elia tidak ingin menambah daftar orang yang membencinya.
Tanpa disadari oleh Elia, seseorang ternyata telah membuka pintu ruangan itu dengan perlahan dan tanpa menimbulkan suaranya.
Siapa lagi jika bukan Nella wanita itu, seketika mematung karena mendengar penuturan dari Elia. Sesungguhnya, hatinya merasa sangat sakit. Tapi entah mengapa, wanita itu merasa begitu Iba melihat kondisi dari gadis yang sudah ia anggap sebagai Adiknya sendiri.
" kau ini mikir apa sih Nella, Gavin itu masa lalumu. Jangan pernah terbawa perasaan lagi. karena sepertinya, laki-laki itu sudah menemukan tambatan hatinya yang baru." ucap Nella dalam hati berusaha untuk mengusir rasa aneh di dalam hatinya.
__ADS_1
" Elia Mengapa kau menangis, Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nella Seraya berjalan menghampiri gadis itu.
Dengan segera, Elia segera menghapus air mata yang membasahi pipi. sesaat setelah gadis itu mendengar suara dari wanita yang begitu baik padanya.
Elia menggelengkan kepala. kemudian dengan cepat, mengusap air matanya yang masih mengalir di pipinya itu.
Nella yang melihat itu, hanya terdiam. karena sepertinya gadis itu, masih tidak ingin untuk berbicara padanya.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita. sekarang kamu ikut saya," ucapnya Seraya menarik tangan Elia.
" mau ke mana nona,?" tanya Elia yang merasa kebingungan. namun, gadis itu tetap menuruti perintah dari wanita yang sudah terlalu baik padanya itu.
Mereka akhirnya keluar dari ruangan Nella dengan Elia yang digandeng oleh wanita itu. tentu saja, Pemandangan itu, Mengundang rasa iri dan juga kecemburuan pada sebagian karyawan yang ada di sana.
karena mereka merasa, hanya Elia lah yang mendapatkan perlakuan khusus seperti itu. Padahal, itu dilakukan karena Elia mempunyai keterbatasan.
Mengapa para karyawan itu hanya mementingkan ego dan juga rasa cemburu yang berlebihan saja. Mengapa, mereka tidak pernah melihat dari sisi keterbatasan Elia.
Mungkin, karena mereka sudah dipenuhi dengan rasa kebencian yang sudah mendarah daging. dan itu artinya, sangat sulit untuk melepaskan itu semua.
" Saya mau pulang dulu, kalau ada apa-apa, Tolong segera hubungi saya." ucap Nella menatap seluruh karyawannya secara bergantian.
Nb : nih author bawain lagi yang spesial pakek telur hihihi
__ADS_1