
Hari kedua Teh Leli berada di rumah utama tak membuat Athar mau dekat dengannya. Bahkan Athar semakin sulit untuk di dekati. Karena merasa kasihan Bi Imah pun tak tega jika harus ijin meninggalkan mereka berdua terutama Athar yang sudah sangat mengerti. Namun, ada satu bibi yang bisa dekat dengan Athar yakni Bi Emi yang selalu menggantikan Bi Imah ketika Bi Imah sedang mandi atau yang lainnya.
Bi Emi bertugas menghidangkan makanan tanpa harus memasaknya. Semua yang keluar dari dapur atas pengawasan Bi Emi. Wanita yang sudah tidak muda lagi memang sudah lama bekerja dengan keluarga Bima. Imel pun mulai menimbang Bi Emi yang menggantikan Bi Imah sementara waktu. Biar Teh Leli menjaga Gendis saja.
Itu juga yang ada dalam fikiran Mama Yuni. Karena walaupun baru dua hari Teh Leli di rumah utama semua sudah dapat menilai kriterianya. Hanya saja Imel tak ingin gegabah dalam menilai seseorang. Keputusan itu pun Imel sampaikan pada Bi Imah membuat Bi Imah sedikit tenang meninggalkan Athar dan Gendis.
Teh Leli sedikit kesal pada Bi Imah karena membuat dirinya tak bisa dekat dengan Athar. Jika hanya Gendis. Bayi berusia dua bulan bisa apa hanya bisa menangis saja. Namun, tak habis akal Teh Leli. Dirinya masih terus berusaha mendekati Athar dengan berbagai cara karena Teh Leli yakin Athar dalam pengaruh Bi Imah.
"Em," Panggil Mama Yuni.
"Saya Nyonya." Bi Emi.
"Besok jika kamu kerepotan titipi saja Athar pada saya. Jangan sungkan ya." Mama Yuni.
"Iya Nyonya." Bi Emi.
Bi Imah dan Pak Dimin pun pergi berlibur dengan tenang bersama keluarganya. Hal yang begitu mereka rindukan setelah dua tahun lebih mereka tinggal di luar negeri. Walau bak liburan mereka tinggal di sana namun tetap saja rasa rindu pada keluarga mereka tak dapat di kalahkan.
Semua kembali ke aktivitas masing-masing. Bima mulai kembali beraktivitas di kantor. Hanya ada Mama Yuni dan Imel di rumah. Papa Bambang menghadiri acara bersama rekannya. Ke tiga sahabat Imel pun kembali pada rutinitas mereka masing-masing.
Mama Yuni mengontrol tanamannya bersama Athar agar Bi Emi bisa sedikit bersantai karena tugasnya menjaga Athar. Sedangkan Gendis tengah bersama Imel bersantai di gazebo. Jika begitu Teh Leli pun tak perlu menunggui Gendis. Teh Leli bekerja membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya.
Ingin sekali rasanya Teh Leli ikut duduk bersantai di gazebo tempat dimana Imel dan baby Gendis bersantai. Imel benar-benar melakukan kuality time bersama putrinya. Tak lama terdengar teriakan Athar dengan membawa setangkai bunga di tangannya.
"Mami,, Mami... This for you." Teriak Athar dengan suara khas anak kecil.
Athar memang sudah pandai berbicara di usianya yang belum genap dua tahun. Hingga kini membuatnya berbicara lebih lancar lagi. Mungkin karena Imel, Bi Imah, Mama Yuni dan Ibu Maryam banyak mengajaknya berbicara.
"Wah, thank you Mas Athar." Ucap Imel.
__ADS_1
"Oke Mami." Athar.
"Mas Athar dapat dari mana bunganya? Kok cantik sekali?" Imel
"Dali kebun Oma dong Mami." Ucap Athar bangga.
"Mas Athar senang berkebun dengan Oma?" Imel
"Senang. Athar bisa main tanah." Athar.
"Tapi, setelah itu Mas Athar cuci tangannya ya." Imel.
"Oke Mi." Athar.
Tak lama Mama Yuni pun datang dan mengajak Athar untuk membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel dengan sigap Bi Emi pun segera menghampiri Mama Yuni dan Athar untuk mengambil Athar dan memandikannya.
"Mari Mas Athar bibi bersihkan." Ajak Bi Emi.
"Sama-sama Nyonya." Bi Emi.
Imel dan Gendis pun menyusul mereka masuk ke dalam. Gendis begitu anteng bersama sang Mami. Sama halnya dengan Bi Emi, Teh Leli segera menghampiri Imel untuk mengambil Gendis. Namun, Imel tak memberikan Gendis pada Teh Leli.
"Mari Mel biar Teteh bawa Gendis." Teh Leli.
"Biar sama saya dulu Teh. Saya mau bawa ke rumah Dini. Tolong siapkan saja perlengkapannya." Imel.
"Owh! Ya sudah." Teh Leli.
Saat Teh Leli berbalik badan dan melangkahkan kakinya menuju kamar Gendis lagi-lagi Teh Leli mendapat teguran dari Mba Ina. Mba Ina segera menarik Teh Leli untuk menegurnya karena berani menyebut Imel hanya dengan nama saja dan caranya menjawab pun salah.
__ADS_1
"Teh Leli sudah berapa kali saya jelaskan mengapa masih memanggil nyonya muda dengan sebutan namanya? Itu tidak sopan Teh. Dan mengapa Teteh tadi menjawab ya sudah sebagai jawaban seharusnya Teteh menjawab Baik Nyonya. Teteh tau aturan tidak sih? Masih mau bekerja tidak sih?" Kesal Mba Ina.
"Astaga! Kenapa Mba yang repot sih? Orang Imel saja tidak protes saya menyebutnya nama." Teh Leli.
Plak...
"Kenapa kamu menampar saya? Itu yang kamu sebut sopan?" Teriak Teh Leli marah.
Mba Ina tak berkata apa-apa lagi. Jarinya menjentik dan datanglah seorang bodyguard menghampiri mereka berdua.
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan." Ucap Mba Ina.
"Baik." Jawab bodyguard itu singkat.
Bodyguard itupun langsung menarik Teh Leli dan Teh Leli tidak terima mendapatkan perlakuan dari bodyguard dan Mba Ina terhadapnya. Saat Teh Leli akn di bawa Teh Leli melihat Imel dan Gendis. Teh Leli pun berteriak meminta pertolongan pada Imel.
"Maaf Teh saya tidak ikut campur masalah antara kalian. Kalian sudah dewasa dan tau apa yang harus kalian lakukan." Jawab Imel.
"Tapi Mel, kamu kan yang meminta Teteh ke sini tapi kenapa kamu seperti ini?" Teriak Teh Leli.
"Jika Teteh tidak berkenan Teteh boleh kembali ke kota M. Saya tidak memaksa." Jawab Imel santai.
"Mba Ina, tolong siapkan perlengkapan Gendis saya mau bawa ke rumah Dini." Titah Imel tak lagi memperdulikan Teh Leli.
Bodyguard pun segera membawa Teh Leli kuar dari rumah utama menuju gudang bawah tanah tempat biasa menghukum para pekerja yang lalai.
"Tempat yang cocok dengan mu memang di sini bersama tikus-tikus yang kotor." Ucap Bodyguard kemudian mengunci pintunya kembali dengan Teh Leli berada di dalamnya.
"Hei,,, si alan. Keluarkan saya dari sini. Saya akan tuntut kalian. Berani-beraninya memperlakukan saya seperti ini." Teriak Teh Leli.
__ADS_1
Tapi, nihil karena bodyguard yang membawanya tadi sudah pergi maninggalkannya. Teh Leli melihat sekeliling gudang yang tampak berantakan namun terawat. Teh Leli melihat ada kasur lipat di pojok ruangan. Teh Leli membukanya kemudian Teh Leli meringkuk disana. Teh Leli tak habis fikir Imel bisa melakukan hal itu terhadapnya. Padahal Imel yang dia kenal begitu lembut dan baik. Teh Leli fikir akan dengan mudah memperdayanya.
🌹🌹🌹