
Saat Bima dan yang lainnya asik berbicara tanpa memperdulikan Mira barulah Mira menyadari Bima dan imel telah berpindah tempat duduk. Dengan kesal Mira bangkit dari duduknya dan menghampiri Bima.
"Bima,,, iih... Kok aku di tinggal." Rengeknya menyalahkan Bima.
Semua pun menoleh ke arah sumber suara. Bima melihat jengah begitupun dengan Imel. Bambang dan Toni menatap tajam ke arah Mira. Mira mencari tempat untuknya duduk dan kemudian dirinya melihat ke arah Imel.
"Hei, kamu sekretarisnya Bima kan. Sana kamu duduk di sana." Usir Mira.
Namun Imel tak beranjak sama sekali. Imel acuh tak acuh menanggapi Mira.
"Hei, kamu denger ga? Minggir." Usir Mira menarik tangan Imel.
Dengan sigap Imel menangkap tangan Mira yang bersilaturahmi di tangannya. Imel menariknya dengan teknik beladiri yang dia miliki membuat Mira pun memekik kesakitan.
"Aww... Bima ..." Teriak Mira.
"Jangan salahkan saya jika tangan anda patah. Karena anda sendiri yang memancing saya untuk melakukannya." Imel.
"Heh... B******k! Siapa kamu berani sama aku. Aku calon istrinya Bima. Kamu bisa di pecat." Umpat Mira.
"Owh! Ya. Tapi, kenapa calon suaminya diem aja ga nolongin." Imel.
Bambang yang awalnya akan melerai di halang oleh Bima. Bima membiarkan Imel melakukannya sendiri. Karena Bima pun sudah jengah sebenarnya. Bukan tak mengenal Mira tapi Mira terkenal suka merayu para teman kuliah yang sukses.
Bahkan Mira rela di menjajakan dirinya demi sejumlah uang yang dia inginkan. Oleh karena itu juga Bima diam tak bereaksi apapun. Bahkan Bima membiarkan Imel karena Bima tau Imel punya batasan.
"Bima, sayang tolongin.." Rengek Mira.
Bima pun bangkit dari duduknya menghampiri Imel bukan untuk menghampiri Mira. Bima tersenyum manis.
"Lepas sayang. Jangan kamu kotori tangan halus kamu hanya untuk kotoran tak berguna." Pinta Bima memeluk pinggang Imel posesif.
"Iiih,,, tapi aku suka mainan ini Mas.." Rengek Imel.
"Bima, kamu kok sayang-sayangan sama dia sih." Protes Mira.
Bima tak memperdulikan ocehan Mira. Bima malah semakin mempererat pelukannya pada Imel.
"Lepas dan buang. Mas ga suka nanti tangan kamu kotor." Bima.
__ADS_1
"Yaah.... Iya deh." Imel.
Imel menghempaskan tangannya begitu saja. Bukannya jera Mira malah mencoba mendekati Bima lagi namun belum sampai tangan Mira menggapai Bima, tangannya sudah di tepis lebih dulu oleh Bima.
"Maaf, saya tidak mengenal kamu jadi jangan usik keluarga kami." Bima.
"Iih,, Bima kamu ngomong apa sih.." Mira.
"Saya tekankan sekali lagi. Saya tidak mengenal anda dan yang anda maksud sekretaris saya ini adalah istri saya. Jadi, saya ingatkan sekali lagi jangan ganggu kami." Bima.
"Hah! Bima kamu becanda kan." Mira.
"Huek...Huek..."
"Sayang kamu ga apa-apa?" Bima.
"Mual Mas. Anak kamu ga suka liat dia. Huek.." Ucap Imel pura-pura mengusap perut ratanya.
"Owh! Sayang Papa... Ya sudah yuk kita duduk lagi. Jangan pedulikan sekitar." Ucap Bima ikut mengusap perut Imel.
Toni dan Papa Bambang menutup mulut mereka menggunakan telapak tangan demi menahan tawa yang ingin sekali meledak karena tingkah Imel. Bahkan sejak tadi Toni sudah ingin tertawa melihat ekspresi Mira.
Bima pun menuntun Imel duduk di kursi yang sebelumnya mereka duduki. Papa Bambang pun ikut menimpali akting Imel.
Bukannya menjawab Imel malah melongo. Demi menaturalkan aktingnya Imel pun segera menetralkan ekspresinya.
"Hah! Hm... Opa tau aja cucunya lagi mau makanan lagi." Ucap Imel menutup mulutnya.
"Ayo sebutkan biar Opa pesankan." Papa Bambang.
"Sayang,, boleh ya?" Rengek Imel menggelayut manja pada Bima.
"Boleh sayang. Apapun untuk kamu dan bayi kita." Bima.
Melihat Bima yang semakin mesra saja membuat Mira semakin jengah dan kesal. Mira gagal menggaet Bima yang di kenalnya sangat tajir melintir. Mira sudah menjadikan Bima sebagai target incarannya sejak dulu hanya saja sulit baginya menjamah Bima karena memang sulit untuk menemui Bima.
Dan kali ini dirinya bertemu begitu saja dengan Bima bagai mendapatkan durian runtuh dan Mira berfikir seolah Bima adalah jodohnya yang Tuhan berikan tanpa terduga. Nyatanya Bima sudah menjadi milik orang lain. Namun, tekadnya tetap kuat untuk menjadikan Bima target berikutnya. Karena menurutnya tak ada pria yang akan menolak pesonanya. Tak berhasil pada kesempatan pertama maka ada kesempatan kedua begitu fikirnya.
Mura pun meninggalkan area restoran. Dan setelah Mira pergi Papa Bambang dan Toni tertawa lepas begitupun dengan Bima dan Imel. Mereka berempat menertawakan Mira yang pergi begitu saja tanpa perlawanan lagi. Papa Bambang dan Toni bukan hanya menertawakan Mira melainkan menertawakan akting Imel juga.
__ADS_1
"Kalian ngetawain apa sih?" Tanya Saras yang baru saja datang bermaksud menyusul sang suami.
"Sayang, duduklah. Mas ambil bangku lagi." Ucap Toni mempersilahkan Saras duduk di bangku yang sedang dia duduki dan Toni mengambil bangku di meja sampingnya.
Semua pun menghentikan tawa mereka dengan memberikan senyuman hangat pada Saras yang baru saja datang ikut bergabung. Saras pun merasa bingung dengan semuanya.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Kamu terlambat datang sayang. Coba datang lebih cepat kamu akan bertemu dengan calon keponakan baru." Toni.
"Calon keponakan. Maksudnya?" Saras.
"Tadi ada calon keponakan kamu tali sekaramg udah ga ada." Papa Bambang.
"Calon keponakan apa sih? Siapa?" Tanya Saras semakin bingung.
Karena tak tega Imel pun menceritakan kejadian yang menimpa mereka tadi hingga akting dirinya yang berpura-pura hamil demi mengusir si ulet bulu. Saras pun ikut tertawa lepas mendengar cerita Imel. Bahkan Saras sampai mengeluarkan air matanya.
"Kok kamu kefikiran buat pura-pura hamil sih?" Saras.
"Mas Bima yang mulai." Imel.
"Loh, kok Mas yang mulai?" Bima.
"Mas yang bilang aku istri Mas jadi, biar lebih meyakinkan ya aku pura-pura aja mual-mual. Padahal mual beneran liat mukanya." Jelas Imel.
"Hahaaa..."
Semua pun tertawa bersama kembali. Pelayan restoran yang semula menegang pun kembali relaks setelah menyaksikan adegan yang cukup menegangkan bagi mereka. Bersyukur sekarang semuanya sudah kembali membaik bahkan semua bisa bernafas lega dan ikut tertawa.
"Kamu harusnya kemarin masuk jurusan akting Mel bukan kedokteran." Saras.
"Ya sepertinya gitu." Imel.
"Tenang Mel, jika setelah ini kamu mau ikutan audisi Mas bisa bantu kamu buat kirimin bukti video akting kamu." Toni.
"Maksudnya? Mas rekam tadi?" Saras.
"Tentu sayang. Karena kamu tidak akan percaya jika Mas ceritakan setelah kejadian ini. Dan kamu pasti akan bilang. Iiih, penasaran deh liat ekspresinya coba tadi kamu rekam mas. Dan mas sudah merekamnya untuk kamu." Jelas Toni menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Bima, Imel dan Papa Bambang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Toni dan Saras. Bahkan Imel tak marah karena aktingnya di rekam calon kakak iparnya.
🌹🌹🌹