Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Satu bulan berlalu mereka semua kembali ke aktivitas masing-masing. Imel yang semakin sibuk dengan pasien-pasiennya. Nita, Dini dan Wulan tengah mempersiapkan sidang skripsi yang akan mereka jalankan.


Dini dan Nita yang satu kost bersama Imel pun sudah jarang bertemu karena kesibukan mereka. Olah raga pagi yang sering mereka lakukan pun hampir sudah tidak pernah lagi. Terkadang Imel long sip untuk memenuhi tugasnya.


"Dokter, ada pasien kecelakaan." Lapor perawat yang bernama Agus.


"Oke Bruder." Imel.


Setelah menutup map laporannya Imel pun segera menemui pasien kecelakaan yang di katakan oleh Agus.


"Korban kecakaan beruntun Dok." Ucap Agus yang melihat Imel masuk ke dalam bilik periksa.


"Siang Bapak. Apa Bapak bisa mendengar saya?" Tanya Imel.


Pasien tersebut pun mengangguk.


"Baiklah. Bagian mana yang terasa sakit?" Tanya Imel lagi.


"Kaki saya Dok." Jawab pasien tersebut.


Seperti mengenal suaranya Imel pun menoleh ke arah wajah pasien tersebut. Persekian detik mereka pun saling bertatapan.


"Hm... Baiklah. Saya periksa bagian kakinya ya Pak." Ucap Imel sedikit gugup.


Pasalnya ternyata pasien tersebut adalah Bima yang mengalami kecelakaan beruntun dan terdapat luka di tangan, dahi dan Kakinya. Tapi. karena kakinya terjepit membuat Bima merasakan kesakitan yang luar biasa.


"Kakinya di lemaskan saja ya Pak jangan di tahan." Perintah Imel.


Dan lagi-lagi Bima hanya mengangguk. Imel pun menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat kemudian Imel mencatat pada laporan kasus milik Bima. Kemudian memberikannya pada Agus.


Saat Imel akan keluar bersamaan dengan Oma dan Opa Wulan juga Wulan dan Mama nya masuk ke dalam bilik.


"Imel. Syukurlah. Bagaimana keadaan Om Bima." Cecar Wulan.


"Astaga Lan. Satu-satu dong nanya nya." Imel.


"Ya udah cepet bilang." Wulan.


"Om kamu ga apa-apa. Lukanya sudah diobati hanya kakinya sedikit cidera karena terjepit. Mungkin akan sedikit kesulitan untuk berjalan beberapa waktu." Jelas Imel.


"Apa itu akan lama Mel?" Mama Wulan.


"Tidak Tante jika Om Bima menurut untuk tidak terlalu banyak menggerakkan kakinya. Boleh berlatih berjalan tapi, tidak di forsir." Imel.


"Terima kasih Mel. Boleh kami masuk dan melihatnya?" Mama Wulan.


"Boleh Tante silahkan. Nanti tinggal di urus pengambilan obat saja kemudian pasien boleh pulang." Imel.


"Thanks banget ya Mel. Nanti biar Arman yang urus." Wulan.


"Oke. Gw periksa yang lain dulu ya Lan." Pamit Imel.

__ADS_1


"Oke." Wulan.


Imel pergi memeriksa korban yang lain sementara Wulan menemui Om kesayangannya.


"Kok bisa sampai kaya gini si Om?" Wulan.


"Namanya kecelakaan Wulan mana tau mau seperti ini. Ini juga kan beruntun." Bima.


"Tadi, siapa Lan Imel? Imel temen sekolah kamu?" Yuni.


"Iya Oma." Wulan.


"Cantik." Yuni.


"Iya Oma. Dia penerima Beasiswa prestasi sama kaya Dini sama Nita." Wulan.


"Owh! Udah punya calon?" Tanya Yuni.


"Jomblo Oma. Cowoknya be**" Wulan.


"Maksud kamu Raka?" Saras.


"Iya. Masa dia selingkuh sama Anggi. Padahal Mami tau kan si Anggi." Kesal Wulan mengingat perselingkuhan Anggi dan Raka.


"Astaga! Cewek secantik dan sepintar dia di selingkuhi?" Yuni.


"Iya Oma. Kesel kan." Wulan.


"Ini Obatnya Tuan. Nanti tiga hari kontrol ke poliklinik." Perawat.


"Terima kasih Bruder." Wulan.


"Sama-sama." Agus.


Mereka pun keluar dari bilik IGD dengan Bima duduk di kursi roda di dorong oleh Arman. Saat mereka akan keluar melintasi Imel yang sedang menenangkan pasien. Bima terus memperhatikan Imel. Seolah memiliki daya tarik tersendiri Imel bagi Bima.


Arman sengaja sedikit melambatkan langkahnya agar Bosnya bisa puas menandangi Imel. Namun Bosnya itu tidak menyadarinya. Arman tau akhir-akhir ini Bosnya merindukan sosok Imel hanya saja Bosnya terlalu kaku dan dingin sehingga tidak menyadari perasaannya sendiri.


Penghianatan Cinta membuat Bima memasang dinding yang cukuo tinggi di hatinya. Namun, saat dirinya bertemu Imel entah mengapa dunianya begitu berbeda namun Bima selalu mengelaknya.


"Dokter Imel kami permisi. Terima kasih pelayanannya." Pamit Wulan dengan formal.


"Owh! Iya silahkan Bu. Jangan lupa kontrol satu minggu ke depan ya." Wulan.


"Baik Dokter permisi." Wulan.


"Mari silahkan. Semoga lekas sembuh." Imel.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit. Imel kembali bekerja seperti biasa. Tak ada sedikitpun pun perasaan yang membuatnya harus mengingat Bima. Imel yang menerima pengkhianatan dari Raka begitu rapat menutup pintu hatinya.


Satu minggu berlalu Bima sengaja melakukan kontrol ke rumah sakit dengan tujuan agar bertemu dengan Imel. Dan benar saja saat Bima menunggu dokter Imel melintas dengan seorang perawat yang sepertinya sedang berdiskusi sambil berjalan.

__ADS_1


Imel lurus berjalan tanpa memperdulikan Bima sementara pandangan Bima terus tertuju pada Imel hingga tak terlihat lagi. Pemandangan itu tak luput dari oengawasan Arman.


"Kalo ada rasa segera ikat Bos." Arman.


"Saya potong gaji kamu Man." Bima.


"Hahaha... Saya setuju Bos sama yang ini." Arman.


"Kamu ga terima gaji bulan depan." Bima.


"Astaga Bos sensi amat. Becanda Bos. Tapi iya lebih baik." Arman.


Setelah selesai kontrol dan kaki Bima di nyatakan sembuh dan baik-baik saja Bima dan Arman pun pergi meninggalkan rumah sakit. Saat mobilnya akan keluar Bima melihat Imel yang tengah berlari dan sepertinya sedang menangis.


"Kenapa dia menangis?" Gumam Bima dan masih bisa di dengar oleh Arman.


"Siapa Bos?" Arman.


"Kau menyetir saja dengan benar." Bima.


"Astaga! Iya Bos Iya." Arman.


Bima berusaha biasa dengan hasil pandangannya tadi namun tak dapat di pungkiri jika hatinya gelisah memikirkan Imel yang seperti sedang menangis. Bima membuka layar ponselnya dan menimbang untuk menghubungi Imel.


Rasa gengsinya terlalu tinggi untuk sekedar bertanya kabar pada Imel walaupun hatinya mengatakan rindu. Karena Bima yang tak ingin mengenal cinta dan tak percaya lagi pada cinta membuat hatinya bagai batu.


Tapi, Imel. Ya Imel yang beberapa waktu ini selalu mengisi hati dan fikirannya walaupun terkadang mulutnyavberkata tidak. Bima memutuskan untuk bertanya pada Wulan saja siapa tau Wulan tau kenapa Imel menangis.


Tapi kemudian di urungkan kembali karena memngingat Wulan sedang sidang skripsi. Dan Bima pun berfikir mungkin itu tangis bahagia karena Wulan lulus. Dirinya pun kembali menerka-nerka.


"Bim." Panggil Yuni yang melihat Bima melamun sejak kepulangannya dari rumah sakit.


Bima memang memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidak dapat berkonsentrasi bekerja. Arman mengheandle semua pekerjaannya. Tanpa protes Arman pun melakukannya.


"Bima." Panggil Yuni kembali saat tak mendapatkan respon apapun dari Bima.


"Bimantara." Panggil Yunu sedikit meninggi


"Astaga! Mama. Ada apa? Kenapa Mama berteriak. Bima tidak tuli." Protes Bima.


"Kau tidak tuli tapi sejak tadi Mama panggil kamu diam saja. Apa itu namanya kalo bukan tuli." Yuni.


"Ish... Ada apa?" Bima.


"Kau yang ada apa sejak tadi melamun." Yuni.


"Tidak ada apa-apa. Bima ke kamar dulu." Bima.


"Astaga! Dia yang melamun dia yang marah." Gumam Yuni.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2