
Teh Leli sampai di kota Y saat terik matahari tepat di atas kepala. Teh Leli merasa ragu saat supir travel mengatakan jika rumah itu adalah alamat yang dia tunjukkan padanya. Teh Leli pun mencoba menghubungi Imel belum sempat Imel menjawab panggilannya Teh Leli melihat Nita tengah berjalan menuju rumah Imel.
"Teh Nita." Panggil Teh Leli.
"Eh, Teh Leli. Baru datang. Ayo masuk sekalian. Kita lagi kumpul di dalam. Imel sudah memberitahukan saya klo Teteh mau datang." Nita.
Teh Leli pun berterima kasih pada supir travel terebut dan masuk ke dalam rumah Imel di temani Nita. Teh Leli tidak menyangka jika rumah keluarga Bima begitu mewah dan megah. Bahkan Nita pun bisa tinggal di kawasan elit seperti Imel. Padahal yang Teh Leli tau keluarga Nita begitu sederhana di kota nya. Begitu juga dengan keluarga Imel.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam.."
"Masya Allah Teh Leli.. Alhamdulillah Teteh udah nyampe. Tadi ga nyasar kan Teh?" Tanya Imel begitu melihat Teh Leli.
"Alhamdulillah ngga Neng." Teh Leli.
"Ayo Teh sini duduk. Kenalin Teh ini anak-anak Imel. Yang ini Athar namanya klo yang masih bayi ini namanya Gendis." Tunjuk Imel pada kedua anaknya.
"Waah, cakep-cakep ya Neng." Puji Teh Leli.
"Alhamdulillah. Makasih Teh." Imel.
"Teh Leli barangkali mau beristirahat dulu nanti bisa di antar sama Bi Imah." Titah Mama Yuni setelah Teh Leli menyapa semua penghuni rumah.
"Iya Nyonya." Teh Leli.
Dengan di antarkan oleh Bi Imah Teh Leli pun pergi ke kamar yang telah di sediakan untuknya. Lagi-lagi Teh Leli merasa takjub melihat isi di dalam rumah tersebut. Semua begitu tertata dengan rapih. Bahkan debu pun seolah enggan menempel di dinding rumah tersebut.
"Ini kamarnya ya Teh. Semoga Teteh betah di sini. Maaf saya merepotkan Teteh dua minggu kedepan." Bi Imah.
"Iya Bi. Terima kasih." Teh Leli.
"Sama-sama. Silahkan Teteh istirahat sejenak. Setelah itu Teteh keluar untuk makan siang ya. Kami biasa makan siang bersama di dapur." Bi Imah.
__ADS_1
"I iya Bi. Terima kasih." Teh Leli.
Teh Leli pun masuk dan mengagumi keindahan kamar pribadinya. Yang membuat Teh Leli takjub kamar yang luasnya tak seberapa itu tertata begitu rapih. Bahkan kamarnya saja di kampung tak sebagus kamar yang kini di tempatinya selama dua minggu ke depan. Belum usai dirinya mengagumi kamar pribadinya ketukan di depan pintu membuyarkan lamunannya.
"Teh Leli." Panggil Bi Imah di depan pintu.
"Iya Bi." Jawab Teh Leli segera membukakan pintu kamarnya.
"Loh, bibi belum berganti pakaian? Ayo kita makan siang." Ajak Bi Imah.
"Baik Bi. Sebentar saya ganti pakaian dulu." Teh Leli.
"Ya sudah ayo saya tunggu." Bi Imah.
"Ah, iya Bi sebentar." Teh Leli.
Teh Leli pun segera membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi dan lagi-lagi Teh Leli di buat takjub dengan isi kamar mandi. Namun, kali ini dirinya tak bisa mengagumi isi kamar mandi terlalu lama karena Bi Imah sudah menunggunya di luar kamar. Setelah berganti pakaian dan mencuci wajahnya Teh Leli pun segera keluar dari kamarnya.
"Nah, begini kan enak di lihat Teh." Bi Imah.
Benar seperti yang di katakan Bi Imah sebelumnya mereka semua makan bersama di dapur dan tanpa Teh Leli sangka begitu banyak pegawai di rumah itu terbukti saat mereka makan semua berkumpul di dapur dan itu masih ada para penjaga di luar yang bergantian makan. Teh Leli makan dengan lahap karena pagi tadi dirinya tak sempat sarapan karena travel yang di pesannya datang lebih cepat.
Saat semua tengah menikmati makanan mereka di piring terdengar bunyi yang berasal dari sesuatu yang menempel di dinding. Dengan kompak semua menjawab membuat Teh Leli terkejut. Kemudian terdengar suara yang begitu ia kenali.
"Setelah makan siang Bi Imah dan Teh Leli saya tunggu ya. Terima kasih." Imel.
"Oke." Teriak Bi Imah.
"Jangan kaget. Itulah cara disini berkomunikasi jarak jauh." Bi Imah.
Teh Leli pun hanya mengangguk. Setelah makan usai semua bekerja sama membereskanya kembali dan menata makanan baru untuk penjaga yang belum bergiliran makan. Teh Leli hanya membantu seperlunya karena dirinya masih belum tau apa yang harus ia lakukan.
"Sekarang jadwal Mas Athar sama Dek Gendis tidur siang. Jangan di ajak main. Langsung ajak bersih-bersih setelah siap di tempat tidur pimpin berdo'a kemudian kasih selimut. Tutup semua tirai dan jangan lupa matikan lampu. Setelah itu kamu keluar lagi tinggalkan Mas Athar." Ucap Bi Imah sambil berjalan menuju dalam.
__ADS_1
"Loh, Athar di biarkan bobo sendiri Bi?" Teh Leli.
"Mas Athar terbiasa bobo sendiri." Bi Imah.
"Terus Gendis?" Teh Leli.
"Begitu juga Dek Gendis. Ganti pakaiannya, beri susu tutup tirai dan matikan lampu tinggal." Bi Imah.
"Loh, terus bagaiamana kalo nangis atau Gendis jatuh?" Teh Leli.
"Mas Athar dan Dek Gendis dalam pengawasan. Jadi, tugas kita hanya sampai di situ saja. Nanti kamu bisa lihat pada layar yang berada di pintu kamar mereka." Bi Imah.
"Oo... Begitu rupanya. Terus kita ngapain Bi?" Teh Leli.
"Kita bisa apapun bahkan tidur siang pun tak jadi masalah jika kamu mau. Hanya saja apa kita tidak malu tidur siang sementara yang lain masih mengerjakan pekerjaannya. Jadi, ya kita bantu-bantu apa yang bisa kita kerjakan. Tapi, sebelumnya tawarkan jasa kita terlebih dahulu sebelum mengerjakan apapun karena di sini sudah ada bagiannya masing-masing." Bi Imah.
"Baiklah." Teh Leli.
"Jika kamu membutuhkan apapun yang berhubungan dengan Mas Athar, Dek Gendis, Nyonya, Tuan atau siapapun termasuk kamu. Kamu bisa memintanya pada Mba Ina. Yang tadi pakaiannya lebih rapih dari kita. Kamu bisa temui dia di ruangannya." Bi Imah.
"Ada ruangannya?" Teh Leli.
"Ada. Di depan." Tunjuk Bi Imah pada pintu bertuliskan Ina.
"Ada namanya ya Bi?" Teh Leli.
"Ada. Tapi, jangan lupa ketuk dulu pintunya jangan main masuk saja sekalipun jika nanti kamu merasa sudah akrab dengan Mba Ina." Bi Imah.
"Kenapa Bi?" Teh Leli.
"Tidak sopan Leli. Satu lagi panggil nama Mas dan Dek sebelum menyebutkan nama Mas Athar dan Dek Gendis." Bi Imah.
"Hah! Oh iya." Teh Leli.
__ADS_1
Ketika sampai dalam Teh Leli melihat pemandangan yang begitu membuat hatinya menceos. Bagaimana tidak terdapat semua pasangan sahabat dari Imel. Karema ketiga sahabatnya itu tengah berbadan dua membuat mereka lebih maja pada suami mereka. Karena tak ingin membuat Imel cemburu Bima pun dengan sigap memanjakan Imel. Para wanita yang tengah bergelayut manja itu pun tak peduli dengan kehadiran baby sitter anak-anak mereka begitupun dengan Imel dan Bima. Karena menurut mereka itu masih dalam batas normal.
🌹🌹🌹