
Hari ini seperti yang sudah di jadwalkan Imel akan berangkat menuju negara dimana Bima dahulu merintis usahanya sebelum berpindah ke tanah air. Beberapa koper sudah masuk ke bagasi. Imel akan pergi menggunakan jet pribadi milik Papa Bambang. Semua pun mengantar kepergian Bima dan Imel ke Bandara.
"Mel, jangan lupa sama kita ya." Nita.
"Ga akan Ta. Semoga persalinan lu sama gw nanti lancar ya Ta." Imel.
"Aamiin.." Nita.
"Jangan terlalu capek di sana ya Mel. Jaga kesehatan lu." Dini.
"Iya Din. Lu juga ya. Tetep semangat bikin dedek baru. In shaa Allah yang ke dua Dodit ga baby blues. Ya kan Dit?" Imel.
"Imel ih,,, anak gw masih merah ini." Dini.
"Ga apa-apa. Gas deh..." Imel.
"Imelda Anastasya..." Wulan.
Imel merentangkan kedua tangannya dan tanpa bicara lagi Wulan langsung menghambur ke dalam pelukan Imel. Tak ada kata-kata perpisahan hanya pelukan dan tangisan yang terjadi pada keduanya.
"Om, jagain tante Wu loh. Awas jangan sampe di terlantarin di sana." Omel Wulan pada Bima.
"Iya keponakan Om yang cerewet." Ucap Bima memencet hidung Wulan.
"Aww... Sakit Om." Wulan.
"Kak, Imel pamit dulu ya. Sampai ketemu lagi." Imel.
"Iya sayang, jaga kesehatan ya. Nanti jika ada waktu dan kesempatan Kakak mamlir ke sana." Saras.
"Iya Kak. Imel tunggu kedatangan Kakak." Imel.
"Sayang, hati-hati. Kakak akan kehilangan kamu banget pastinya. Kakak usahakan ke sana saat menjelang persalinan kamu nanti ya." Melati.
"Iya Kak. Kalo ada apa-apa jangan sungkan hubungi Imel ya Kak." Imel.
"Iya sayang." Melati.
__ADS_1
"Ma, Imel pamit ya Ma." Imel.
Seperti halnya Wulan Mama Yuni tidak mampu berkata-kata lagi hanya air mata yang mengalir di pipinya. Mama Yuni memeluk erat menantu kesayangannya. Memberikan kecupan di seluruh wajah Imel. Dengan berat hati harus melepaskan kembali putra bungsunya dan kali ini bersama menantunya.
Imel dan Bima pun melangkah masuk ke dalam bandara di ikuti Bi Imah dan Pak Dimin. Perpisahan yang sangat tidak di inginkan oleh siapapun. Imel tak pernah menyangka jika dirinya akan di bawa pergi jauh dalam waktu yang cukup lama oleh suaminya. Walaupun sedih harus berpisah dengan orang-orang yang menyayangi dan di sayanginya akan tetapi dirinya bahagia karena bisa terus mendampingi suami tercintanya.
"Pak, Bi. Perjalanan akan sangat lama. Jadi, Bapak sama Bibi bisa tidur dulu. Jika lapar nanti akan ada makanan untuk kita semua." Bima.
"Iya Den terima kasih." Pak Dimin.
"Kamu tidur dulu sayang." Bima.
"Hm..." Jawab Imel singkat sambil mengusap-usap perutnya.
"Kenapa? Apa anak Papa rewel?" Tanya Bima melihat tangan Imel terus berada di tas perutnya.
"Dia terus bergerak Mas." Lapor Imel.
"Sssttt... Tenang sayang. Semua akan baik-baik saja. Di sini ada Papa juga." Bisik Bima sambil mengusap perut Imel.
Dan ajaibnya pergerakan bayi dalam perut Imel pun melambat seolah mengerti apa yang di bisikkan oleh Papanya. Imel menyandarkan kepalanya di dada bidang Bima dan Bima memeluknya dari samping sambil tangannya terus mengusap perut Imel. Tidak ada perubahan yang berarti pada tubuh Imel di kehamilannya pertamanya ini. Hanya perutnya sajanyang sedikit membuncit karena kehamilannya.
Sementara di tanah air. Setelah mengantarkan kepindahan Bima dan Imel. Dini Wulan dan Nita memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di mall terdekat dengan bandara. Sedangkan para suami mereka kembali bekerja. Saras dan Melati kembali ke rumah karena harus menjaga cucu mereka. Suami-suami mereka pun sama halnya dengan Dodit, Juan dan Heru kembali ke kantor masing-masing. Mama Yuni dan Papa Bambang memilih kembali ke rumah untuk beristirahat.
Papa Bambang memilih menemani Mama Yuni yang begitu kehilangan menantunya karena harus di bawa pergi oleh Putra bungsunya. Kesedihannya begitu mendalam berbeda ketika du di tinggalkan oleh Bima saat akan bersekolah di LN. Entah mengapa kedekatan Mama Yuni dan Imel begitu lengket dan kuat. Padahal saat dulu Imel berteman dengan Wulan saja Imel tak begitu dekat dengan Mama Yuni yang memang jarang di temuinya.
Akan tetapi Imel sangat dekat dengan Saras Mami dari Wulan. Saras dan Imel bagaikan anak dan ibu seperti halnya Wulan dan Saras. Jika dengan Melati Imel tak begitu dekat saat sebelum menikah dengan Bima karena memang hampir tak pernah bertemu. Pertemuan pertamanya saat Dodit wisuda itupun sangat sekilas saja.
"Sedih..." Wulan.
"Jangan begitu Wu. Kasian Imel nanti kefikiran kita terus."Dini.
"Iya ya. Tapi, rasanya ada yang kurang Din." Nita.
"Iya gw ngerti. Tapi, kita juga ga bisa misahin mereka dong. Kita juga ga mau kan pisah dari suami kita?" Dini.
Kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa menjawab Dini. Setelah lelah berputar-putar mereka pun memutuskan untuk mengisi perut mereka di salah satu restoran yang cukup terkenal. Karena saat mereka masuk jam makan siang restoran pun terlihat sangat ramai pengunjung. Beruntung mereka masih mendapat meja untuk mereka tempati.
__ADS_1
"Terus rencana kita apa?" Tanya Wulan setelah selesai memesan makanan.
"Kita tunggu setelah Nita lahiran deh." Dini.
"Eh, iya gw lupa kalo lu maish belum lahiran." Wulan.
"Astaga Wu. Lu ga liat gw bengkak kaya gini." Nita.
"Ga lebih bengkak pas gw hanil G Ta." Wulan.
"Iya lu kan kerjanya makan terus." Dini.
"Ngga loh Din. Malahan gw stress kan gara-gara di tinggal Imel honeymoon." Wulan.
"Iua itu awal kehamilan lu. Setelah itu nafsu makan lu gila-gilaan." Dini.
"Hehehe... Iya sih." Wulan.
"Arah jam satu. Raka dari tadi liatin kita terus." Dini.
"Hah!"
"Sssttt... Biasa aja." Dini.
"Serius lu? Sejak kapan?" Wulan.
"Ngga tau gw baru liat." Dini.
"Astaga! Pasti dia berharap akan ada Imel di sini." Nita.
"Kita siap hadapi dia kalo-kalo dia macem-macem?" Dini.
"Hei,,, lu aja berdua. Lu ga liat gw bawa-bawa apa." Kesal Nita yang kali ini kedua sahabatnya kembali melupakan jika dirinya tengan berbadan dua.
"Ish... Kenapa sih tu perut ga keliatan terus." Dini.
"Mata kalian aja yang perlu di periksain. Udah cuekin aja. Tuh makanan kita udah dateng." Tunjuk Nita pada waiters yang membawakan pesanan mereka.
__ADS_1
🌹🌹🌹