
Imel pun kembali ke ballroom dengan gaun yang berbeda namun tetap dengan warna yang sama. Bahkan Imel semakin memukau dengan gaun yang barunya. Dini dan Nita bahkan sempat tak percaya jika itu Imel sahabat mereka.
Nita dan Dini pun menghampiri Imel dan Bima karena mereka berdua penasaran kenapa Imel berganti gaun. Bahkan mereka tak berencana untuk berganti gaun di acara resepsi.
"Kok ganti sih Mel?" Nita.
"Gaun gw basah." Imel.
"Kok bisa?" Dini.
"Bisa lah." Imel.
"Jangan bilang." Ucap Nita terhenti saat melihat dua orang bodyguard mendekati mereka saat Bima kembali bergabung bersama yang lainnya.
Nita memberi kode mata pada Dini dan Imel menunjukkan keberadaan dua orang bodyguard yang berada di dekat mereka. Imel pun menarik nafas dalam melihat keberadaan mereka kembali.
"Yah,,, itu mengapa mereka berdua ada di dekat kita." Imel.
"Wow... Calon Om gw keren banget deh." Dini.
"Jangan kaget kalo-kalo nanti Dodit melakukan hal yang sama ke lu." Nita.
"Eh, kok gitu?" Dini.
"Jangan lupakan jika calon suami kalian bersaudara." Nita.
"Dan itu mengapa kita harus mulai terbiasa dengan keberadaan mereka." Imel.
"Astaga!" Dini.
Mereka bertiga pun berkelana mencari makanan ringan yang tersedia di sana. Pandangan Imel tertuju pada seorang pria yang datang bersama Anggi. Yang kebetulan saat ini mereka tengah berbincang bersama Bima.
Nita dan Dini pun saling pandang melihat tatapan Imel yang tertuju pada Anggi yang tengah mencari perhatian Bima padahal kekasihnya berada di sampingnya.
"Kenapa ga lu kasih pelajaran aja sih Mel?" Nita.
"Jangan buang-buang energi untuk hal yang ga penting kaya gitu." Imel.
"Betul itu. Jangan nodai sabuk hitam kita hanya untuk ulet bulu kaya gitu. Cukup angkat dua tangan kita ke atas dan ucapkan mantra pada yang kuasa." Dini.
"Masya Allah... Betul sekali Ustadzah." Imel.
"Asem Lu." Dini.
Mereka bertiga pun kembali dengan kegiatan mereka. Ketiganya pun mengeluarkan suara emasnya di atas panggung. Bima tak menyangka jika Imel memiliki suara yang merdu.
Pandangan Bima terus tertuju pada Imel yang tengah berada di atas panggung. Imel dengan santai bernyanyi bersama Nita dan Dini. Wulan yang saat ini tengah menjadi ratu sehari pun gemas ingin ikut bernyanyi bersama ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Hanya saja Wulan harus menahan keinginannya karena begitu banyak tamu undangan yang hadir dan kini tengah mengantri untuk memberikan selamat kepadanya.
Maklum saja Keluarga Juan pun Keluarga pengusaha yang tak bisa di pandang sebelah mata. Jadi, maklum saja jika undangan yang datang begitu banyak oara pengusaha. Bahkan Anggi sangat kalap ketika melihat banyak pengusaha muda yang datang.
Anggi tak menyangka jika Juan anak dari pengusaha ternama. Karena kesederhanaan Juan membuatnya tak mengenali Juan. Anggi memang sangat terkenal dalam menggaet pria kaya.
Setelah selesai bernyanyi Imel menghampiri Bima kemudian bergelayut manja di lengannya. Bima merasa gemas dengan tingkah kekasih hatinya yang akan bersikap manja di hadapannya.
"Owh! Iya kenalkan sayang. Ini Pak Heru manager perencanaan di perusahaan B." Bima.
"Imelda."
"Heru."
"Perkenalkan ini kekasih saya." Heru.
"Owh! Oke." Imel.
"Pak Heru, kami permisi dulu. Sepertinya Imel kehausan." Bima.
"Owh! Iya silahkan Tuan, Nona." Heru.
Bima pun menbawa Imel ke boot minuman dan membawakan Imel segelas minuman. Dan setelah Imel meminumnya setengah Bima pun menghabiskan sisanya dan menyimpan gelasnya kembali.
"Kamu udah cape sayang?" Bima.
"Sedikit." Imel.
"Nanti aja. Ga enak sama Wulan. Masa pulang." Imel.
"Kalo begitu ayo duduk bersama Mama di sana." Tunjuk Bima pada meja yang di tempati oleh orang tuanya.
Imel mengikuti langkah Bima mendekati meja orang tuanya. Imel duduk di samping Yuni dan Bima di sampingnya. Bambang memperingati Bima untuk tidak meninggalkan Imel.
Begitu juga dengan Yuni yang memarahi Bima karena terlalu asik dengan para tamu undangan yang merupakan klien bisnisnya. Imel hanya diam mendengar Bima yang tengah di ceramahi orang tuanya.
"Imel baik-baik aja Pah, Mah." Imel.
"Kamu itu sabuk hitam tapi Mama tau kamu ngga akan melakukan apapun bahkan menggunakan satu jurus apapun untuk hal seperti ini." Yuni.
"Hehehe... Mama tau aja." Imel.
"Kamu berteman dengan Wulan sudah berapa tahun masa iya Mama belum hafal juga." Yuni.
"Maaf Ma. Karena kami belajar bela diri untuk melindungi diri kita bukan untuk hal-hal yang ngga penting seperti itu." Imel.
"Kamu benar sayang. Tapi, kewaspadaan juga harus di terapkan." Bambang.
__ADS_1
"Siap Pa." Imel.
Perbincangan mereka terhenti ketika paman dan Bibi adik dari Yuni menghampiri mereka untuk berpamitan pulang terlebih dahulu. Karena mereka tak menginap di hotel yang telah disediakan.
"Mba, Mas. Kita pamit duluan ya." Halimah adik Yuni.
"Loh, kok cepet-cepet dek?" Yuni.
"Iya. Nanti kalo sore menjelang malam. Mas ya ga bisa nyetir lagi." Halimah.
"Masya Allah.. Ya sudah terima kasih sudah datang ya dek. Hati-hati di jalan." Yuni.
"Mari Bima antar Bi, Om." Bima.
"Tidak perlu Bim. Kami bisa sendiri. Kau tetap saja disini." Halimah.
Setelah kepulangan Halimah kemudian satu persatu keluarga dan tamu undangan berpamitan pulang. Kini menyisakan Keluarga besar Juan dan Wulan saja. Keluarga Juan pun menyusul pamit kepada keluarga besar Wulan.
Wulan dan Juan mengantarkan mereka hingga ke depan ballroom. Orang tua Juan memilih pulang ketimbang menginap di hotel yang di sediakan.
Jadilah hanya keluarga Wulan dan para sahabat saja yang menginap di hotel yang sudah di sediakan. Wulan, Dini dan Nita tidur di satu kamar bersama karena Wulan di kamar yang berbeda.
Wulan akan menikmati malam pertamanya dengan Juan di kamar yang telah di sediakan khusus untuk pengantin baru. Saat ini mereka semua masih berkumpul di satu meja bundar saling bercanda dan mengobrol ringan.
Wulan pun menanyakan mengapa gaun yang di kenakan Imel berubah. Imel pun akhirnya menceritakan kejadian dimana dirinya harus mengganti gaunnya dengan gaun yang baru. Beruntung Bima cepat tanggap membantunya.
Wulan, Dini dan Nita pun semakin geram pada perbuatan Anggi. Wulan seperti mengingat sesuatu kemudian kembali bertanya.
"Tunggu sebentar. Pacar baru Anggi tadi siapa?" Wulan.
"Pak Heru manager perencanaan perusahaan B." Imel.
"Kamu yakin Mel?" Wulan.
"Astaga! Orang Mas Bima sendiri yang bilang begitu." Imel.
"Gawat!" Wulan.
"Kenapa sih lu? Suka tiba-tiba ga jelas deh Lu Lan." Dini.
"Lu itu yang seharusnya waspada Din." Wulan.
"Kenapa? Apa hubungannya sama gw?" Dini.
"Ya karena CEO perusahaan B itu Dodit Dini." Wulan.
"Apa?! Lu becanda Lan." Dini.
__ADS_1
"Ngapain juga gw becanda." Wulan.
🌹🌹🌹