
Beberapa hari setelah Gavin datang ke rumah untuk mencari Elia dan mengatakan hal yang tidak sepantasnya diucapkan, Elia mendadak menjadi seseorang yang pendiam.
Tentu saja itu membuat Justin dan juga Arman yang sesekali bermain ke rumah dan bertemu dengan Elia, menjadi sedikit heran.
"kamu kenapa? kok wajahmu murung gitu? "tanya Arman mencoba untuk bertanya kepada gadis itu.
Namun yang ditanya, menggelengkan kepala. pertanda, jika gadis itu tidak mau membuka suaranya. Elia tidak ingin, hubungan ketiga laki-laki tampan itu menjadi semakin renggang saat mengetahui apa yang dialami oleh Elia.
"ya sudah kalau kamu tidak mau berterus terang, lebih baik kita sekarang menyusun rencana untuk membuat sesuatu yang dapat menghasilkan uang."ucap Justin.
sepertinya laki-laki tampan itu, tengah memikirkan sesuatu hal yang berhubungan dengan uang. karena obrolan laki-laki itu, dari beberapa hari yang lalu, terus membahas soal pemasukan yang sekarang sudah tidak ada.
"loe kayaknya takut banget ya, sampai setiap kita ngumpul lalu uang yang dibicarakan?"sindir Arman pada sahabatnya itu.
"besok gue harus ngasih uang buat biaya sekolah adik gue. udah nggak punya uang lagi,"ucap Justin jujur
Tentu saja hal itu semakin membuat Elia merasa sangat bersalah."maaf ya Kak, gara-gara kakak nolongin aku, jadi susah seperti ini,"ucapnya menundukkan kepala.
"awww,"ketika Justin mengerang kesakitan saat merasakan punggungnya digeplak oleh seseorang. dan dengan segera, menoleh ke arah belakang. dan mendapati Arman yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
Tentu saja, hal itu membuat Justin seketika tersadar dari apa yang ia katakan. "sudahlah tidak usah sedih-sedih, lebih baik kita usaha aja. siapa tahu, setelah ini kita bisa kerja di tempat yang lebih baik,"ucap Justin mencoba meralat ucapannya dan mengubah sedikit situasi yang terasa sangat berbeda itu.
Membuat Arman yang mendengar itu seketika menghela nafas panjang."syukurlah,"gumamnya Seraya tangannya mulai memainkan benda pipih dan canggih itu.
__ADS_1
"eh ada ada cafe yang mau dijual ini,"tiba-tiba saja Arman berkata dengan girang. hingga membuat Justin dan Elia seketika melihat ke arah laki-laki itu.
"wah murah tuh Kak cuma sekitar 10 juta,"ucap Elia dengan nada yang sangat girang.
"ya udah kita pergi ke sana ya,"tawar Arman pada kedua manusia yang ada di hadapannya itu. dan hal itu langsung mendapatkan anggukan dari keduanya.
"kamu sama aku aja Elia,"ucap Arman saat gadis itu terlihat sangat kebingungan saat mereka sudah berada di depan motor masing-masing.
Elia yang mendengar itu, langsung menganggukkan kepala. dan dengan segera langsung naik di belakang Arman. dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap kegiatan itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"ternyata memang benar mereka tinggal satu rumah, huh dasar murahan!"maki orang itu yang tak lain adalah Gavin.
memang beberapa hari ini, Gavin selalu mengintai pergerakan Elia. apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu. sehingga, rela membuang waktunya untuk mengintai seseorang yang dianggapnya telah menjadi masa lalu.
*****
Tak berapa lama, akhirnya Elia dan yang lain telah sampai di depan sebuah cafe yang terlihat sedikit usang.
"ini Kak, tempatnya?"tanya Elia saat gadis itu turun dari motor Arman dan berjalan di antara kedua laki-laki tampan itu.
"iya Elia, apa kamu suka?"tanya Arman pada gadis itu. Elia yang mendengar itu, langsung menganggukkan kepala dengan antusias.
"suka Kak, di mana orangnya?"tanya Elia. dan langsung ditunjukkan oleh Arman, Di mana keberadaan pemilik cafe itu.
__ADS_1
***
"Deal!"
Arman dan si pemilik cafe itu akhirnya berjabat tangan sebagai tanda semuanya telah disepakati.
"baik kalau begitu saya permisi dulu,"ucap laki-laki itu Seraya keluar dari dalam kafe kecil itu.
Sementara Elia dan yang lain, berkeliling untuk melihat kondisi bangunan itu. "bagus banget bangunannya, tinggal dipoles aja sedikit ini."ujar Elia pada kedua laki-laki itu.
"bagus sih El, tapi nanti yang masak siapa?"tanya Justin pada kedua orang itu.
"kita beli aja alat pembuat stik sama burger di online shop, nanti kalau udah ramai baru kita cari tukang masak."ucap Elia memberikan usul.
Justin dan Arman yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. setelahnya, sembari menunggu pesanannya datang, ketiga orang itu segera memulai aktivitasnya masing-masing. yaitu, membersihkan kursi dan juga meja yang ada di dalam kafe itu. dan yang lain mewarnai kembali tembok yang terlihat mulai usang.
Dan tanpa disadari oleh mereka bertiga, ternyata Gavin sedari tadi menatap ketiganya itu dengan tatapan mengerikan.
"mereka berusaha untuk membuka usaha ternyata,"gumam laki-laki itu Seraya menatap lurus ke depan.
Entahlah, mengapa Gavin masih tidak ikhlas. padahal, dirinya sendiri yang membuang Elia. namun dirinya merasa sangat tidak ikhlas jika Elia jatuh ke pelukan laki-laki lain. apalagi laki-laki itu adalah salah satu dari kedua sahabatnya.
Setelah lama mengamati keadaan yang ada di dalam cafe itu, Gavin memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. toh dirinya merasa tidak ada gunanya mengawasi ketiga orang itu.
__ADS_1
"tidak, tidak mungkin aku masih menyimpan rasa pada gadis itu. dia udah selingkuh dan juga memfitnah Mama,"ucap Kevin mencoba mengelak pada perasaannya sendiri.