Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Lamaran Heru Untuk Nita


__ADS_3

Acara pun segera di mulai setelah keluarga Heru datang. Nita pun keluar dengan di apit oleh Wulan dan Dini sementara Imel berada di belakang mereka. Setelah Nita duduk di tempatnya ketiga sahabatnya itu duduk di sebelah pasangan masing-masing.


Saat akan duduk Imel melihat ada perempuan duduk di dekat Bima. Bima yang mengerti langsung bangun menyambut Imel dan mempersilahkannya duduk di bangku yang tadi dia duduki. Sementara Bima berdiri di samping Imel.


Melihat Bima berdiri panitia acara membawakan kursi tambahan untuk Bima. Kursi yang seharusnya Imel duduki telah di duduki oleh perempuan yang entah siapa Imel tak mengenalnya. Mungkin salah satu keluarga Heru karena keluarga Nita Imel mengenalnya.


Bima menggeser posisi duduk sehingga Imel yang berada di dekat perempuan itu dan Bima di antara Imel dan Wulan. Wulan terheran saat Bima duduk di sampingnya begitu melihat perempuan duduk di samping Imel Wulan pun menggelengkan kepalanya.


"Bucin banget sih Om Tante gw?" Bisik Wulan.


"Sahabat lu ya." Bima.


"Iya sih. Awas aja Om sakitin dia." Wulan.


"Om ga bakal ada di sini kalo ga serius sama dia." Bima.


Bisik-bisik mereka pun terhenti begitu pembawa acara memulai acaranya. Semua dengan khidmat mengikuti rangkaian acara lamaran Heru untuk Nita. Setelah acara selesai para tamu di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan.


Perempuan yang tadi duduk di dekat Imel sepertinya tertarik pada Bima karena sejak tadi dia terus nengikuti langkah Bima. Imel yang selalu berada di sisi Bima pun semakin posesif.


"Din, masih nginap di rumah Imel kan?" Nita.


"Masih dong. Lusa kita pulang." Dini.


"Terus pulang kemana? Kota C apa ke kota Y?" Nita.


"Rencananya langsung pulang ke rumah gw. Soalnya gw juga harus persiapan nikahan gw." Dini.


"Owh! Iya. Lancar dan sukses ya Din. Gw sama Imel pasti dateng ke sana." Nita.


"Harus dong. Ni Nyonya Juan juga harus udah balik honeymoon pokoknya." Dini.


"Dih, males ah.." Wulan.


"Wulan, nyebelin ih..." Dini.


"Emang lu mau dateng Mel?" Wulan.


"Datenglah. Masa ga dateng." Imel.


"Kirain lu mau ngebucin sama Om Gw." Wulan.


"Biarin... Kaya lu ga bucin aja sama Juan." Imel.


"Lah, Mas Juan laki gw." Wulan.


"Bodo." Imel.

__ADS_1


"Astaga! Inget Lan. Imel calon Tante kita loh.." Dini.


"Kualat lu Lan." Nita.


"Astaga! Gw kok lupa ya kalo Om Bima Om gw." Wulan.


"Awas aja lu ga bakal gw kasih uang jajan." Imel.


"Jiah..." Wulan.


Obrolan mereka pun begitu asik. Imel selalu berada di dekat Bima sepanjang acara. Dodit melihat pergerakan yang aneh pada perempuan yang sejak kedatangannya tadi duduk di dekat Bima.


"Her, tu cewek sodara Lu?" Dodit.


"Yang mana?" Heru.


"Tuh, yang lake baju kurang bahan." Juan.


"Eh, lu merhatiin juga?" Dodit.


"Gimana nggak. Mencolok gitu." Juan.


"Parahnya membuat Om dan Tante kita terkena riakan ombak." Dodit.


"Dia sepupu jauh kita. Orangnya emang kaya gitu. Tenang kalo dia macem-macem gw yang paling dulu bertindak. ga akan segan walaupun dia sepupu gw." Heru.


"Gw juga males sih kalo ketemu dia. Dia duka caper gitu sama gw." Heru.


"Jangan-jangan dia suka lagi sama lu." Juan.


"Dih,,, amit-amit. Kalo dia bukan sodara gw juga gw ogah." Heru.


"Jahat lu Her sama sodara sendiri." Dodit.


"Kalo sodaranya macem gitu sih ya apa mau dikata hahahaa..." Juan.


Bima berjalan sendiri mengambilkan air minum untuk Imel dan juga dirinya. Imel mau lepas sejenak karena tempat air minum tak jauh dari tempatnya duduk. Imel melihat perempuan tadi berjalan mendekati Bima. Imel terus menatap ke arah perempuan tersebut.


"Nit, lu kenal dia?" Bisik Dini pada Nita.


"Dia sepupu jauh Mas Heru. Kenapa?" Nita.


"Cari perkara dia sama kita." Dini.


"Kenapa?" Nita.


Bukannya menjawab Dini bangkit dari duduknya dan mendekati Bima yang selangkah lagi akan di dekati sepupu jauh Heru. Dini sudah geram sejak melihat dia duduk di samping Bima dengan santainya.

__ADS_1


"Om mau minum?" Tanya Dini.


"Hah! Eh, iya." Jawab Bima melihat kode kedipan mata Dini.


"Biar Dini ambilkan. Tante ga mau jauh-jauh dari Om." Dini.


"Terima kasih kesayangan Om sama Tante." Ucap Bima di sengajakan.


"Sama-sama Om." Dini.


Dini melihat ekspresi kesal di wajah sepupu Heru melihat Bima yang kembali ke tempat Imel berada. Dia pun akhirnya berpura-pura mengambil air minum juga. Dini mengambil minum untuk Imel dan Bima.


"Jangan macem-macem. Gw tau niat busuk lu." Bisik Dini di telinga sepupu Heru.


Aksi Dini di lihat oleh Dodit, Juan dan Heru. Membuat Dodit semakin bangga padanya.


"Ah, calon istri gw emang the best." Dodit.


"Gw udah bilang ke adik gw suruh dia jaga kelakuan. Sebelum gw sendiri turun tangan." Heru.


"Sip." Ucap Dodit dan Juan bersamaan.


Heru, Dodit dan Juan kembali ikut bergabung bersama Bima, Imel, Wulan, Dini dan Nita. Sepupu Heru tampak ingin mencuri kesempatan untuk duduk di dekat Heru karena Heru bergabung bersama Bima.


Ada satu kursi kosong memang di dekat mereka. Melihat sepupu Heru berjalan ke arah mereka Nita yang berada di dekat kursi kosong langsung menendang kursi tersebut.


Semua pandangan tertuju pada Nita yang menendang kursi secara tiba-tiba. Nita acuh saja melihat semua pandangan mata tertuju padanya. Kemudian Nita memandang semua sahabatnya.


"Eh, sorry tadi ada serangga jadi reflek. Maaf semuanya ya." Nita.


Wulan dan Dini yang mengerti pun hanya tersenyum geli. Sementara Imel santai saja. Dodit, Heru dan Juan pun malah mengacungi jempol pada Nita. Bima menggelengkan kepalanya salut pada persahabatan mereka.


Keluarga Heru pun berpamitan untuk kembali ke hotel dan akan melanjutkan perjalanan mereka kembali ke kota mereka. Namun, Heru masih harus berada di kota M bersama yang lainnya. Mendengar Heru yang tak ikut pulang sepupu Heru ingin ikut bersama Heru.


Dia beralasan masih ingin menikmati suasana kota M tersebut. Hanya saja Heru dengan tegas menolak. Sepupunya terus membujuk Heru namun Heru tetap pada pendiriannya untuk tidak mengijinkan dia tetap di kota M.


"Saya tidak membawa mobil dan hanya ikut bersama Dodit jadi, saya tidak bisa membawa kamu." Heru.


"Ayolah Mas. Kan mobilnya masih muat kalo cuma tambah aku." Sepupu Heru.


"Nggak." Heru.


"Mba Nita. Ayo dong bantu bujuk Mas Heru." Rayu nya mencari pembelaan dari Nita.


"Saya rasa Mas Heru sudah berkata benar jika kamu tak bisa ikut bersama Mas Heru." Nita.


Dengan perasaan kesal sepupu Heru pun kembali pulang bersama keluarganya yang lain. Heru bisa bernafas lega setelah mereka pergi membawa sepupunya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2