
Mempelai pria dan keluarganya sudah sampai di rumah Nita. Penghulu pun sudah siap di tempatnya. Heru tampak tenang walaupun dadanya bergemuruh. Ayah Nita sudah siap menuntun Heru untuk mengucapkan janji sucinya.
SAH
Terdengar riuh mengucapkan kata sah. Nita di apit Imel dan Dini keluar dari kamar. Wulan mendadak pusing saat melihat banyaknya orang di luar. Sehingga Juan dengan sigap membawa Wulan ke luar.
Nita tampil anggun dengan kebaya putihnya. Heru pun begitu terpukau melihat wanita yang kini sudah menyandang nyonya Heru berjalan mendekatinya dengan senyumannya yang terus mengembang.
Dini dan Imel menduduki tempatnya setelah mengantarkan Nita. Dini duduk di samping Dodit dan Imel duduk di samping Dini. Ada perasaan kosong di saat dirinya duduk sendiri. Walau tak di pungkiri hati kecilnya begitu merindukan sosok Bima. Namun, dirinya tak bisa egois dengan memaksa Bima untuk hadir di acara pernikahan Nita.
Serangkaian acara telah usai di laksanakan sebagian tamu undangan satu persatu kembali ke rumah masing-masing begitu pun dengan saudara dekat. Menyisakan Keluarga inti Nita dan Heru. Juga para sahabat Heru dan Nita.
Raka, mantan dari Imel pun hadir di sana karena satu pekerjaan dengan Heru. Pandangan Raka tak lepas dari Imel apalagi Imel datang sendiri ke acara Nita. Mungkin Raka berfikir jika Imel masih sendiri.
Dirinya merasa memiliki peluang lagi mendekati Imel. Namun, saat dirinya akan mendekati Imel selalu saja ada orang yang bersama Imel. Dodit selalu mengawasi Dini dan Imel. Dodit tak membiarkan Imel sendiri begitu juga dengan Dini.
Ada perasaan tak enak pada Imel sebenarnya tapi, mau bagaimana lagi Nita dan Heru tak mungkin tak mengundang Raka karena masih satu perusahaan dengan Heru. Raka dan Heru satu kampus saat kuliah dan kebetulan bekerja di perusahaan yang sama juga.
Dodit sudah mengajak Heru untuk bekerja di perusahaannya saja hanya saja Heru tidak ingin terlalu cepat pindah ketika mendapati Raka masuk ke perusahaan yang sama. Oleh karena itu, Heru tengah merancang kepindahannya setelah menikah.
"Mel, kita minta maaf ya. Lu pasti ga nyaman ya?" Ucap Nita saat Imel berada dekat dengannya.
"Santai Nit. Yang lalu biarlah berlalu. Tapi, ga tau ya dia nya hehehee.." Imel.
"Astaga! Lu ya emang. Om Bima tau?" Nita.
"Tau dong. Gw mah kan jujur orangnya." Imel.
"Sahabat kita emang top Nit." Dini.
"Eh, Wulan gimana?" Nita.
"Sorry Nit. Kayanya dia ga bisa balik lagi. Tadi mukanya pucet banget. Kayanya masuk angin apa ya." Dini.
"Aduh, gw jadi ga enak sama Mas Juan. Soalnya dia kan abis nginep di tempat gw." Nita.
"Santai. Berdo'a saja kita dapet kabar baik." Imel.
"Serius Mel?" Dini.
"Kita do'akan saja." Imel.
__ADS_1
"Aamiin."
Setelah pesta usai. Imel, Dini dan Dodit berpamitan begitu juga dengan teman-teman Heru. Saat di parkiran Raka melihat Imel tengah berjalan sendiri. Raka bermaksud mendekati Imel karena Raka tau Imel satu kota dengan Nita dan Raka bermaksud ingin melakukan pendekatan lagi.
Namun, saat Raka hampir mendekati Imel seorang pria dengan pakaian serba hitam mendekati Imel dan berbicara pada Imel sampai Imel masuk kedalam mobil. Saat Imel masuk terdapat dua mobil berhenti di dekat mobil Dodit.
Orang dengan pakaian serba hitam tadi memasuki salah satu mobil tersebut kemudian dua mobil itu menjalankan mobilnya begitu mobil Dodit melaju. Raka pun bermaksud mengikuti mobil Dodit namun tanpa sepengetahuannya Imel masuk kedalam mobil di samping mobil Dodit begitu juga dengan Dodit dan Dini.
Raka mengikuti mobil Dodit dan mengernyitkan dahinya ketika melihat mobil Dodit membelokkan mobilnya ke salah satu bengkel dan hanya ada supir yang keluar dari mobil tersebut.
"Sial.." Umpat Dodit.
"Kenapa susah benget sih Mel buat deketin kamu lagi. Bahkan hanya untuk berdekatan dengan kamu juga begitu sulit." Gumam Raka.
Raka memang sengaja bekerja di perusahaan dimana Heru bekerja di sana. Karena dirinya tau jika Heru pasti akan selalu berhubungan dengan Imel. Namun, nyatanya mendekati Imel kembali bukanlah suatu hal yang mudah.
Raka pun membelokkan mobilnya menuju hotel untuk beristirahat sejenak sebelum dirinyakembali ke kota Y. Saat di lobi Raka melihat ada Dodit di sana tanpa rasa malu dirinya pun mendekati Dodit yang kala itu tengah membuat janji bersama rekan bisnisnya.
"Dit, Dodit." Panggil Raka.
Merasa namanya di panggil Dodit pun menolehkan badannya.
"Iya. Lu nginep di sini juga?" Raka.
"Hmm... Tidak. Hanya membuat janji dengan klien." Dodit.
"Wah, Kenapa membuat janji di hotel? Dini tidak ikut?" Ucap Raka bermaksud menggoda Dodit.
"Memang kenapa ada yang salah?" Dodit.
"Tidak. Bisa bicara sebentar?" Raka.
"Sorry Ka, mungkin lain kali. Gw udah di tunggu." Tolak Dodit.
"Pak D0odit. Mari sudah di tunggu." Ucap Seorang Pria yang berada tak jauh dari Dodit dan Raka.
Raka tampak mengintai Dodit jika saja Dodit bertemu dengan seorang wanita. Namun, dugaannya ternyata salah. Dodit bertemu dengan kliennya seorang pria yang usianya mungkin seumur dengan Ayahnya.
Dodit tampak berbincang cukup serius dengan orang tersebut. Raka bermaksud menunggu Dodit hanya saja matanya tak dapat di ajak kompromi akhirnya Raka pun masuk ke dalam kamarnya.
Dodit pulang cukup larut ke rumah Imel. Dini tampak masih duduk di deoan televisi bersama Imel. Dodit masuk setelah penjaga rumah Imel membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Loh, Yang, kok belum tidur?" Tanya Dodit.
"Baru saja kami duduk di sini Yang." Dini.
"Loh, kenapa?" Dodit.
"Wulan kelaperan dan mau mie instan. Jadi, kami turun membuatkannya untuk Wulan." Dini.
"Apa sudah di periksakan?" Dodit.
"Sudah dan Alhamdulillah hasilnya positif Yang." Dini.
"Alhamdulillah.." Dodit.
"Ya sudah kalian masuk sana istirahat." Usir Imel.
"Lu juga istirahat Mel." Dini.
"Iya bentar gw masuk juga kok." Imel.
"Ya udah kita duluan ya Mel." Pamit Dodit.
Setelah sampai di kamar Dodit menyampaikan jika dirinya bertemu dengan Raka saat di hotel tadi. Dini terkejut karena Raka masih berada di kota yang sama dengan mereka.
"Terus dia ngikutun Mas ngga?" Dini.
"Ngga Yang. Tadi mas udah cek dia udah masuk ke kamarnya." Dodit.
"Mas yakin?" Dini.
"Yakin sayang. Sepertinya dia masih terobsesi kepada Imel." Dodit.
"Iya Kak Heru juga bilang seperti itu pada Nita. Dan sepertinya Dia juga sengaja masuk perusahaan dimana Kak Heru bekerja." Dini.
"Sepertinya Heru harus cepat pindah ke perusahaan sebelum Om Bima mengamuk." Dodit.
"Menurut Nita Kak Heru akan pindah setelah masa cutinya Mas." Dini.
"Baiklah. Begitu lebih baik. Mas akan kosongkan posisi untuk dia." Dodit.
🌹🌹🌹
__ADS_1