
Imel pun bingung bagaimana cara mengambil baju yang berada di mobil Bima. Sedangkan nomor ponselnya saja Imel tak punya. Menghubungi Wulan dan menanyakannya sama dengan mempermalukan dirinya karena menanyakan nomor laki-laki lebih dulu. Dan lebih parahnya itu Om Wulan.
Datang ke rumah Oma Wulan pasti akan banyak di tanya-tanya oleh Oma Wulan. Imel pun menghela nafas panjang pasrah. Imel bangkit dari duduknya dan menutuskan untuk mandi saja terlebih dahulu.
Sementara Bima begitu sampai di rumahnya dan akan mengambil paper bag yang tadi di bawanya dari butik merasa bingung kenapa paper bagnya menjadi dua. Dan begitu dilihat ternyata isinya gaun dan Bima baru sadar jika itu adalah paper bag milik Imel.
"Astaga! Kenapa bisa lupa." Gumam Bima.
Bima pun masuk ke dalam rumah dengan membawa dua paper bag miliknya dan milik Imel. Bima menyapa Mama dan Papanya yang tengah bersantai di ruang utama.
"Darimana dulu Bim?" Yuni.
"Dari butik Ma. Ambil baju untuk acara Wulan lusa." Bima.
"Kok dua paper bag?" Yuni.
"Hah! Iya. Bima masuk dulu Ma." Bima.
Yuni menatap Bambang suaminya. Sementara Bambang hanya mengangkat kedua bahunya. Sampai di kamar Bima mencari nomor ponsel Wulan.
"Halo Om?" Wulan.
"Lan, Om boleh minta nomer ponsel temen kamu?" Tanya Bima langsung tanpa basa basi.
"Temen Wulan? Siapa?" Wulan.
"Imel." Ucap Bima setengah berbisik.
"Imel? Ada apa? Kenapa tiba-tiba Om tanya nomer Imel. Naaah... Beneran suka ya sama dia??" Goda Wulan.
"Astaga! Bukan. Ini Om mau kasih paper bag dia yang ketinggalan di mobil Om." Bima.
"Loh, kok bisa paper bag Imel ada sama Om? Hayoo,,, kalian habis ngedate ya?" Wulan.
"Eh, bukan. Udah pokoknya Om minta nomer dia. Cepetan Om tunggu." Ucap Bima dan langsung menutup panggilannya.
"Astaga! Om nya siapa sih ini ga sopan banget deh. Udah gitu maksa lagi." Gerutu Wulan.
Wulan pun segera mengirimkan nomer ponsel Imel. Bima mengerutkan keningnya saat menerima chat dari Wulan yang mengirimkan nomer ponsel atas nama Anas. Bima pun kembali menghubungi Wulan.
"Apa lagi Om?" Tanya Wulan.
"Kamu itu. Om tanya nomer Imel kok kamu kirim nomer Anas." Bima.
"Astaga! Om lagi dapet ya. Marah-marah mulu. Ya emang itu namanya dia. Imelda Anastasya. Jadi Wulan sama temen-temen suka bilang Anas." Jelas Wulan.
"Oke." Jawab Bima langsung mematikan ponselnya.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Imel Bima pun meninmbang beberapa kali untuk menghubunginya. Dan akhirnya Bima pun menghubungi Imel. Beberapa kali panggilan tidak ada jawaban dari Imel.
Sementara Imel setelah mandi melihat ada beberapa panggilan dari nomer baru. Imel mengernyitkan keningnya mengingat nomer siapa yang menghubunginya. Imel mencob menelfon kembali namun tidak ada jawaban.
"Nomor siapa ya? Aduh, penting mungkin ya amoe beberapa kali nelfon gini." Gumam Imel.
Imel merebahkan diri untuk beristirahat. Masalah gaun Imel putuskan untuk memikirkannya lagi besok hari. Karena hari ini dirinya perlu istirahat karena seharian tadi cukup melelahkan bagi Imel.
Bima melihat ponselnya saat dirinya selesai dari kamar mandi dan dilihatnya ada panggilan dari Imel. Bima pun segera menghubunginya kembali. Imel yang bersiap akan tidur di kejutkan dengan bunyi dering ponselnya.
"Astaga! Siapa sih. Awas aja ya ga penting." Oceh Imel pada ponselnya.
"Halo." Imel.
"Halo Imel." Panggil Seseorang dari sebrang sana.
__ADS_1
"Iya. Siapa nih?" Tanya Imel jutek.
"Bima."
"Bima siapa?" Tanya Imel.
"Astaga! Baru satu jam yang lalu udah lupa." Bima.
"Lupa. Astaga! Om nya Wulan ya?" Imel.
"Iya." Bima.
"Hah! Syukurlah. Om, paper bah aku ketinggalan di mobil Om. Maaf ya aku ceroboh." Ucap Imel tiba-tiba.
"Iya. Itu juga kenapa aku menghubungi kamu." Bima.
"Wah, iya Om makasih. Maaf jadi merepotkan Om. Kapan bisa saya ambil ya Om? Besok bisa?" Imel.
"Besok saya ada di perusahaan. Bisa di ambil ke kantor saya?" Bima.
"Hm... Boleh Om. Kirim aja alamatnya Om." Bima.
"Baiklah. Ya sudah saya tutup dulu ya." Bima.
"Oke. Eh, tunggu...." Imel.
"Kenapa?" Bima.
"Hm... Ngga apa-apa Om. Selamat malam Om." Imel.
"Malam.." Bima.
Panggilan pun terputus. Imel bisa bernafas lega akhirnya gaunnya bisa di ambil juga. Di rumah sakit pekerjaan Imel tidak terlalu padat. Imel bisa pulang lebih cepat dan menuju ke kantor Bima.
"Maaf, sudah membuat janji sebelumnya?" Resepsionis.
"Sudah Mba." Imel.
"Owh! Kalo begitu silahkan saya antar." Resepsionis.
Imel pun mengikuti langkah resepsionis tersebut hingga menasuki lift. Imel hanya diam tak banyak bertanya. Sampai di lantai yang di tuju resepsionis tersebut hanya meminta Imel keluar tidak dengan dirinya.
"Silahkan Mba bisa tanya pada resepsionis yang ada di sana." Tunjuk Resepsionis tersebut.
"Owh! Terima kasih Mba." Imel.
Imel melangkah keluar dari lift menuju meja resepsionis kembali.
"Siang Mba, Mau ketemu Pak Bima." Imel.
"Sudah ada janji?" Resepsionis 2.
"Sudah." Imel.
"Silahkan. Itu sekretaris Pak Bima." Tunjuk Resepsionis 2 pada seorang laki-laki yang tengah duduk.
"Terima kasih." Imel.
"Astaga! Mau ketemu Om Wulan aja ribet banget sih ampe berlapis-lapis begini penjagaannya. Huh.. Coba gw tadi minta tolong Wulan aja ga gini pasti ceritanya." Batin Imel.
"Maaf Mba, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sekretaris Bima.
"Saya mau ketemu Pak Bima." Imel.
__ADS_1
"Maaf bisa tau nama Anda?" Sekretaris Bima.
"Imel."
"Maaf sebentar." Sekretaris Bima bangkit dari duduknya menuju ke ruangan Bima.
Imel hanya diam menunggu. Hingga sekretaris Bima kembali. Kemudian Imel di minta untuk masuk kedalam ruangan Bima. Imel pun masuk dan tak lupa berterima kasih pada sekretaris Bima.
"Hai Mel. Ayo masuk." Bima.
Imel tak membalas sapaan Bima. Wajahnya cemberut kemudian duduk di kursi depan meja Bima.
"Huh! Ribet banget sih Om mau ketemu Om aja." Protes Imel.
"Hm... Kenapa?" Bima.
"Iya cuma mau ketemu Om terus ambil gaun saya ampe di tanyain semua orang mau ketemu siapa? Sudah ada janji belum? Dari mana? Iiih... Nyebelin. Mana Om gaun saya." Ucap Imel ngomel-ngomel.
Bima tersenyum melihat Imel seperti yang sedang merajuk pada kekasihnya.
"Maaf ya. Kenapa tadi ga telfon Saya. Saya kan bisa tunggu kamu di lobi." Bima.
"Mana saya tau kalo mau ketemu Om seribet ini. Wulan juga pemilik cafe tapi Imel bisa ketemu Wulan langsung." Rajuk Imel lagi.
"Iya. Sekali lagi saya minta maaf ya." Bima.
"Iya. Ya udah. Mana gaunnya?" Pinta Imel.
Bima pun bangkit dari kursi kebesarannya menuju sofa yang ada di depan meja kerjanya. Pandangan Imel mengikuti langkah Bima. Kemudian Imel bangkit saat Bima sudah memegang papar bag yang di duga miliknya.
"Gaun Gw..." Sambar Imel pada paper bag yang ada di tangan Bima.
"Lain kali lebih hati-hati." Bima.
"Iya Om." Imel.
"Duduklah. Kamu mau minum apa?" Bima.
"Eh, Saya mau pulang Om." Imel.
"Kenapa buru-buru?" Bima.
"Saya kan cuma mau bawa ini aja." Tunjuk Imel pada paper bag yang ada di tangannya.
"Memangnya ga capek abis perjalanan menuju ke ruangan saya?" Goda Bima.
"Astaga! Ada apa sama gw. Kenapa gw minta dia tetap di sini ya. Dan kenapa gw seneng banget liat dia ada di sini bahkan wajahnya saat merajuk begitu menggemaskan." Batin Bima.
Imel terlihat berfikir kemudian duduk di sofa. Bima mengangkat sebelah alisnya melihat Imel yang duduk di sofa.
"Kalo gitu Imel mau jus jeruk dengan es batu yang melimpah sama nasi padang." Pinta Imel santai.
"Nasi padang?" Bima.
"Iya. Om ga tau nasi padang?" Imel.
"Tau." Bima.
"Terus kenapa nanya lagi? Saya laper sama haus Om. Pulang dari rumah sakit terus kesini ga sempet makan siang dulu tadi." Imel.
"Eh, iya. Sebentar saya pesankan dulu." Bima.
🌹🌹🌹
__ADS_1