
Hari pertama Imel berada di rumah tak satupun sahabatnya datang berkunjung begitu juga dengan Wulan yang notabene keponakan dari Bima. Mereka bertiga begitu mengerti keadaan Imel yang butuh istirahat dan penyesuaian bagi kedua putra putri Imel. Gendis yang sedikit rewel semalam pun membuat mereka bertiga cukup mengerti.
"Mel, sepertinya Gendis anget." Ucap Mama Yuni saat menemani Athar dan Gendis bermain di teras samping.
"Iya Ma. Sepertinya kecapean." Imel.
"Sudah di beri obat?" Mama Yuni.
"Sudah Ma. Tadi siang." Imel.
"Apa tidak perlu di bawa ke rumah sakit?" Mama Yuni.
"Ngga Mah." Imel.
Walaupun sakit Gendis cukup anteng berada di pangkuan Imel. Sepertinya Gendis tak mau lepas dari Imel. Gendis mencium gelagat sang Papi yang akan merebut Maminya saat Bima menghampiri mereka. Gendis pun menggenggam pakaian Imel begitu kuat.
"Kenapa hm?" Tanya Imel yang melihat Gendis memegang pakaiannya.
"Yang, Teh Leli besok katanya ke sini." Bima.
"Sama Ibu?" Imel.
"Ngga sendiri." Bima.
"Kamu dapet kabar dari siapa?" Mama Yuni.
"Dari Ibu Mah. Kenapa?" Bima.
"Ga apa-apa. Siapa tau aja kamu ngibul." Mama Yuni.
"Astaga! Minggu depan Bi Imah sama Pak Dimin mau liburan dulu Mah. Kasian selama di LN mereka belum bertemu dengan keluarga mereka. Kebetulan Teh Leli bisa gantiin sementara bantu Imel ngurus Athar sama Gendis." Bima.
"Loh, Bi Imah kan baru minggu depan." Mama Yuni.
"Iya. Kan pengenalan dulu Mah. Takutnya Athar malah ga bisa selain Bi Imah." Bima.
"Nanti rumah di sana kosong dong Mel?" Mama Yuni.
"Sementara begitu Mah. Soalnya Ibu mau ke sini juga katanya belum bisa." Imel.
"Ya udah. Nanti minta Bi Imah siapin kamar buat Teh Leli." Mama Yuni.
"Biar di kamar Athar aja Mah. Bi Imah juga cuma minta libur dua minggu katanya." Imel.
__ADS_1
"Itu si bibi juga ga bisa jauh dari anak-anak kayanya makanya dia libur sebentar." Mama Yuni.
"Iya Mah. Itu juga Mas Bima tawarin berkali-kali. Ga enak juga soalnya kita Bi Imah sama Pak Dimin belum libur sama sekali." Imel.
"Ya walaupun di LN mereka di kasih libur juga tapi kan ga bisa ketemu keluarga Mah." Bima.
"Iya sih." Mama Yuni.
"Ngomong-ngomong Papa kemana Mah?" Tanya Bima yang tak melihat Papa Bambang bersama mereka.
"Yah, kaya ga tau Papa kamu saja. Begitu ada di rumah ya dia sibuk dengan tanaman dan peliharaannya. Tadi mau mengajak Athar hanya saja Mama larang. Kasian Athar masih kelelahan." Mama Yuni.
"Papa selalu begitu." Bima.
Hari mulai sore Bi Imah pun segera membawa Athar untuk di mandikan setelah Athar barulah Gendis. Namun,kali ini Gendis tak di mandikan Bi Imah. Imel meminta Bi Imah untuk menyiapkan air hangat saja untuk Gendis. Imel akan menyeka badan Gendis tanpa mandi.
Gendis pun tampak tak seceria biasanya. Demam ya sudah turun akan tetapi rasa lelahnya mungkin belum pulih. Imel pun begitu telaten mengurus Gendis. Karena usia Athar masih terlalu kecil membuat Imel sedikit kewalahan menghadapi kecemburuan Athar. Karena Athar pun butuh perhatian Imel karena lelah perjalanan. Beruntung Bima bisa ikut turun tangan mengahadapi Athar.
Keputusannya untuk tidak bekerja terlebih dahulu sepertinya tepat sekali. Bukan untuk berleha-leha atau bermanja-manja bersama istri melainkan membantu istri menghadapi satu balita dan satu bayi. Karena Bima pun mengerti Imel pun butuh perhatian di saat-saat seperti ini. Walau banyak yang membantu termasuk Bi Imah dan Mama Yuni.
"Yang, besok Mas ke kantor ya. Ada meeting penting." Bima.
"Iya Mas ada Mama kok Bi Imah juga masih ada." Imel.
"Teh Leli naik travel jadi nanti di antar sampai depan rumah." Imel.
"Owh! begitu, ya sudah." Bima.
"Mama minta Teh Leli di siapkan kamar aja Mas. Kata Mama biar lebih nyaman. Jadi Athar juga bisa tetep bobo sendiri takutnya nanti setelah Teh Leli pulang malah Athar terbiasa tidur di temani." Imel.
"Iya juga sih. Ya udah kamu minta bibi saja siapkan kamarnya." Bima.
"Sudah Mas." Imel.
"Ya udah ayo kita turun makan malam. Jangan sampai kamu melewati makan malammu sayang." Goda Bima di telinga Imel.
"Iisssh... Modus!" Imel.
"Abis enak sih." Bima.
"Ih, mesum ah." Imel.
"Kan mesumnya sama kamu bukan sama yang lain." Bima.
__ADS_1
"Awas aja berani-beraninya sama yang lain." Ancam Imel.
"Siap Nyonya Bimantara." Bima.
Mereka pun berjalan keluar kamar menuju meja makan. Terlihat Papa Bambang dan Mama Yuni sudah berada di meja makan. Athar dan Gendis di ruang keluarga. Athar makan di suapi Bi Imah sementara Gendis anteng bermain-main dengan jari-jari tangannya sendiri.
Tanpa menyapa kedua putra putri nya Bima dan Imel pun segera menuju meja makan karena telah di tunggu oleh Papa Bambang dan Mama Yuni. Mereka pun menikmati hidangan makan malam khas masakan nusantara yang selalu mereka rindukan. Walaupun Bi Imah selalu membuatkan untuk mereka namun rasanya begitu berbeda ketika kita memakannya di negara orang.
Imel makan begitu lahap makanan kesukaannya yang di buatkan oleh chef di rumah itu. Mama Yuni dan Papa Bambang memang sengaja mempekerjakan chef untuk menjamin kualitas makanan yang nausk ke dalam perut mereka.
Hingga makanan di dalam piring mereka habis tak ada suara sedikitpun di meja makan hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mereka masing-masing. Hingga makanan mereka tandas di piring mereka masing-masing barulah mereka mengeluarkan suara mereka.
"Kapan kamu mulai ngantor?" Papa Bambang.
"Tadinya Bima fikir bisalah sampai akhir minggu ini. Nyatanya besok Bima harus ke kantor Pah." Bima.
"Ada hal penting?" Papa Bambang.
"Tidak ada. Hanya ada beberapa hal yang perlu di tinjau dan di tanda tangani." Bima.
"Ya, tidak perlu khawatir istri dan anak-anak kamu aman. Papa sama Mama juga ada di rumah terus." Papa Bambang.
"Iya Pah. Besok sore mungkin Teh Leli juga sampai." Bima.
"Untuk apa?" Papa Bambang.
"Bi Imah Bima minta liburan dulu Pah. Barangkali mau ketemu keluarganya." Bima.
"Berapa lama?" Papa Bambang.
"Dua minggu." Bima.
"Ya. Semoga anak-anak nyaman bersama Leli nanti. Tapi, klo mereka ga nyaman dan rewel jangan di paksakan." Papa Bambang.
"Iya Pah." Bima.
"Bagaimana Gendis udah lebih baik?" Papa Bambang.
"Demamnya alhamdulilah turun Pah tinggal rewelnya aja." Imel.
"Ga apa-apa penyesuaian juga dengan suasana baru. Makanya Papa sedikit khawatir jika nanti ada orang baru lagi." Papa Bambang.
🌹🌹🌹
__ADS_1