Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Bima beranjak menuju kamar Imel. Sampai di depan kamar Imel Bima mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Bima melakukannya sekali lagi namun tetap sama tak ada jawaban.


Dengan perlahan Bima membuka heandle pintu yang ternyata tidak terkunci. Tidak nampak Imel di dalam namun pintu balkon terlihat terbuka. Bima melangkahkan kakinya menuju balkon dengan tetap membuka pintu kamar Imel.


Terlihat Imel tengah duduk seorang diri dengan ponsel dalam genggamannya. Imel memainkan sebuah permainan yang baru saja di download nya karena kesal. Imel belum menyadari kehadiran Bima di ambang pintu.


Bima melangkahkan kakinya mendekati Imel kemudian duduk di sampingnya. Imel menyadari kehadiran seseorang di sampingnya. Imel hanya melihat dari sudut matanya.


Bima mengulurkan tangannya memeluk bahu Imel. Sementara Imel hanya diam melanjutkan kegiatannya bermain game. Bima tau Imel kesal padanya. Bima terus menatap Imel yang berpura-pura serius pada permainannya.


"Maaf sayang,, bukan Mas bermaksud mengacuhkan kamu. Mas tau waktu bersama kita hanya tinggal sebentar untuk pertemuan kali ini." Bima.


Imel masih tak bergeming. Imel masih terus fokus pada layar ponselnya. Bima menarik nafas dalam. Bima menempelkan bibirnya di pelipis Imel mencurahkan rasa sayangnya. Imel masih tak bergeming juga. Sampai Bima memeluknya dari samping.


"Kita jalan-jalan yuk sayang. Mas kan belum pernah berkeliling di kota ini." Ajak Bima.


Imel menatap Bima setelah pelukannya terlepas. Bima pun membalas tatapan Imel dengan penuh kasih sayang. Bima tau Imel begitu jatuh setelah kehilangan cinta pertamanya. Hanya saja Imel selalu berusaha tegar di mata siapa pun.


"Kalo kamu gini terus Mas ga bisa nunggu sampai bulan depan sayang. Mas rasa Mas akan meminta Bang Juan untuk menikahkan kita sore ini juga." Bima.


"Mesum.." Imel.


"Ga apa-apa dong Yang. Kan mesum juga sama calon istri sendiri. Bukan calon istri orang." Bima.


"Mas,, ih. Sana ah." Usir Imel.


"Ga mau. Mas mau deket-deket kamu terus." Ucap Bima mengeratkan pelukan di pinggang Imel.


"Mas ih... Tadi katanya ngajakin jalan-jalan. Ya udah sana Imel mau siap-siap dulu." Imel.


"Kenapa memang kalo Mas tetap di sini sayang? Toh nanti juga Mas liat semuanya." Bima.


"Ish... Enak aja. Ga ada pokoknya sana keluar." Imel.


"Lah, kan sejak tadi kita di luar sayang." Tunjuk Bima pada alam sekitar.


Imel menghembuskan nafasnya kemudian berbicara perlahan pada Bima.


"Mas Bimantara Kusuma yang terhormat tolong keluar dari kamar Imelda karena Imel mau bersiap pergi jalan-jalan." Imel.


"Imelda Anastasya calon istri Bimantara Kusuma.. Kamu bisa masuk ke dalam kamar dan bersiap. Biarkan calon suamimu ini menunggu di sini menikmati udara sore." Bima.

__ADS_1


"Iissshhh... Awas ya kalo masuk.". Imel.


"Oke Mas terima hukumannya kalo mas masuk. Dan hukumannya cium kan.." Goda Bima.


"Idih.. Ngarep." Ucap Imel beranjak masuk ke dalam.


Imel membawa pakaian gantinya kedalam kamar mandi untuk bergabti pakaian setelah di rasa rapi Imel kembali menemui Bima di balkon dan mengajaknya pergi. Bima pun segera beranjak dan pergi bersama Imel.


Sebelumnya Bima dan Imel berpamitan pada semua keluarga jika mereka akan pergi ke luar dan mungkin akan melewatkan jam makan malam. Ibu Maryam dan semuanya mengijinkannya.


Imel berencana mengajak Bima ke taman kota yang berjarak tak jauh dair rumahnya. Imel selalu senang jalan-jalan sore di sana terkadang bersama Nita juga jika kebetulan mereka pulang bersama. Jika tidak Imel akan pergi sendiri.


Bima memarkirkan mobilnya di area parkir. Terlihat banyak orang lalu lalang menikmati suasana sore di taman kota. Banyak para penjual makanan dan minuman berderet di sana. Para Ibu yang tengah menyuapi anak mereka sambil bermain.


"Kamu sering ke sini?" Bima.


"Sesekali jika pulang." Imel.


"Sama siapa biasanya?" Bima.


"Sendiri. Atau terkadang bersama Nita juga jika kami kebetulan pulang bersama." Imel.


"Kalian sejak kapan dekat?" Bima.


"Lalu Dini dan Wulan?" Bima.


"Bersama Dini kita bertemu di rumah kost yang kebetulan juga Dini di terima sekolah di sekolahan yang sama dengan beasiswa prestasi juga. Dari situlah kami berteman baik. Sedangkan Wulan kami bertemu di sekolah. Saat itu Imel duduk sendiri dan Wulan datang." Jelas Imel mengenang masa lalunya.


"Dari situlah kalian berempat bersama?" Bima.


"Ya. Dan Imel harus lebih dulu masuk universitas saat Imel keterima di kedokteran." Imel.


"Kamu ikut kelas akselerasi?" Bima.


"Kayanya gitu." Jawab Imel nyeleneh.


"Astaga kamu itu. Terus kenapa yang lain ngga ikut kelas itu juga?" Bima.


"Karena mereka ga minta masuk kedokteran. Waktu itu ada beasiswa dari salah satu rumah sakit besar yang menawarkan. Imel coba ikut walaupun saat itu Imel masih kelas dua. Guru wali Imel yang menyarankan." Imel.


"Dan ternyata kamu lolos?" Bima.

__ADS_1


"Iya. Dan hanya Imel yang lolos. Anak kas tiga yang ikut justru ngga lolos." Imel.


"Masya Allah. Mas bangga sama kamu sayang." Bima.


"Tapi, Imel sedih karena ga bisa lagi pergi sama-sama dengan Nita dan Dini begitu juga dengan Wulan. Beruntung Nita dan Dini masih tinggal satu kos dengan Imel tapi Wulan kan tidak." Imel.


"Lalu bagaimana cara kalian bertemu?" Bima.


"Kami selalu menyempatkan di akhir pekan untuk bertemu. Jadi, akhir pekan kami hanya untuk kami tidak ada yang lain." Imel.


"Seru juga ya persahabatan kalian." Bima.


"Lalu Mas gimana bisa bersahabat dengan Mas Johan, Arman dan Steve?" Imel.


"Kenal Johan sejak kita sama-sama di bangku sekolah menengah atas sedang Arman teman sejak kecil kalo Steve itu teman kuliah di LN." Bima.


"Owh! Ku fikir kalian selalu sekolah bersama-sama." Imel.


"Tidak. Di antara kami Mas yang paling beruntung karena memiliki orang tua yang berkecukupan. Sampai Mas menggantikan posisi Papa Mas mengajak mereka ikut bergabung bersama." Jelas Bima.


"Lalu kenapa mereka semua sudah menikah dan Mas masih setia menjomblo? Mas udah ngincer aku ya?" Tanya Imel dengan percaya diri.


"Ceh, Mas dulu punya pacar juga sebelum dia berpaling pada lawan bisnis Mas." Kenang Bima.


"Maaf. Tidak perlu di lanjutkan Mas." Imel.


"Tidak masalah kan itu semua sudah menjadi masa lalu dan Mas beruntung berpisah dengan dia karena Mas bisa mendapatkan kamu." Bima.


"Gombal." Imel.


"Saat itu lawan bisnis Mas memenangka tender yang cukup besar dan Mas tidak mengambil tender itu karena saat itu bertepatan dengan ulang tahun pernikahan Mama dan Papa dan mengharuskan Mas pulang. Mas merelakang tender itu karena lebih mementingkan orang tua Mas. Dia marah besar dan mengatai Mas B****.


Bahkan dirinya mengancam Mas untuk putus. Saat itu yang Mas fikirkan hanya kedua orang tua Mas. Mas tak mempermasalahkan tender besar itu. Toh, jika sudah rejeki akan datang dengan sendirinya. Dna tender itu di menangkan oleh perusahaan pria yang sekarang menjadi dari mantan Mas itu." Jelas Bima panjang lebar.


"Mas tidak mempertahankan hubungan Mas?" Imel.


"Untuk apa jika sejak awal dia menilai segalanya dari duit maka kedepannya tidak akan beres." Bima.


"Hmm... Terus Mas nangis-nangis dong putus sama dia?" Goda Imel.


"Awalnya Mas kecewa tapi lama kelamaan Mas terbiasa dan menerimanya." Bima.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2