
Usia Gendis sudah menginjak empat puluh hari persiapan perpindahan mereka pun telah siap. Beberapa barang telah di packing oleh Bi Imah. Dua hari lalu Melati dan Saras terbang terlebih dahulu ke tanah air. Ibu Maryam ikut terboyong pulang bersama Juna dan Anya karena saat mereka berdua di sana Anya mendapatkan kabar jika putri sulungnya sakit.
Ibu Maryam pun terpaksa ikut serta karena mengkhawatirkan cucu pertamanya itu. Imel pun tak keberatan karena ada Mama Yuni yang akan menemaninya saat perpindahan nanti.
Besok pagi Bima dan seluruh keluarga akan segera terbang ke tanah air. Tak satupun dari sahabat Imel yang di beritahu. Saras dan Melati pun sudah bersekongkol untuk tidak memberitahu mereka. Saras meminta para pekerja di rumah Bima untuk menyiapkan kamar untuk Athar dan Gendis. Melati pun berbelanja secara diam-diam bersama Saras. Tak sedikit pun membuat anak-anak mereka curiga.
"Mi, Mami sana Bude dari mana sih?" Tanya Dini yang melihat Melati baru saja tiba di rumahnya malam hari.
"Abis arisan. Ga enak kemarin ini Mami sama Bude absen terus jadi ya terpaksa kami ikutan." Alasan Melati.
"Berapa arisan sampe malem gini?" Dodit.
"Mau tau aja. Papi kapan pulang?" Melati.
"Besok Mi. Mami sih tinggal-tinggal terus." Dodit.
"Ceh, kan ada kalian. Udah ah Mami mau istirahat." Melati.
Pagi hari Melati sudah bersiap-siap dan akan membawa baby Aidan ikut serta. Dini membiarkan saja Aidan di bawa oleh Melati. Dini yang tengah hamil muda pun tak dapat melakukan apapun. Dodit berpamitan pergi ke kantor seperti biasa. Setelah kepergian semua anggota keluarganya Dini pun merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga meninton televisi.
"Permisi Bu, ada Nita."Bibi.
"Suruh ke sini aja Bi." Dini.
"Udah, gw udah di sini. Kenapa lu? Masih mual munt*h juga?" Tanya Nita yang pada kehamilan keduanya dirinya tak merasakan apapun.
"Seperti yang lu liat. Beruntung sekarang udah banyak makanan yang masuk walaupun sedikit-sedikit." Dini.
"Syukurdeh. Jangan ampe kaya Wulan masuk rumah sakit segala." Nita.
"Itu dia makanya gw paksa makan cemal cemil walaupun rasanya menyiksa." Dini.
"Aidan mana?" Nita.
"Dibawa Mami." Dini.
"Ceh, ga ada temen deh anak gw. Ke tempat Wu Gilang juga di bawa Tante Saras." Nita.
"Lah, terus si Wulan kemana?" Dini.
"Ngejoprak kaya lu." Ledek Nita.
"Bodo amat. Ya udah tuh cewek cantik biarin aja main sendiri di situ." Tunjuk Dini pada tempat main Aidan.
__ADS_1
Karena lelah membawa kesana kemari putrinya Nita oun menyimpan Putri cantiknya di tempat Aidan bermain. Kemudian Nita kedapur membawa beberapa camilan dan minuman yang dia suka. Nita duduk di samping Dini yang masih setia merebahkan dirinya.
"Kebanyakan rebahan malah bikin pusing kepala Din. Duduk deh. Makan tuh cemilan." Nita.
"Ngga ah masih kenyang gw." Tolak Dini.
"Kenyang makan angin Lu. Udah makan dikit-dikit." Paksa Nita.
Dini oun menurut memakan cemilan yang di bawa Nita sedikit demi sedikit. Tanpa terasa dirinya telah menghabiskan lumayan banyak cemilannya.
"Terus kita kapan jengukin bayinya Imel Ta?" Dini.
"Yaelah,,,pake sok sok an ngajakin ke tempat Imel. Lu baru keluar rumah dikit aja langsung tepar." Ledek Nita.
"Terus gimana? Gw juga ga tau hamil ke dua ini luar biasa." Dini.
"Ya udah kita saling do'akan aja. Imel juga ngerti kali." Nita.
Sementara di Bandara pesawat yang di tumpangi Imel dan yang lainnya telah mendarat dengan mulus. Para menumpang pun turun satu persatu. Imel menggendong Gendis sejak naik pesawat karena takut Gendis ingin menyusu. Sementara Athar bersama Mama Yuni dan Papa Bambang.
Mobil yang menjemput mereka pun telah tiba setengah jam sebelum mereka tiba. Mereka memutuskan untuk langsung pergi ke rumah untuk beristirahat takut-takut Athar dan Gendis kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
Melati dan Saras segera menyiapkan makan siang untuk mereka semua ketika Saras mendapat kabar dari supir Bima jika rombongan mereka telah menuju rumah. Aidan dan Gilang pun di biarkan bermain bersama dengan pengawasan baby sitter tentunya.
"Sudah Bu." Bibi.
"Baiklah. Kalian ga keceplosan kan sama ART Dini dan Wulan juga Nita?" Melati.
"Tidak Bu. Aman pokoknya." Bibi.
"Bagus. Nanti sore akan datang orang dari restoran XX kalian tolong bantu mereka menata makanan yang akan di hidangkan untuk makan malam." Melati.
"Siap Bu." Bibi.
Tiga mobil mewah pun memasuki halaman parkir rumah Bima. Gerbang tinggi pun segera tertutup kembali. Imel bernafas lega ketika dirinya telah sampai di rumah. Ucapan syukur selalu terucap dari mulutnya. Bima pun mendaratkan kecupan di pelipis Imel.
"Alhamdulillah.... Akhirnya kita pulang." Imel.
"Iya sayang. Terima kasih telah menemani Mas berjuang." Bima.
"Mas tidak perlu berterima kasih karena itu sudah menjadi tugas Imel." Imel.
"Ayo kita turun. Gendis biar Mas yang gendong." Bima.
__ADS_1
Mereka pun turun dan di sambut hangat oleh Melati dan Saras yang masing-masing menggendong cucu-cucu mereka.
"Selamat Datang Om Athar dan Onty Gendis." Ucap Saras menyambut kedatangan mereka.
"Terima kasih." Imel.
"Ini Gilang dan ini Aidan kan?" Tebak Imel yang baru melihat mereka lagi setelah terpisah cukup lama. Terakhir mereka bertemu saat mereka melakukan kunjungan ke LN saat menjenguk Athar.
"Benar Oma cantik." Jawab Melati.
"Wah kalian sudah besar. Dimana ibu kalian?" Imel.
"Mereka tidak tau jika kalian datang. Malam nanti kita akan mengadakan makan malam bersama dan mereka baru akan tau nanti." Saras.
"Terima kasih Kak." Imel.
"Sudah ayo masuk." Mama Yuni.
"Eh, iya. Ayo." Saras.
Mereka pun masuk sebelum makan siang mereka lebih memilih mengistirahatkan diri mereka terlebih dahulu. Athar dan Gendis di serahkan pada Bi Imah yang akan bertugas menjaga mereka berdua sepulang dari LN. Sementara Bima dan Imel masuk ke dalam kamar mereka yang mereka tinggalkan lebih dari dua tahun.
"Hah... Kangen banget deh Imel sama tempat tidur ini.." Ucap Imel merebahkan badannya di tempat tidur.
"Kangen sama tempat tidurnya atau sama yang nemenin tidurnya?" Goda Bima.
"Tempat tidurnya lah. Kan yang nemenin tidurnya selalu ada di samping aku." Imel.
"Yakin nih ga kangen?" Tanya Bima yang dengan nakalnya tangan kekarnya telah menyelusup kedalam dres yang di kenakan Imel.
"Astaga Mas, sana ih... Masih siang juga udah mesum." Usir Imel menyadari kenakalan suaminya.
"Kangen Yang. Kan udah puasa." Bima.
"Tapi, Imel baru pake kontrasepsi Mas sabar ya. Masih dua hari lagi." Imel.
"Astaga! Lama bener Yang? Sekarang aja gimana?" Rengek Bima.
"Boleh, tapi Mas harus puasa lagi kalo perut aku membesar lagi karena ulah kamu." Imel.
"Huh! Kalo gitu cara lain Yang. Mas ga tahan." Bima.
"Siap kapten." Imel.
__ADS_1
🌹🌹🌹