Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pamit


__ADS_3

Imel dan Bima turun untuk makan malam dengan saling bergandengan. Bima berencana akan mengatakan jika mereka akan berpindah sementara ke LN tepatnya dimana Bima dulu tinggal sebelum menikah dengan Imel. Walaupun pusat bisnisnya telah di pindahkan ke dalam negeri akan tetapi Bima tidak bisa diam berpangku tangan ketika salah satu perusahaannya ada masalah atau membutuhkan bantuan dalam pengerjaan proyek.


Walau Bima tak terjun langsung akan tetapi kehadirannya mampu menambah semangat pekerjanya. Dan kepergiannya kali ini begitu berbeda, ada Imel yang bisa menemaninya disana. Bima berharap kedua orang tuanya mengijinkan Imel ikut serta. Mengingat Ibu Maryam pun tidak ada di dalam negeri.


"Ma, Pa. Ada yang mau Bima bicarakan." Ucap Bima setelah menyelesaikan makannya.


"Baiklah. Kita bicara di ruang utama saja. Mama akan bawakan cemilan oleh-oleh yang Mama bawa." Mama Yuni.


"Ada apa Dek? Serius banget." Saras.


"Dih kepo." Bima.


Plak.


"Aw.."


"Rasain."


"Hus... Kakak, Adek. Ga inget umur banget sih kalian." Melati.


"Nih yang mulai." Tunjuk Saras pada Bima.


"Loh, bukannya Kakak yang mulai kepo." Bima.


"Udah ayo ah.." Melati.


Yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja terlebih suami Saras dan Melati mereka sudah terbiasa melihat Bima dan Saras saling adu argumen. Mereka saling sayang akan tetapi tak ayal keduanya ribut hanya karena hal sepele dan akan berujung saling berpelukan.


"Pa, Ma, semuanya Kakak-kakak Bima. Bima mohon restu. Mungkin dalam beberapa hari kedepan Bima akan membawa Imel ikut bersama Bima tugas ke LN. Dan kali ini mungkin akan memakan waktu lama sekitar satu atau dua tahun. Jadi, Bima mohon ijin dari Mama dan Papa untuk membawa menantu kesayang Mama dan Papa ini bersama Bima." Bima.


"Ngga! Imel akan melahirkan Bim. Bagaimana nanti dia melahirkan sendirian disana?" Mama Yuni.


"Iya ih... Kamu tuh ga di fikirin apa?" Saras.


"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu Bim?" Melati.


Sementara para wanita segera mencecar Bima. Para Pria hanya diam mencerna.


"Sudah Ma. Bima sudah fikirkan ini baik-baik. Karena Imel akan melahirkan makanya Bima bawa Imel. Bima tak ingin melewatkan proses persalinan anak pertama Bima Ma. Jika Imel tetap disini akan terjadi kemungkinan Bima akan melewatkan prosesnya." Bima.

__ADS_1


"Ya tapi kan, kasian Bim Imel nanti di sana perut gede terus kamu tinggal-tinggal kerja." Mama Yuni.


"Karena itu juga Bima minta ijin untuk membawa Bi Imah ikut serta untuk menemani Imel disana." Bima.


"Lalu suaminya? Kamu tega misahin Bi Imah sama suaminya?" Saras.


"Bima bawa juga dong Kak." Bima.


"Hm... Jika itu sudah menjadi keputusan kamu Papa setuju. Apalagi Papa tau pastilah kamu telah memikirkan semuanya untuk keputusan besar ini. Jikapun Imel tetap disini Papa akan merasa bersedih karena sudah sangat pasti Imel akan merindukan kamu. Dan Papa tidak ingin cucu Papa ikut bersedih juga. Oleh karena itu Papa merestui dan mengijinkan kalian pergi. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian." Papa Bambang.


"Loh, Papa kok ngijinin sih?" Mama Yuni.


"Sayang, Kita tidak bisa menahan Imel disini. Dengan beralasan Imel bisa kita jaga. Disini memang Imel banyak yang menjaga ada juga Wulan, Dini dan Nita yang bisa menghiburnya. Akan tetapi apa Mama lupa disaat-saat kehamilan putra-putri kita dulu orang yang selalu Mama cari adalah Papa. Dan itu yang menjadi pertimbangan Papa. Kita bisa susul Bima dan Imel ke sana saat Imel melahirkan nanti Ma." Papa Bambang.


"Papa..." Mama Yuni.


"Terima kasih Pa, Ma." Bima.


"Lalu, Wulan sudah tau Mel?" Saras.


"Belum Kak. Karena Imel baru tau sore ini Mas Bima mengajak Imel pergi." Imel.


"Tidak ada yang membuat Imel menolak Kak. Sebelum menikah dengan Mas Imel sudah mempersiapkan berbagai kemungkinannya. Seperti di tinggal tugas keluar kota atau bahkan keluar negeri. Akan tetapi jika Imel bisa menemaninya Imel akan jauh lebih senang." Imel.


"Syukurlah. Kakak rasa kamu bisa menjaga diri kamu disana nanti." Melati.


"Terima kasih Kak. Mohon do'anya." Imel.


"Kalian sudah bicarakan hal ini pada Bi Imah dan Pak Dimin?" Papa Bambang.


"Besok pagi Pah Bima akan langsung bicarakan ini pada Pak Dimin dan bi Imah." Bima.


"Jangan lupa Ibu di kabari Mel." Mama Yuni.


"Iya Ma. Ibu masih di pesawat. Nanti setelah sampai Imel kasih kabar." Imel.


"Ibu pergi kemana?" Melati.


"Antar Anya pengobatan." Mama Yuni.

__ADS_1


Karena sudah terlalu larut Saras dan Suami pun berpamitan begitu juga dengan Melati dan suami. Setelah semua pulang Mama Yuni dan Papa Bambang pun segera pergi ke kamar untuk beristirahat. Walaupun ada rasa tak rela namun mereka harus menerima keputusan Bima dan Imel pergi ke LN.


Imel menyandarkan kepalanya di dada bidang Bima. Imel tak pernah menyangka akan memiliki seorang suami pengusaha dan mengharuskan dirinya ikut kemanapun suami pergi. Imel pun bingung harus berbuat apa jika tetap tinggal.


"Maaf ya sayang. Kamu pasti sedih akan berjauhan dengan keluarga dan sahabat-sahabat kamu." Bima.


"Pasti Mas. Tapi, hidup harus terus berjalan. Bagaimana kita bisa berkembang jika kita terpaku pada satu sisi itu saja." Imel.


"Terima kasih sayang. Setelah ini Mas usahakan untuk tetap di tanah air. Ini sebenarnya proyek sebelum kita menikah dan Mas terlanjur menerimanya." Bima.


"Ngga masalah Mas. Terima kasih Mas mau di recokin dengan membawa Imel ikut serta dalam perjalanan bisnis ini." Imel.


"Mas tidak merasa di recokin sayang. Mas senang kamu ikut. Sekarang kita bobo ya. Kasian nih anak Papa kecapean." Ucap Bima mengusap perut Imel." Bima.


"Oke Pa." Jawab Imel menirukan suara anak kecil.


Imel pun tidur memeluk Bima dari samping. Bima mendaratkan bibirnya di kening Imel sebagai tanda selamat malam. Di tengah malam Imel terbangun karena kehausan. Imel melihat botol minum yang berada di atas nakas kosong membuatnya harus bangun dan mengisi lagi.


"Sayang,,," Ucap Bima dengan suara khas bangun tidur.


"Kenapa mas bangun?" Tanya Imel.


"Kamu mau kemana?" Bima.


"Mau isi botol ini Mas. Imel haus." Imel.


"Mana botolnya biar mas saja." Bima.


Bima pun bangkit dan mengambil botol minum untuk di isi kembali. Tidak perlu keluar kamar memang karena di dalam kamar mereka sudah tersedia dispenser semenjak Imel dinyatakan hamil. Karena Papa Bambang khawatir jika Imel malam-malam kehausan dan harus turun ke dapur.


"Ini sayang." Ucap Bima menyerahkan botol minum Imel.


"Terima kasih Mas." Imel.


"Tidur lagi ya." Bima.


"Iya Mas." Imel.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2