Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Chemistry


__ADS_3

Segala bentuk ke tantruman Athar terlewati dengan kesabaran Imel menghadapi putra sulungnya. Demam, batuk, pilek pun di lewati Athar dalam menghadapi persiapan menjadi seorang Kakak. Imel selalu menerapkan jika dirinya seorang Kakak sejak Imel dinyatakan hamil lagi. Imel pun memberikan kasih sayangnya penuh walau dirinya dilanda mabuk karena kehamilan keduanya.


Dukungan dari Bima, kedua orang tua Bima, Ibu Maryam dan para sahabat membuat Imel kuat menghadapi kehamilan keduanya dan juga mengasuh Athar. Di detik-detik menjelang kelahiran anak keduanya Imel mendapat kabar jika Wulan tengah mengandung anak keduanya di susul Dini dan Nita. Entah mengapa ketiga sahabatnya itu seolah berlomba-lomba dalam memiliki anak.


Jarak anak pertama mereka hanya menghitung bulan saja. Imel pun sempat merasa iri beruntung Bima dan keluarga selalu mendukungnya. Menjelang kelahiran anak keduanya Papa Bambang pun kembali menuju negara dimana mereka tinggal. Tak hanya sendiri Papa Bambang datang bersama dengan Saras dan Melati.


"Bu, Ibu..." Panggil Imel.


"Kenapa Mel?" Melati.


"Titip Athar Kak." Ucap Imel menahan sakit di perutnya.


"Mel, jangan bilang kamu udah kontraksi?" Tanya balik Melati menghiraukan permintaan Imel.


"Sepertinya begitu Kak." Jawab Imel singkat.


"Astaga! Sini Athar biar Kakak yang jaga. Sana kamu segera ke rumah sakit. Dimana Bima?" Melati.


"Mas Bima sedang mengambil perlengkapan Kak." Jawab Imel sambil menahan sakit di perutnya yang semakin kuat.


Melati segera menggendong Athar yang tampak terlelap dalam gendongan Imel. Seperti yang mengerti jika sang adik akan segera lahir Athar pun anteng dalam gendongan Imel hingga tertidur. Sambil setengah tertidur Imel membisikan jika adiknya akan segera keluar dan Athar harus baik. Athar pun seperti mendengar dan mengerti.


Imel dan Bima pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun kecuali Melati. Melati pun tak memberikan kabar pada siapapun hanya mengatakan jika Imel dan Bima pergi ke luar agar Mama Yuni dan Ibu Maryam tidak terlalu panik. Karena keduanya begitu panik menghadapi detik-detik persalinan kedua Imel.


"Bima membawa Imel kemana sih Mel?" Mama Yuni.


"Tidak tau Ma. Mereka hanya bilang titip Mas Athar." Ucap Melati berbohong.


"Astaga! Kenapa mereka lama sekali. Imel sudah dekat masa perkiraan melahirkan masih juga pergi-pergi. Bagaimana jika Imel akan melahirkan coba." Cerocos Mama Yuni.


"Tidak apa-apa dong Ma. Mereka hanya tinggal membelokkan mobil mereka ke rumah sakit." Melati.


"Mel, kamu itu. Bener Bima sama Imel ga ngomong apa-apa?" Tanya Saras penasaran.


"Ngga Kak." Melati.

__ADS_1


Papa Bambang mencium gelagat aneh dari putri keduanya. Sepertinya Papa Bambang membaca jika Melati menutupi kelahiran anak kedua Imel dan Bima. Papa Bambang pun bangkit dan berpamitan ke mini market.


"Ma, Papa ke mini market dulu ya." Pamit Papa Bambang.


"Ini lagi Papa. Jangan lama-lama ih.." Mama Yuni.


"Ngga sebentar aja." Papa Bambang.


"Melati titip minuman ya Pah." Melati.


"Siap!" Papa Bambang.


Mereka berdua memang seperti yang memiliki chemistry yang kuat dalam segala hal. Apapun yang di tutupi Papa Bambang pasti bisa di tebak oleh Melati begitupun sebaliknya. Papa Bambang dapat begitu mudah menebak apa yang di sembunyikan Melati seperti halnya sekarang ini.


Sampai di rumah sakit Papa Bambang segera menuju ruang bersalin dan begitu Papa Bambang sampai terdengar suara tangisan bayi dan Papa Bambang pun yakin jika itu suara cucunya. Papa Bambang memanjatkan rasa syukurnya kemudian bertanya pada seorang suster yang berjaga.


"Permisi suster, apa yang berada di dalam nyonya Bimantara?" Tanya Papa Bambang. ( Dalam bahasa Inggris ya 🤭)


"Betul Pak. Apakah Bapak keluarga pasien?" Suster.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Bima dan Imel keluar dari ruang bersalin karena Imel akan di pindahkan keruang perawatan bersama bayinya. Bima dan Imel terkejut melihat kehadiran Papa Bambang di balik pintu ruang bersalin.


"Papa!"


"Selamat sayang. Laki-laki atau perempuan?" Tanya Papa Bambang menghiraukan keterkejutan keduanya.


"Terima kasih Pah. Alhamdulillah perempuan Pah." Jawab Imel seraya menampilkan senyumannya.


"Alhamdulillah..." Papa Bambang.


Papa Bambang pun mengikuti langkah mereka menuju ruang perawatan. Bayi perempuan Imel pun segera di berikan setelah selesai di rapihkan. Imel menggendong putri ke duanya dengan bahagia begitupun dengan Bima dan Papa Bambang.


"Kalian sudah memiliki sepasang putra dan putri. Papa harap kalian menjeda untuk anak berikutnya." Papa Bambang.


"Rasanya cukup dua saja Pah. Bima tak tega melihat Imel kesakitan lagi." Bima.

__ADS_1


"Sekarang saja kau bilang. Awas sampai menantu Papa kembali buncit dalam waktu dekat. Anu mu Papa potong." Ancam Papa Bambang.


"Astaga! Kau dengan cantik Opa mu begitu tega sama Papi." Adu Bima pada Putrinya yang tak tau apa-apa.


"Hus.. Mas mana ngerti putrimu ini. Baru saja beberapa jam dia mengenal dunia." Protes Imel.


"Dasar kau ini. Sudah sana hubungi Mama kalian. Dia sudah kebakaran jenggot menunggu kedatangan kalian." Papa Bambang.


"Kenapa tidak Papa saja pulang untuk menjemput mereka ke sini." Bima.


"Hei, dasar anak kurang garam. Minta Melati mengantarkan mereka semua." Papa Bambang.


"Hahaha... Baik Tuan." Canda Bima.


Imel hanya menggelengkan kepalanya melihat suami dan Papa mertuanya berdebat. Bima pun segera menghubungi Melati dan memberitahukan jika putrinya telah lahir. Melati pun senang dan segera bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


"Ma, Bu. Ikut Mel jalan-jalan yuk. Kak Saras juga ayok, bantu Mel siapin perlengkapan Athar." Ajak Melati.


"Kamu ini gimana sih Mel. Bima saja tak ada kabar terus kita mau jalan-jalan tanpa mereka gitu? Papa kalian juga ke mini market mana sih lama banget belum pulang-pulang." Kesal Mama Yuni.


"Sudah Mah. Ayo pergi saja nanti kita ketemu mereka di sana. Mel, chat mereka biar ketemu di sana." Melati.


"Aarrgggh... Kamu itu." Mama Yuni.


"Sabar Mba. Kita ikut Nak Melati saja dari pada kita uring-uringan di rumah." Ibu Maryam.


"Hah! Baiklah Mba." Mama Yuni.


Mereka pun bersiap pergi Melati meminta Pak Dimin menunggu di rumah karena Bi Imah sendiri di rumah. Melati pun bertugas di balik kemudi menggantikan Pak Dimin. Sementara Athar anteng di pangkuan Saras. Tanpa menaruh curiga apapun mereka pun mengikuti saja kemana Melati membawa kemudi mobilnya.


Mama Yuni dan Ibu Maryam menatap keluar melalui jendela mobil dengan fikiran yang entah kemana. Saras mengajak Athar berkomunikasi sepanjang perjalanan dan Melati konsentrasi kedepan agat terhindar dari kecelakaan. Hingga mobil memasuki area parkir rumah sakit tak ada satupun yang menyadarinya. Tanpa di sengaja Melati memarkirkan mobilnya di samping mobil yang di kemudian Papa Bambang.


"Ayo turun."


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2