Cintaku Berlabuh Pada Om-om

Cintaku Berlabuh Pada Om-om
Naluri


__ADS_3

Hari-hari Inel nikmati bersama keluarganya. Bagas dan Lena sudah kembali ke kota mereka Juan sudah kembali terbang. Menyisakan Ibu Maryam,Anya, Imel dan kedua anak Anya dan Juan.


Imel benar-benar menikmati waktunya bersama keluarganya. Bima masih di LN menyelesaikan pekerjaannya namun komunikasi via udara tetap berjalan. Dan mereka benar-benar menjaga komunikasi itu tetap berjalan.


"Stela, besok ikut Tante ke tempat Tante Nita ya." Ajak Imel.


"Kok Ste Tan?" Stela.


"Iya. Om Bima ga bisa dateng jadi kamu aja yang temenin Tante ya." Imel.


"Stela sekolah Mel." Anya.


"Iih, pelit deh." Imel.


"Bukannya pelit tapi Stela dan Bian kan sekolah sayang." Anya.


"Iya deh iya. Sekolah yang pinter ya Ste." Imel.


"Iya Tante. Maaf ya. Lain kali Ste antar Tante." Stela.


Imel membantu Stela dan Bian mengerjakan PR mereka di ruang keluarga saat ada Wulan dan Juan datang. Imel tak menyadari kedatangan mereka yang masuk begitu saja. Wulan tak menyangka Imel bisa sesabar itu menghadapi kedua anak-anak itu.


"Ulan ga nyangka deh Imel bisa ngajarin anak-anak gitu." Wulan.


"Naluri sayang." Juan.


"Dia kalo ngasih tau kita aja ambekan." Wulan.


"Itu karena kalian sudah besar. Dan mungkin bukan ngambek beneran juga lebih ke kesel udah sama-sama gede tapi ga ngerti-ngerti." Juan.


"Iya juga kali ya." Wulan.


Cukup lama mereka berdiri di ambang pintu memperhatikan Imel dan kedua keponakannya. Bian yang selalu rusuh membuat Imel harus selalu menarik nafas dalam. Begitu juga dengan Mba nya yang selalu mengikuti kemana Bian pergi.


Bian dan Stela memang memiliki Mba yang menjaga mereka 24 jam. Semua kebutuhan keduanya Mba yang bertugas memenuhinya. Maka dari itu Anya banyak memiliki waktu mengurus persiapan pernikahan Imel.


"Eh, Wulan Mas Juan." Panggil Imel yang tak sengaja melihat keduanya.


Wulan tersenyum Imel bangkit dari dududknya menyambut kedatangan sahabat sekaligus calon keponakannya. Mereka berdua saling berpelukan melepaskan rasa rindu mereka.


"Masuk yuk. Teh Leli udah siapin kamar untuk kalian. Ayo." Ajak Imel.


Imel memgantarkan mereka terlebih dahulu menuju kamar yang telah di sediakan. Setelah masuk ke dalam kamar Wulan kembali keluar dan mencari keberadaan Imel yang katanya berada di belakang.


"Eh, Nak Wulan sudah sampai? Sama suami?" Tanya Ibu Maryam.


"Eh, Ibu. Baru aja Wulan datang Bu sama Mas. Juan." Wulan.


"Apa kabar sayang?" Ucap Ibu Maryam seraya memeluk Wulan.


"Alhamdulillah baik Bu. Ibu gimana sehat dong ya." Wulan.


"Tentu." Jawab Ibu Maryam singkat.


Keduanya tertawa bersama. Kemudian Ibu Maryam dan Wulan bergabung bersama Anya dan Imel yang tengah mempersiapkan prentelan untuk acaranya nanti di gazebo belakang.


"Kamu siapin sendiri Mel?" Tanya Wulan.


"Tadinya sih ngga. Tapi, dari pada gw ga ada acara apapun ya udah gw minta buat kerjain sendiri." Imel.

__ADS_1


"Owh! Gitu. Bu dokter mah biasanya sibuk terus sekarang di rumah terus ya Bu." Wulan.


"Ya begitulah kira-kira." Imel.


"Dodit sama Dini kapan datang?" Wulan.


"Nanti malam kayanya. Gw lupa." Imel.


"Juan mana Lan?" Anya.


"Di kamar Kak. Biasa lah WFA." Wulan.


"Demi cuan ya Lan." Imel.


"Lah, iya. masa kalah sama Om Bima. Udah tua juga masih cari cuan." Ledek Wulan.


"Soalnya calon istrinya masih muda masih banyak pengennya." Anya.


"Salah sendiri mau sama gw." Ucap Imel santai.


"Soalnya Bima jadi tambah semangat sayang." Ibu Maryam.


"Betul Ibu." Imel.


"Ceh, dapet pembelaan." Wulan.


"Jangan ampe lu gw pecat jadi ponakan ya." Imel.


"Ibu... Mainannya ngancem." Rengek Wulan pada Ibu Maryam.


"Hus... Emak gw tuh." Imel.


"Dih, mana mau Ibu gw punya cucu petakilan kaya Lu." Imel.


"Jangan salah. Gw cucu kesayangan." Wulan.


"Udah... Udah... semuanya kesayangan Ibu." Ibu Maryam.


"We love you Ibu." Ucap Imel, Wulan dan Anya bersamaan.


Mereka pun asik bercanda bersama. Teh Leli menambahkan kehangatan mereka datang dengan membawakan minuman dan beberapa camilan. Juan pun sedikit lebih tenang karena pekerjaannya tidak terganggu karena sang istri asik dengan sahabat dan keluarganya.


Sempat menemuinya sebentar sekedar berbasa-basi sekalian mengambil minum dan camilan untuk dirinya. Setelah itu Juan kembali masuk ke dalam kamar untuk menyelesaikan pekerjaannya yang di kirimkan via email oleh sekretarisnya.


Kebersamaan Imel, Wulan, Anya, Ibu Maryam dan Teh Leli semakin ramai dengan kehadiran Stela dan Bian. Wulan pun ikut bermain bersama dua bocah itu. Mba susternya ikut membantu prentelan Imel.


"Kakak, nanti jangan lupa ke butik bawa baju. Besok sore ibu mau ke rumah Nita ikut pengajian." Ibu Maryam.


"Iya Bu. Sekalian Anya ke toko kue ambil pesanan Ibu untuk di bawa ke rumah Nita." Anya.


"Imel ikut." Imel.


"Wulan juga." Wulan.


"Hus. Ga boleh. Kalian di rumah aja." Anya.


"Iih,,. Kakak pelit amat." Imel.


"Ngga yah. Dari pada Kakak kena omel Abang kamu sama Mas Bima mu itu." Jawab Anya berlalu.

__ADS_1


"Kalo gitu titip rujak." Wulan.


"Boba." Imel.


"Iya... Iya." Anya.


"Mami... Jangan lupa untuk kita." Teriak Stela.


"Astaga! Aku lupa kalo udah punya anak." Gerutu Anya.


Anya pun pergi meninggalkan mereka. Kini tinggal Teh Leli, Imel dan Wulan. Mereka asik berbincang random. Ibu Maryam pergi istirahat.


"Teh, suami udah lama dong ga pulang?" Wulan.


"Kemarin ada pulang sehari terus pulang lagi." Teh Leli.


"Suka kirim uang ngga?" Tanya Wulan semakin kepo.


"Ngapain lu nanya-nanya keuangan orang. Lu mau kasih?" Imel.


"Yee... Gw nanya Teh Leli juga nyamber aja lu." Wulan.


"Kirim dong Neng. Dosa nanti kalo ga ngirim. Cuma ya sekedarnya makanya Teteh masih kerja." Teh Leli.


"Loh, berarti ga cukup dong Teh?" Wulan.


"Cukup kalo cukup sih. Tapi ya Teteh pengen ada kegiatan aja. Apalagi Ibu kan sering sendiri jadi Teteh bisa nemenin Ibu." Teh Leli.


"Iya juga ya." Wulan.


"Udah lahiran Teh istri yang di sana?" Imel.


"Abis keguguran Neng. Katanya jatuh di kamar mandi." Teh Leli.


"Inalillahi wa innailaihi rojiun..." Imel, Wulan.


"Terus gimana Teh?" Imel.


"Dua hari ga bisa di tanya istrinya nangis terus ngerasa bersalah sama suami kita. Tapi, ya suami terus support jika semua sudah kehendak Tuhan dan suami juga ikhlas." Teh Leli.


"Nikah lagi karena mau punya anak ya Teh?" Wulan.


"Ngga juga. Kan Teteh istri mudanya." Teh Leli.


"Serius Teh?" Wulan.


"Iyah. Jadi, kemarin itu ada kesalahfahaman di antara mereka terus Akang pulang ketemu Teteh terus kita nikah. Teteh ga tau kali dia punya istri tapi jadinya kami tau satu sama lain." Cerita Teh Leli.


"Terus istrinya ga marah?" Wulan.


"Ngga." Teh Leli.


"Teteh ga marah atau cemburu karena suami lebih sering di sana?" Wulan.


"Ngga lah. Biar aja. Teteh mah seneng suami di sana terus hahaha..." Teh Leli.


"Yeee..." Sorak Imel dan Wulan bersamaan.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2