Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Gundah


__ADS_3

"I.. Tante apa kabar?" Sambut Dini hampir salah sebut pada Imel.


"Kabar baik Din. Apa kabar?" Jawab Imel memeluk Dini.


"Alhamdulillah kabar baik Tan." Ucap Dini mengusap perutnya.


"Benarkah?" Tanya Imel mengerti kode tangan Dini.


"Alhamdulillah Tan 5 minggu." Dini.


"Alhamdulillah.. Selamat ya." Imel.


"Makasih." Dini.


"Sudah-sudah ayo makan dulu." Ajak Mama Yuni.


"Iya Ma." Imel.


Imel dan Dini pun berjalan menuju meja makan. Imel menyapa kakak iparnya terlebih dahulu dan juga Dodit sepupu Bima yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari Dini sahabatnya. Kemudian Imel menyiapkan nasi dan lauk pauknya untuk suami tercintanya barulah untuk dirinya. Wulan masih diam di tempat dengan piring yang berisikan nasi dan lauk pauk di hadapannya.


"Tante,, Wulan mau di suapin." Rengek Wulan ketika Imel akan menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Astaga! Kenapa calon cucu Mas Bima nasih begitu manja?" Imel.


"Jangan lupa itu cucu my juga sayang." Bima.


"Ish... Ga perlu di ingetin kali." Dengus Imel.


Imel pun menyuapi Wulan yang duduk di sampingnya. Tak lupa Imel juga menyuap nasi di piringnya untuk dirinya sendiri. Wulan begitu lahap dan menikmati suapan tangan Imel. Suapan yang begitu di rindukannya dua minggu ini. Dini hanya menggelengkan kepalanya saja.


Setelah selesai makan semua berkumpul di ruang keluarga dan moment tersebut di gunakan Bima dan Imel untuk membagikan oleh-oleh yang di bawa mereka. Mama Yuni begitu kagum pada Imel yang telah menyiapkan semuanya dengan nama di masing-masing paper bag. Jadi sudah tidak akan berebut lagi orang-orang yang d beri oleh-olehnya.


"Astaga! Kapan kalian menyiapkannya?" Melati.


"Imel sudah menyiapkannya begitu dia selesai membelinya Kak." Bima.


"Serius?" Saras.


"Ya. Imel selalu segera mengemas begitu selesai berbelanja." Bima.


"Wah, repot dong Mel?" Melati.

__ADS_1


"Ngga juga Kak. Malah jadi lebih santai aja pas mau cek out ya tinggal tarik aja." Imel.


"Kebiasaan Mam. Dari dulu Tante Imel selalu rapi." Dini.


"Owh! Iya Dini teman satu sekolah juga ya." Mama Yuni.


"Iya Oma. Dan Im eh, Tante itu orang yang paling rapih di antara kami." Puji Dini.


"Tapi, yang paling cuek. Cukup pake celana jeans dan kaos di segala acara." Wulan.


"Ngga juga lah Wu. Masa iya gw ke kondangan pake celana jeans." Protes Imel.


"Eh, jangan ngelak ya. Inget ga pas ke acara nikahan Ayu temen esema kita? Lu eh, maaf. Tante datang cuma pake celana jeans sama kaos udah gitu pake sendal coba." Wulan.


"Astaga! Seneng banget kalian buka aib gw depan suami sama mertua gw." Imel.


"Tapi, yang bikin sebel Tante malah jadi trend." Dini.


"Hahaha... Kamu benar-benar cuek ya Mel?" Melati.


"Makanya dapetnya Om-om." Wulan.


"Gw juga ga ngerti sih. Padahal banyak banget cowok muda suka sama gw. Kayanya Om lu pake pelet Wu." Imel.


"Ngawur." Bima.


"Hahaaha... Love you suami." Imel.


"Astaga! Kalian ini." Mama Yuni.


Hari semakin larut semua pun berpamitan pulang. Mama Yuni, Papa Bambang, Bima dan Imel mengantarkan hingga ke depan. Mereka tidak tinggal di sana tapi rumah mereka dekat dari sana. Setelah mengantarkan saudara-saudaranya Bima dan imel pun berpamitan masuk kamar.


Setelah mencuci muka dan gosok gigi Imel duduk di depan meja rias memoleskan segala macam yang harus di oleskan. Setelah itu Imel naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan kepalanya pada headboard. Bima yang sedang membalas email dari Arman tampak memperhatikan Imel.


"Kenapa sayang?" Tanya Bima naik ke atas tempat tidur.


Imel hanya menggelengkan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun dengan tatapan yang sayu.


"Ngantuk? Cape?" Bima.


Dan lagi-lagi Imel hanya menjawab dengan anggukan kepala tanpa bersuara. Bima membawa Imel kedalam pelukannya mengusap lembut lengan Imel.

__ADS_1


"Tidurlah." Bima.


Namun Imel tak dapat memejamkan mata. Kegundahan di hatinya terasa semakin menghimpit dadanya membuat Imel sesak. Imel menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan membuat Bima mengernyitkan dahinya heran dengan sikap Imel.


"Mas," Panggil Imel lirih.


"Iya sayang." Jawab Bima setenang mungkin walaupun dirinya sedikit cemas dengan perubahan Imel.


"Kalo Imel ga langsung hamil gimana?" Imel.


"Hah! Eh, kok kamu nanya gitu sayang? Kenapa?" Tanya Bima semakin di buat bingung.


"Hm... Wulan dan Dini langsung isi setelah menikah. Dan mungkin Nita juga. Kalo Imel ngga gimama?" Imel.


"Astagfirullah sayang,, kehamilan itu rejeki dari Allah. Kapan pun kita mendapatkannya kita hanya bisa bersyukur. Anak itu bukan hanya yang kamu kandung dan lahirkan sayang. Bisa juga kita adopsi jadi kamu tidak perlu memikirkan apapun ya sayang. Cepat kita terima lambat pun kita syukuri dengan begitu kita bisa berpacaran dan saling mengenal lebih dalam lagi." Jelas Bima.


"Iya Mas." Jawab Imel sendu.


"Yang terpenting sekarang kita tetap berusaha dan berdo'a jangan mudah menyerah. Jika kita tidak langsung di beri momongan kita bersyukur saja. Kita bisa momong anak Wulan atau Dini." Bima.


Imel memeluk pinggang Bima dengan erat menyalurkan segala kegundahan di hatinya. Dan tanpa terasa air matanya menetes di pipinya. Bima mendaratkan ciumannya di puncak kepala Imel dan membalas pelukan Imel tak kalah eratnya.


Tak butuh waktu lama keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan. Pagi hari Bima terbangun lebih dulu dari Imel. Bima melihat wajah Imel yang sembab karena menangis semalam. Dua sahabatnya yang dengan segera hamil setelah menikah membuatnya gundah. Padahal pernikahan mereka baru saja berusia 2 minggu.


Tapi, mungkin itu sangat wajar di alami seorang perempuan apalagi pernikahan mereka memiliki jarak berdekatan. Wajar jika Wulan dan Dini tengah berbadan dua karena keduanya sudah lebih dulu menikah sedangkan Imel dan Nita baru saja. Bahkan jarak pernikahan Imel dan Nita hanya berselang dua minggu.


Tapi, tetap saja itu membuat Imel merasa stres sendiri. Bima harus bisa menjaga hati dan fikiran Imel agar tidak terlalu memikirkan kehamilan. Bima menciumi wajah Imel hingga tak ada yang terlewat sedikitpun. Imel sedikit terusik dengan perlakuan Bima.


"Eugh.." Lenguh Imel.


"Maaf sayang Mas gemas liat kamu bobo. Tapi, bobo lagi aja ya masih pagi." Bima.


"Jam berapa?" Tanya Imel.


"Belum subuh kok. Nanti Mas bangunin kalo sudah waktu subuh ya." Bima.


"Hm..." Imel.


Seperti janjinya Bima membangunkan Imel saat kumandang adzan berseru dari masjid dekat rumah Bima. Imel pun segera bangun menuju kamar mandi untuk menunaikan kewajibannya. Sementara Bima pergi ke masjid bersama dengan Papa Bambang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2