Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Mama Yuni Dan Papa Bambang Pulang


__ADS_3

Mama Yuni dan Papa Bambang tiba dari luar kota. Saat mereka sampai di rumah Imel tengah tertidur setelah hampir seharian berbincang bersama dengan Nita dan Dini. Dini bolak-balik dari rumahnya ke rumah Imel. Perut Imel terasa lapar membuat dirinya harus bangun dan turun untuk mengisi perutnya. Saat sampai di meja makan Imel melihat Mama Yuni tengah mengupas buah untuk Papa Bambang.


"Mama,,," Imel.


"Hai sayang. Sini. Mau buah?" Mama Yuni.


"Mama kapan datang? Papa Mana?" Tanya Imel mencium punggung tangan Mama Yuni dan mencium pipi kanan dan kiri Mama Yuni.


"Baru saja. Papa di luar sayang." Mama Yuni.


Imel melangkahkan kakinya ke luar menemui Papa Bambang.


"Sore Pah.." Imel.


"Hai sayang. Sore... Sudah bangun sayang?" papa Bambang.


"Sudah. Papa sehat kan?" Tanya Imel mencium punggung tangan Papa Bambang.


"Sehat dong sayang." Papa Bambang.


Imel mendudukan dirinya di bangku dekat Papa Bambang. Sebelumnya Imel meminta Bibi untuk membuatkan jus untuknya. Tak lama juga Mama Yuni ikut bergabung bersama Papa Bambang dan Imel. Papa Bambang menikmati buah yang di sediakan Mama Yuni untuknya.


"Bima belum datang sayang?" Mama Yuni.


"Belum. Paling sebentar lagi Ma." Imel.


"Bima selalu pulang terlambat?" Papa Bambang.


"Tidak Pah. Kebetulan tadi harusnya ada rapat pagi tapi Mas alihkan jadi siang jadi mungkin sedikit terlambat sekarang. Tadi Mas kasih kabar kalo masih rapat." Imel.


"Owh! Ibu baru pulang pagi tadi?" Mama Yuni.


"Iya Mah." Imel.


"Yah, sayang sekali ya. Padahal kita bisa ketemu ya Pah." Mama Yuni.


"Ga apa-apa Mah. Ibu juga cuma mau kaish kabar saja. Kalo ibu mau mengantar Kak Anya ke LN untuk pengobatan." Imel.


"Loh, Anya sakit?" Mama Yuni.


"Iya Mah." Imel.


Kemudian Imel menceritakan keadaan Anya seperti yang di informasikan oleh Ibu Maryam. Mama dan Papa Bambang turut berempati dengan keadaan Anya. Dan bersyukur Bima telah menyelesaikan masalah Juna.


"Syukurlah. Sekarang tinggal menunggu berangkat saja?" Papa Bambang.

__ADS_1


"Iya. Kak Anya sudah setuju. Mungkin lusa mereka pergi setelah Bang Juna turun Pah." Imel.


"Lalu anak-anaknya bagaimana?" Mama Yuni.


"Di bawa Kak Lena. Hari ini Kak Lena ke kota M mengurus perpindahan Stela dan Bian." Imel.


"Semoga semua cepat berlalu. Anya kembali pulih seperti sedia kala." Mama Yuni.


"Aamiin."


"Papa sama Mama juga jaga kesehatan ya." Imel.


"Iya sayang. Papa sama Mama kan masih mau nimang cucu. Dan kami harap kalian terus kasih kami cucu." Mama Yuni.


"Aamiin." Imel.


"Nanti Papa sama Mama mampir jika ada kunjungan ke LN." Papa Bambang.


"Iya Pah." Imel.


Bima tiba di rumah dan langsung ke halaman belakang menemui orang tua dan istrinya.


"Nah, itu dia yang di tunggu.". Ucap Papa Bambang ketika melihat Bima menghampiri mereka.


"Papa, Mama,, Apa kabar?" Tanya Bima mencium punggung tangan Papa Bambang dan Mama Yuni bergantian.


"Iya Pa. Tadi ada sedikit kendala." Bima.


"Sudah selesai?" Papa Bambang.


"Sudah." Bima.


"Kalo gitu Bima pamit mandi dulu Pah, Mah." Pamit Bima.


"Imel pamit juga ya Pah, Mah." Imel.


"Iya sana. Nanti kita makan malam bersama. Mama juga minta Mel sama Saras ke sini juga." Mama Yuni.


Bima pun pergi ke kamar bersama Imel. Imel bergelayut manja pada Bima. Dan itu yang selalu Bima inginkan dari Imel. Di dalam kamar mereka pun segera membersihkan diri mereka berdua. Karena Imel pun belum mandi jadilah mereka mandi bersama dan Bima pun tak menyia-nyiakan kesempatan saat mereka mandi dan terjadilah hal-hal yang di inginkan.


"Sayang, ada hal penting yang harus Mas kerjakan bersama Steve. Apa kamu tidak keberatan jika kita pergi ke sana?" Ucap Bima saat mereka menggunakan pakaian.


"Apa Mas tidak kerepotan jika harus membawa serta Imel? Sementara Imel lagi hamil begini?" Bukannya menjawab Imel malah balik bertanya.


"Justru itu masalahnya sayang. Jika kamu tetap di sini justru Mas yang akan repot." Bima.

__ADS_1


"Maksudnya?" Imel.


"Proyek ini akan memakan waktu lama. Mungkin satu atau dua tahun baru bisa di selesaikan. Mas percaya pada Steve akan tetapi semua harus di jalankan bersama. Arman dan Johan tidak mungkin Mas alihkan." Bima.


"Hah! Dua tahun Mas?" Imel.


"Iya sayang. Apa kamu bersedia ikut dengan Mas ke sana?" Bima.


"Huh! Imel tak jadi masalah jika harus ikut kesana Mas. Justru Imel merasa tidak enak jika tetap disini. Tidak ada alasan apapun untuk Imel tetap disini." Imel.


"Kamu tidak keberatan jika melahirkan disana?" Bima.


"Tidak jadi masalah Mas. Dimana pun asalkan bersama Mas Imel bersedia. Dan Imel harap Mas tidak melupakan keberadaan Imel disana nanti." Imel.


"Astaga sayang. Bagaimana Mas bisa melupakan kamu. Mas akan bagi waktu bekerja Mas seefisien mungkin agar bisa lebih lama bersama kamu. Terlebih saat nanti bayi kita akan lahir." Bima.


"Mas janji?" Imel.


"Tentu sayang. Kamu tersegalanya untuk Mas." Bima.


"Kalau sampai Mas ingkar. Imel pastikan Mas tidak akan bisa bertemu dengan Imel dan bayi kita selamanya." Ancam Imel.


"Ssstt... jangan lakukan itu. Mas tidak akan bisa jauh. dari kamu sayang." Bima.


"Lantas, Mama sama Papa bagaimana? Apa mereka tidak akan kecewa dengan kepergian kita?" Imel.


"Kecewa pastilah sayang. Tapi, bagaimana. Mas tidak bisa jauh dari kamu. Sedangkan proyek di sana membutuhkan Mas." Bima.


"Yakin proyek kan bukan perempuan?" Imel.


"Hei,,, jika perempuan untuk apa Mas bawa kamu ikut. Mas pergi saja sendiri." Bima.


"Jadi Mas mau pergi sendiri?" Imel.


"Tidak sayang. Dan tidak ada perempuan mana pun selain kamu dan Mama juga anak kita nanti. Kamu tetap pemegang tahta tertinggi di hati Mas. Mas yang pilih kamu dan Mas akan jaga selamanya." Bima.


"Badan Imel semakin melebar dengan besarnya kehamilan ini. Bagaimana jika disana nanti ada perempuan cantik dan seksi mencoba mendekati Mas?" Tiba-tiba Imel mengingat Ira yang mengatakan jika dirinya menyukai atasannya dan saat di hari pernikahannya Ira datang membuat Imel berkesimpulan jika Bima lah yang di maksudkan oleh Ira.


"Sebesar apapun badan kamu melebar Mas tidak akan pernah berpaling sayang. Karena melebarnya badan kamu demi mengandung cinta kita. Dan Mas sendirilah yang telah melakukannya." Bima.


"Lalu bagaimana jika disana nanti kamu akan bertemu dengan orang asing yang mungkin tampan dan seksi. Mas harap kamu tidak akan berpaling dari Mas yang semakin menua ini." Bima.


"Setampan dan seseksi apapun mereka tidak akan ada artinya dibandingkan dengan suami Imel. Mas Bima tersegalanya untuk Imel. Akan tetapi jika Imel bertemu dengan lelaki tampan maaf jika Imel masih melihatnya karena hal yang sangat manusiawi ketika kita mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna. Hanya sebatas mengagumi bukan ingin memiliki." Imel.


"Ceh, apapun yang terjadi kita saling terbuka oke." Bima.

__ADS_1


"Oke."


🌹🌹🌹


__ADS_2