Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Rumah Imel


__ADS_3

Sore hari selepas magrib keluarga Imel mengadakan acara pengajian untuk mendo'akan almarhum Ayah mereka. Khusus hari ini mereka mengadakan acara selepas magrib.


Bima dan yang lainnya pun ikut serta dalam acara tersebut. Setelah acara pengajian usai Keluarga Bima berpamitan untuk menginap di hotel. Hanya Bima, Arman, Dodit, Nita dan Dini yang menginap di rumah Imel.


Imel tampak hanya diam sejak kedatangannya. Bima pun merasa bersalah karena dirinya tak memberitahukan Imel sejak awal. Karena itu pesan dari Bagas Kakak Imel. Bagas takut terjadi sesuatu pada Imel.


"Sayang," Panggil Bima duduk di samping Imel.


Imel menatap Bima. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Bima. Bima mengusal lembut tangan Imel.


"Maafkan Mas ya. Mas seharusnya memberitahukannya sejak awal." Bima.


"Terima kasih." Imel.


"Kenapa berterima kasih?" Bima.


"Karena Mas ada untuk Imel. Imel harap Mas akan selalu ada selamanya." Imel.


"Mas akan selalu berusaha ada untuk kamu sayang." Bima.


Sejenak mereka berdiam diri menikmati suasana malam yang hening. Juna dan Bagas memperhatikan mereka dari jauh. Bagas dan Juna merasa sedih melihat keadaan Imel. Beruntung ada Bima di sisinya sekarang.


"Tidurlah sayang." Titah Bima.


"Mas duluan saja. Imel masih mau di sini." Imel.


"Tidurlah." Ucap Bima menepuk kedua pahanya.


Tanpa ada penolakan Imel merebahkan kepalanya di atas pangkuam Bima. Bima memeluk Imel mengusap puncak kepalanya agar Imel tertidur dan benar saja tak lama terdengar suara dengkuran halus dari mulut Imel.


Bima membiarkannya saja hingga Imel jauh terlelap. Hingga tepukan di bahunya mengejutkan dirinya.


"Imel tidur?" Juna.


"Iya Bang. Bima tau dia sedih. Hanya saja Imel pandai menyembunyikannya." Bima.


"Kamu benar. Dia adik kami paling kecil tapi saya rasa dia yang paling dewasa di antara kami." Juna.


"Mungkin karena dia seorang dokter Bang." Bima.


"Ya kamu benar. Mungkin itu salah satunya." Juna.


Tanpa terasa mereka berdua pun ikut terlelap bersama Imel. Bima tidur dengan terduduk sambil memeluk Imel dan Juna tidur meringkuk di depan Bima. Anya melihat pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Tak tega untuk membangunkan suami dan adik-adiknya Anya pun hanya menyelimuti mereka saja.


Pagi hari Imel terjaga lebih dulu dari dikedua lelaki itu. Imel terkejut karena dirinya tidur di pangkuan Bima sehingga membuat Bima tidur terduduk bahkan Abangnya pun ikut tertidur di luar.


"Mas,,," Panggil Imel lirih.


"Hm... Kenapa sayang?" Jawab Bima dengan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


"Pindah tidur di kamar. Maaf Imel membuat Mas tidur terduduk." Imel.


"Mas tidur di sini saja sayang." Jawab Bima kembali meringkuk dan menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya.


Imel mengusap kepala Bima. Betapa bersyukurnya Imel menemukan Bima. Walaupun Imel tak pernah menyangka jika cintanya akan berlabuh pada Om-om. Walaupun Bima masih di katakan muda tapi Imel selalu menyebutnya Om-om karena Bima Om dari Wulan.


Imel pun ikut berkutat membuatkan sarapan untuk mereka semua di bantu tetangga yang membantu sejak kepulangan Ayah Imel. Tak lama Dini dan Nita terbangun dan ikut membantu Imel di dapur.


"Teh, makasih ya Teteh udah bantuin di sini.." Imel.


"Sama-sama Neng. Teteh juga ga ada kerjaan kok di rumah. Kasian Ibu pasti belum bisa turun ke dapur." Teh Leli.


"Iya Teh." Imel.


Anya dan Lena pun turun ikut menyiapkan sarapan.


"Anak-anak masih tidur Kak?" Imel.


"Iya semalam mereka tidur larut karena asik berkumpul." Anya.


"Kenapa di tinggal?" Imel.


"Kan ada Ibu." Lena.


"Kalian tidur di kamar Ibu?" Imel.


"Iya. Biar Ibu ga kesepian." Anya.


"Ngga perlu berterima kasih Mel. Kita keluarga sudah sepatutnya saling tolong menolong." Lena.


Setelah mereka semua selesai Imel, Dini dan Nita pergi ke kamar Imel untuk mandi. Begitu juga dengan Anya dan Lena yang pergi ke kamar Maryam untuk membersihkan diri. Arman, Dodit dan Bagas tertidur di depan.


Mereka semua telah terbangun dan menunggu giliran untuk mandi. Nita sengaja menginap di rumah Imel walaupun rumahnya tak jauh dari rumah Imel.


"Bos ada email dari Jo. Penting." Lapor Arman menyerahkan tabletnya.


Bima membaca emailnya dengan seksama kemudian dirinya tersenyum.


"Biarkan saja." Bima.


"Hah!" Arman.


"Mas, udah mandi?" Imel.


"Belum." Bima.


"Mandi sana di kamar itu kosong. Ini handuknya." Imel.


"Terima kasih sayang." Bima.

__ADS_1


"Sama-sama." Imel.


Setelah semua siap semuanya pun berkumpul di ruang utama untuk menikmati sarapan dengan beralaskan karpet yang masih tergelar di sana. Keluarga sengaja membiarkannya seperti itu dulu hingga tujuh hari kepergian Ayah Imel.


Ibu Maryam pun tampak senang melihat semuanya berkumpul. Hanya saja hari ini Imel dan yang lainnya harus berpamitan karena akan menghadiri acara pernikahan Wulan.


Tapi, Bima menahannya hingga hari ke tiga Ayah Imel menikah. Jadi Imel dan Bima tertahan di sana sementara yang lainnya pulang sore nanti. Karena besok lusa Wulan akan menikah.


Rombongan orang tua Bima sudah berada di rumah Imel kembali untuk menghadiri acara pengajian skaligus berpamitan kepada keluarga Imel. Mama Yuni dan Ibu Maryam tampak sudah akrab berbincang bersama. Mama Yuni menguatkan Ibu Maryam.


"Man, Lu bawa mobil Dodit aja. Mobil gw tinggal. Besok gw pulang bareng Imel aja." Bima.


"Loh, ga apa-apa bos gw pulang besok aja sekalian." Arman.


"Ga apa-apa. Kasian keluarga Lu. Kemarin mendadak pergi." Bima.


"Mereka mengerti Bos kan bukan yang macem-macem perginya." Arman.


"Thanks ya Man. Tapi, ga apa-apa lu balik aja. Terus tolong ambil alih email yang dari Johan tadi." Bima.


"Hah! Siap Bos." Arman.


Arman pun pulang bersama Dodit, Dini dan Nita. Nita tak sempat lagi pulang ke rumah. Untungnya Nita sudah bertemu dengan orang tuanya di rumah Imel saag datang melayat. Orang tua Nita pun akan pergi ke kota Y untuk menghadiri undangan dari keluarga Wulan.


Malam ini suasana rumah tampak sepi. Hanya ke empat anak dari Juna dan Bagas saja yang tampak bermain di dalam rumah. Ibu Maryam kini ikut bergabung duduk bersama.


"Bu, besok adek pulang ke kota Y." Imel.


"Iya Nak. Pergilah. Do'akan Ayah dimana pun kamu berada." Ibu Maryam.


"Iya Bu. Adek selalu mendoakan kalian." Imel.


"Dek, Gas, Bu. Jika Ibu berkenan. Abang akan membawa Ibu ke rumah Abang. Abang dan Anya sudah membicarakannya. Kami tidak tega jika Ibu tinggal di rumah ini sendiri." Juna.


"Bagas setuju saja. Jika Ibu ingin tinggal bersama Bagas pun Bagas dan Lena bersedia." Bagas.


"Adek gimana Ibu saja." Imel.


"Kalian kenapa repot-repot Ibu ada Teh Leli yang akan menemani Ibu." Ibu Maryam.


"Bu, Teh Leli akan menikah terus Ibu sama siapa nanti." Anya.


"Masya Allah. Alhamdulillah jika Leli akan menikah. Tapi kan itu belum tau kapan. Jadi, Ibu di sini saja. Kalian saja yang sering pulang ya." Ibu Maryam.


"Tapi, Bu.." Ucapan Juna terhenti.


"Juna, Anya. Kalian kan masih tinggal di kota yang sama dengan Ibu. Jadi, ibu bisa berkunjung kapan pun ibu mau begitupun dengan kamu Nya. Jika Juna terbang kamu dan anak-anak bisa tinggal di sini menemani Ibu." Bu Maryam.


"Baiklah Bu. Jika itu mau Ibu kami tidak bisa memaksakannya. Tapi, Ibu ikhlas kan kami pulang ke rumah masing-masing?" Juna.

__ADS_1


"Ikhlas Nak." Ibu Maryam.


🌹🌹🌹


__ADS_2