Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Pergi Berbulan Madu


__ADS_3

Pagi hari Imel membuka matanya dan pemandangan pertama yang di lihatnya adalah wajah pria yang telah membuatnya jatuh cinta. Pria yang tak pernah ada dalam bayangannya bisa menjadi pasangan hidupnya. Imel menyunggingkan senyumnya tanpa melakukan apapun. Mengingat pertemuan pertamanya yang tak begitu menyenangkan.


Walaupun Bima merupakan Om dari Wulan tak serta merta membuat dirinya sering bertemu dengan Bima. Bahkan Imel baru mengetahui Om dari sahabatnya itu setelah Bima kembali ke tanah air setelah sebelumnya bermukim di LN.


Dari situlah seolah Tuhan terus mendekatkannya dengan Bima. Seringnya pertemuan mereka membuat Bima jatuh hati dan akhirnya Imel pun membuka hatinya untuk Bima setelah di kecewakan oleh mantan kekasihnya.


Sebuah penolakan untuk tidak jatuh hati pada Om-om. Malah membuatnya terikat bersama dengan Om-om. Bahkan membuat dirinya selalu ingin berada di dekatnya. Lamunannya terputus dengan adanya sentuhan pada bibirnya dikarenakan perbuatan Bima.


"Mmm..." Lenguh Imel.


"Sudah selesai mengagumi Mas sayang?" Tanya Bima dengan suara khas bangun tidur.


"Tidak." Jawab Imel malu-malu.


"Iya pun tak apa-apa sayang. Asal jangan mengagumi pria lain di luar sana." Bima.


"Ayo Mas bangun. Mandi terus solat." Ajak Imel.


"Mandi sama-sama ya?" Bima.


"Bener cuma mandi?" Imel.


"Iya dong sayang. Pokoknya Mas mau buka puasanya nanti saat kita sudah di pulau." Bima.


"Iih, mesum." Imel.


Imel dan Bima pun mandi bersama dan sesuai dengan ucapannya Bima hanga mandi saja dengan sedikit cumbuan tidak lebih karena Bima benar-benar ingin penyatuan mereka sangat berkesan karena Bima telah menyiapkan tempat yang teristimewa baginya dan Imel.


Disinilah mereka berdua. Di bandara dimana keduanya akan terbang untuk menikmat bulan madu. Semua keluarga mengantarkan pasangan pengantin baru itu. Terlihat wajah Wulan yang paling murung dan sembab karena terus menangisi kepergian Imel. Entah mengapa Wulan mengidam ingin terus bersama Imel.


"Tidak akan lama Om dan Tante akan segera pulang." Ucap Juan menenangkan sang istri. Wulan hanya menjawabnya dengan anggukan saja.

__ADS_1


"Bu, boleh Wu menginap lagi di rumah?" Tanya Wulan.


"Tentu boleh sayang." Ibu Maryam.


"Wu mau bersama Ibu." Ucap Wulan memeluk Ibu Maryam.


"Sayang, tapi kita harus pulang. Mas tidak bisa meninggalkan pekerjaan mas terlalu lama. Kasian Ibnu." Juan.


"Mas pulang saja. Wu mau sama Ibu." Rengek Wulan.


"Sayang,, Kasian Ibu." Juan.


"Kenapa selalu ga boleh Mas? Wu mau sama Imel Om Bima marah. Wu mau sama Ibu Mas juga ga boleh. Huaaa..." Tangis Wulan pun pecah kembali.


"Sssttt... Sudah sayang. Ayo kita pulang ke rumah." Ibu Maryam.


Mau tak mau Juan pun mengikuti kemauan istrinya. Tidak mungkin juga dirinya meninggalkan istrinya sendiri di kota M. Karena dirinya pun tak bisa jauh dengan Wulan. Dan itu akan berimbas pada semua aktivitasnya.


"Begitulah wanita ketika mengandung Juan. Tingkahnya akan sangat aneh dan di luar nalar." Bagas.


"Lantas Juan harus bagaimana Bang?" Juan.


"Jika masih bisa bekerja dari sini sebaiknya di lakukan saja atau serahkan semuanya pada Ibnu untuk sementara hingga masa ngidam istri kamu hilang." Juna.


"Kapan Bang? Bahkan Juan lihat semakin hari semakin nempel Imel." Juan.


"Akan ada masanya ngidamnya itu hilang Juan. Apalagi ini sudah mau masuk trimester ke dua. Biasanya di fase ini ibu hamil akan lebih tenang dan menikmati kehidupannya lagi." Bagas.


Juan menatap Juna dan Bagas bergantian. Kemudian dirinya menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Setelah di fikirkan masak-masak akhirnya Juan menyetujui perkataan kedua Abang Imel.


"Baiklah Bang." Juan.

__ADS_1


Akhirnya mereka Juan pun memutuskan mereka memperpanjang tinggal di kota M tepatnya di rumah orang tua Imel. Ibu Maryam begitu sabar menghadapi sikap Wulan yang berubah-ubah begitu pun dengan Anya. Karena Lena dan keluarganya telah kembali ke kota B.


Stella pun menjadi sasaran ngidamnya Wulan walaupun Juan merasa tak enak pada keluarga Imel namun mereka selalu meyakinkan jika semua baik-baik saja. Orang tua Juan dan Wulan pun tak patah semangat untuk terus menghubungi anak dan menantu mereka membujuk agar Wulan mau pulang.


Pasangan Imel dan Bima kini berada di negara K menikmati bulan madu di tempat ke dua setelah menghabiskan waktu tiga hari di pulau dan selama itu juga Wulan dan Juan masih berada di rumah Imel. Bahkan Juna telah kembali terbang menjalankan tugasnya.


Juan benar-benar tak enak pada Ibu Maryam yang terus di buntuti Wulan kemana pun walaupun Ibu Maryam tidak merasa terbebani. Sebaliknya Juan yang merasa tak enak. Hingga pada suatu siang ketika Wulan tengah menonton televisi di temani Bian putra bungsu Juna dan Anya tiba-tiba Wulan menangis dan ingin bertemu dengan Maminya.


"Huaa... Hua..." Tangis Wulan pecah secara tiba-tiba.


Membuat Anya, Ibu Maryam, Teh Leli dan juga Juan berhambur menuju ruang keluarga dimana Wulan dan Bian tengah menonton televisi. Bian hanya diam menikmati cemilan yang di buatkan Bundanya tanpa perduli dengan tangisan Wulan.


"Sssttt... Sayang, ada apa? Sudah tenang ya. Mas ada di sini." Ucap Juan menenangkan Wulan dengan memeluknya dan mengusap punggungnya.


"Wu mau Mami huaaa... Wu mau ketemu Mami Mas.. Huaaa..... Mami...." Ucapnya di sela tangisannya.


"Oke... Oke... Berarti kita harus pulang ke kota Y sayang jika Kamu ingin bertemu dengan Mami." Ucap Juan meyakinkan karena dirinya tak ingin nanti bolak balik karena keinginan Wulan yang tiba-tiba.


"Iya Mas. Wu mau Mami huaaa..." Wulan.


"Baiklah! Berhenti menangis Mas siap-siap kita pulang oke." Juan.


"Oke Mas." Ucap Wulan lirih.


Dengan segera Juan membereskan perlengkapan yang mereka bawa dengan memasukkannya ke dalam koper. Sementara Wulan masih terisak dalam dekapan Ibu Maryam yang terus mengusapnya. Setelah semua siap Juan dan Wulan pun berpamitan kepada seluruh penghuni rumah.


Juan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota Y. Di tengah perjalanan Wulan tertidur dengan pulas dengan posisi meringkuk di bangku penumpang samping supir. Juan menepikan mobilnya dan memperbaiki posisi Wulan agar nyaman.


Sampai di kota Y Juan langsung membelokkan mobilnya menuju rumah mertuanya setelah sebelumnya memberitahukannya terlebih dahulu. Mobil Juan memasuki gerbang rumah Saras namun Wulan belum juga terbangun hingga Juan yang letih selepas berkendara harus rela menggendong sang istri hingga ke dalam kamar.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2