Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Jangan Pergi


__ADS_3

Bima menyodorkan sendok di depan mulut Imel. Kemudian Imel pun membuka mulutnya dan memasukkan suapan nasi kedalam mulutnya. Bima tersenyum, setelahnya Bima memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.


Begitu terus bergantian hingga nasi di piringnya habis. Bambang mendekati putranya saat Imel mengambil minum untuk mereka yang lupa dia ambil tadi.


"Kapan Papa melamar?" Tanya Bambang.


"Sabar dong Pa. Ini aja dapetnya susah Pa." Bima.


"Hahaa... Cepat taklukan biar Papa cepat lamar dia buat kamu. Mama udah ga sabar pengen cucu dari kamu." Bambang.


"Pa... Udah ah sana. Nanti dia ga mau ke sini lagi." Usir Bima.


Namun ternyata salah. Imel sudah berada dekat dengannya dengan memasang senyuman khasnya. Imel pun menyapa Bambang dengan santai karena Imel sudah bisa mengendalikan kegugupannya.


"Eh, ada Opa. Opa mau minum juga?" Tawar Imel.


"Kok Opa Mel?" Bambang.


Blush...


Pipi Imel memanas hanya mendengar pertanyaan sederhana dari Bambang.


"Papa dong kaya Bima." Bambang.


"Eh," Imel.


"Di biasakan oke. Papa ke sana dulu. Kalian lanjutkan saja." Pamit Bambang.


Imel menatap Bima dan pandangan mereka pun bertemu. Bima menerima uluran air mineral yang di berikan oleh Imel. Wulan, Dini dan Nita menghampiri Imel dan Bima.


"Go public Me." Dini.


"Ngga." Imel.


"Yakin?" Nita.


"Biasa aja." Imel.


"Mantap Tante." Wulan.


Bukannya menjawab Imel malah menatap tajam Wulan. Imel masih geli kalo Wulan menyebutnya Tante.


"Tancap gas Tante." Wulan.


"Huh... Sabar Tuhan..." Imel.


Bima hanya memperhatikan keempat orang sahabat itu. Dodit menghampiri mereka kemudian merangkul Dini.


"Jadi nih Lan punya Tante kita." Dodit.


"Iiih... Apaan sih kalian." Imel.


Acara pun telah usai Keluarga Dodit berpamitan pulang. Begitu juga dengan Wulan dan yang lainnya. Imel masih harus melaksanakan tugasnya. Dini pun ikut terboyong pulang.


Jadilah. Dodit, Ayahnya, Bundanya dan Dini satu mobil bersama. Juan, Wulan, Heru dan Nita. Sedangkan Saras, suami dan anak bungsunya. Imel terbawa oleh Bima, Bambang dan Yuni.


Awalnya Imel merasa canggung. Bambang dan Yuni yang semula bersama dengan Saras pun berpindah bersama Bima karena Adik dari Wulan beroindah dari mobil Dodit ke mobil Saras.


Niat pulang dari kota C berdua bersama Imel pun gagal karena Bambang dan Yuni ikut bersama. Yuni duduk di kursi penumpang bersama Imel sedangkan Bambang duduk di samping kursi kemudi menemani Bima yang menyetir.


"Kuliah kamu belum selesai Mel?" Yuni.


"Sudah O... Eh, Ma." Imel.

__ADS_1


"Sudah bekerja?" Yuni.


"Belum Ma. Masih insip." Imel.


"Setelah itu apa rencana kamu?" Yuni.


"Rencananya mau pulang kampung dulu Ma. Mau nafas dulu baru cari kerjaan." Imel.


"Tidak ada penempatan Mel?" Bambang.


"Ada Pa. Imel belum berencana ambil. Kemarin ada penawaran di pulau Imel masih pertimbangkan." Imel.


"Berapa tahun?" Yuni.


"Lima tahun masa pengabdian." Imel.


"Jangan Yang. Mas ga bisa kalo jauh-jauh." Protes Bima yang sejak tadi hanya menyimak.


"Makanya nikahin jangan cuma macarin." Yuni.


Blush...


"Besok nikah deh Yang. Biar kamu ga jauh-jauh." Bima.


"Kan kalo udah nikah juga bisa Mas." Jawab Imel.


"Sayang, masa kamu tega." Rajuk Bima.


"Padahal pergi juga belum." Imel.


"Hahaa... Biar bilang aja jadi pergi biar dia kebakaran jenggot." Yuni.


"Mama yang kasih ijin Mas." Imel.


"Mama!" Bima.


"Yang, beneran mau ke pulau?" Tanya Bima yang masih kepikiran.


"Boleh?" Imel.


"Ih, kamu mah.." Bima.


"Eh, Imel belum tau Mas. Ayah belum kasih ijin." Imel.


"Biar Mas telfon Ayah biar kamu ga di kasih ijin." Bima.


"Takut banget ya Imel pergi ke pulau?" Imel.


"Banget sayang. Nanti gimana kalo di sana kamu ada yang suka." Bima.


"Ya ga apa-apa dong Mas kalo kitanya saling suka ya ga masalah bukan." Imel.


"Yang, baru tiga hari loh." Bima.


"Apaan?" Imel.


"Pacaran." Jawab Bima yakin.


"Dududu... Jadi Om ini pacarnya Imel ya?" Goda Imel.


Bima mencubit hidung Imel gemas. Imel pun mengaduh dan melipat bibirnya. Dan itu membuat Bima semakin gemas melihatnya. Dan aksi mereka pun terhenti karena makanan yang mereka pesan sudah datang.


Mereka berdua makan dengan lahap. Tak ada suara sama sekali hanya benturan sendok dan garpu mengenai piring. Namun tatapan mata mereka tak pernah terputus.

__ADS_1


Usai makan malam Bima mengantarkan Imel ke kost. Dini dan Nita pun sudah berada di kost. Imel berpamitan masuk kepada Bima namun Bima menahannya. Rasanya begitu berat berpisah dengan Imel.


"Yang, pulang ke rumah Mas aja yuk." Ajak Bima.


"Iya. Nanti tapi ya kalo kita udah ke MUI." Imel.


"Ngapain ke MUI?" Tanya Bima heran.


"Minta label halal." Imel.


"Astaga! KUA sayang bukan MUI. Memangnya kita makanan." Bima.


"Nah tuh tau. Ya udah Imel pamit dulu ya Mas Bima sayang." Ucap Imel lembut.


"Aaa.... Malah jadi ga mau pisah." Bima.


"Kan besok bisa ketemu lagi Mas." Imel.


"Beneran?" Bima.


"Hmmmm... Iya. Ya udah Mas pulang nanti terlalu malam pulangnya." Imel.


"Ya udah Mas pamit ya." Bima.


"Hati-hati di jalan ya Mas." Imel.


Imel pun turun dari mobil Bima dan menunggu di tepi jalan hingga mobil Bima hilang dari pandangannya. Setelah itu Imel pun masuk kedalam kost. Dilihatnya Dini dan Nita masih mengobrol di luat dengan anak kost yang lainnya.


"Malam.." Imel.


"Malam.."


"Kok baru datang Mel?" Nita.


"Makan dulu tadi laper." Imel.


"Sama Opa dan Oma juga?" Dini.


"Ngga. Mereka pulang lebih dulu. Katanya mau makanan di rumah aja." Jawab Imel jujur.


"Kirain udah makan bersama." Dini.


"Kalian belum tidur?" Tanya Imel duduk di kursi yang kosong.


"Belum Mba. Kita lagi ngomongin anak kost sebelah yang tiba-tiba perutnya gede." Siska.


"Huss... Itu bukan tiba-tiba Sis. Emang di rencanakan." Imel.


"Maksud Lu? Tu anak belom nikah Mel. Dia masih kuliah di kampus B." Nita.


"Siapa bilang belum nikah?" Imel.


"Lah, gw barusan." Nita.


"Dia udah nikah. Beberapa kali gw pernah ketemu di rumah sakit. Dia mau periksa kehamilan sama suaminya." Imel.


"Terus kenapa dia kost di sini sendirian? Kenapa ga sama suaminya?" Ani.


"Nah, kalo itu Mba ga tau Ni. Coba tanya dia aja hehehe.." Jawab Imel kemudian bangkit dari duduknya menuju ke kamar dia.


"Nah, kan pergi deh tuh. Ngga jelas banget kan kasih info. Apa jelas tuh pasien kalo dapet penjelasan dari lu." Dini.


"Jelas dong.. Kan gw jelasin ampe tuntas." Imel.

__ADS_1


"Ya udah yuk bobo semuanya." Nita.


🌹🌹🌹


__ADS_2