
Tak lama Supir yang di perintahkan Dini membeli obat datang membawakan obat pesanan Dini. Dini segera mengambilnya dan menyiapkannya untuk Dodit. Semua atas sepengetahuan Melati tentunya. Karena jika Dodit tidur Dini akan menemui bayinya dan Melati tentunya.
"Maaf Bu. Tadi di apotik ada yang melihat kertas resep yang saya bawa. Latas dia bertanya di mana dokter Imelda praktek." Supir.
"Lantas kamu jawab apa?" Dini.
"Saya jawab tidak tahu Bu, soalnya saya hanya di perintah majikan saya. Begitu saya jawab." Supir.
"Bagus. Dia lihat detail alamatnya?" Dini.
"Lihat Bu tapi sepertinya alamatnya bukan alamat sini melainkan alamat rumah Ibu yang di kosan." Supir.
"Hah! Masa sih?" Dini.
"Iya Bu." Supir.
"Ya sudah tidak apa-apa. Makasih ya Pak." Dini.
"Sama-sama Pak." Supir.
"Memangnya siapa dokter imelda?" Melati.
"Hah! Imel Mami. Imelda itu Imel." Dini.
"Astaga! Kenapa bisa sampe lupa sama adik sendiri." Melati.
"Bukannya tadi Dini udah bilang sama Mami klo Dini mau minta resep sama Imel." Dini.
"Iya. Makanya Mami tanya siapa dokter Imelda." Melati.
"Hahaha... Mami mabok baby A." Dini.
"Semoga Dodit segera sadar." Melati.
"Aamiin."
"Hahahaaa..."
Keduanya kembali ke kamar masing-masing. Melati ke kamar A dan Dini ke kamarnya sendiri.
🎶🎶🎶
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
"Mama,, Papa... Adek..." Nita.
"Stop!" Mama Nita.
"Kenapa? Mama ga kangen Ta?" Rengek Nita.
"Kangen dong. Tapi, kamu itu jangan lari-lari." Mama Nita.
"Hehehe... Maaf Ma. Kangen berat soalnya." Nita.
"Eh, Ibu Imel mana Mah?" Nita.
"Sudah di antar ke rumah Imel." Papa Nita.
__ADS_1
"Loh, kalian dari sana dulu?" Nita.
"Ngga Teh. Tadi Ibu turun di sana sendiri katanya nanti ke sini juga kok." Adik Nita.
"Owh! Gitu. Ya udah masuk yuk. Kamu bisa pulang Dek?" Nita.
"Bisa dong Teh." Adik Nita.
"Suami kamu belum pulang nak?" Papa Nita.
"Belum Pah. Mas pulangnya sore." Nita.
"Mertua kamu ngga ke sini?" Mama Nita.
"Nanti pas acara saja Ma. Kan rumah mereka dekat sini. Kemarin Mama sama Papa ke sini juga sih." Nita.
"Iya sudah ngga apa-apa." Papa Nita.
🎶🎶🎶
"Ibu..." Imel.
"Assalamu'alaikum..." Ibu Maryam.
"Wa'alaikum salam Bu. Kangen..." Imel.
"Masya Allah.. Sekarang perutnya udah mulai keliatan nak." Ibu Maryam mengusap perut Imel.
"Iya Bu. Ibu sehat kan?" Imel.
"Alhamdulillah sehat dong. Kalo sakit Ibu ga akan ke sini." Ibu Maryam.
"Eh, orang tua Nita mana?" Imel.
"Mereka langsung ke rumah Nita. Ibu minta di turunin di depan saja tadi. Nanti malah merepotkan harus mengantar ibu ke sini." Ibu Maryam.
"Astaga! Itu loh Mah rumah depan kiri rumahnya.". Imel.
"Loh,. bukannya itu rumah Dini?" Ibu Maryam.
"Rumah Dini sih ini depan pas." Imel.
"Kalo Wulan?" Ibu Maryam.
"Wulan ini samping pas." Imel.
"Masya Allah. Yang rukun-rukun ya kalian." Ibu Maryam.
"Aamiin Bu." Imel.
Imel pun meminta ibunya untuk beristirahat di kamar yang sudah di sediakan karena selepas perjalanan cukup jauh pastilah Ibunya butuh istirahat sejenak melepaskan lelah perjalanan. Imel pun memberitahukan Bima jika Ibu nya telah berada di rumahnya. Bima pun berjanji untuk segera pulang.
"Mel," Panggil Ibu Maryam.
"Iya Bu." Imel berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Ibu tidak istirahat?" Imel.
"Nanti saja. Ibu kangen putri ibu." Ibu Maryam.
__ADS_1
"Aaa... Ibu.... Ayo masuk Bu." Ajak Imel kedalam kamarnya.
Ibu Maryam memasuki kamar Imel dan Bima kemudian dirinya mendudukan diri di sofa yang terdapat di sana. Imel pun duduk di sampingnya.
"Sayang, ibu mau bicara sesuatu." Ibu Maryam.
"Bicara apa? Bicara saja Bu." Imel.
"Kakak kamu Anya sakit Nak." Ibu Maryam.
"Hah! Sakit apa Bu?" Imel.
"Ada tumor di kepalanya. Ibu sudah menyarankan pergi berobat ke rumah sakit yang di rekomendasikan temen ibu tapi Anya menolak. Anya memilih berobat di rumah sakit terdekat saja. Dia bilang tidak ingin merepotkan semuanya." Ibu Maryam.
"Astaga! Siapa yang di repotkan. Tidak ada Bu. Ayolah ibu bujuk Kakak." Imel.
"Iya. Sepulang dari sini ibu akan meminta Anya untuk mau di ajak berobat." Ibu Maryam.
"Lantas Abang bagaimana Bu?" Imel.
"Abang setuju dengan ibu. Bahkan Abang pun sudah beberapa kali membujuk Anya. Ibu hanya takut Abang tidak berkonsentrasi dalam mengemudikan pesawat karena memikirkan Anya." Ibu Maryam.
"Bagaimana jika Stela sama Bian di titipkan disini saja Bu." Imel.
"Stela dan Bian akan di bawa Lena sama Bagas. Ibu akan menemani Anya disana karena Abang tidak mungkin selalu ada di sana." Ibu Maryam.
"Baiklah jika Stela dan Bian setuju. Nanti Imel bicara sama Mas Bima. Siapa tau Mas bisa membantu Bu." Imel.
"Terima kasih Nak. Ibu hanya minta ke ikhlasan kamu karena Ibu akan menemani Anya pergi." Ibu Maryam.
"Ibu, Kak Anya dan Kak Lena kan kakak Imel juga. Ibu boleh pergi asalkan Ibu juga harus jaga kesehatan disana." Imel.
"Iya Nak. Nanti Ibu juga akan bicara pada Bima." Ibu Maryam.
Sore hari Bima datang. Mereka bertiga pun saling bercengkrama bersama. Ibu Maryam tidak langsung mengutarakan maksud dirinya datang ke kota Y. Hingga makan malam tiba pun Ibu Maryam masih belum juga bicara. Hingga saat mereka bersantai setelah makan malam barulah Ibu Maryam menceritakan apa yang terjadi pada Anya menantunya.
Bima pun segera menghubungi steve dan meminta menyiapkan rumah sakit dan apartemen untuk Ibu Maryam, Anya dan Juna. Juna yang akan tetap kerja pun perlu istirahat. Juna pun meminta Teh Leli untuk ikut serta agar Teh Ibu dan Teh Leli bisa bergantian berjaga jika Anya harus di rawat di rumah sakit. Bima meminta Steve menyiapkan apartemen yang dekat dengan rumah sakit.
"Semua sudah beres Bu. Ibu tinggal menyiapkan persiapan untuk penerbangan. Nanti Steve akan mengurusnya Bu. Ibu sudah tau Steve kan?" Bima.
"Iya Nak. Terima kasih. Maaf ibu jadi merepotkan." Ucap Ibu Maryam tak enak.
"Tidak masalah bu. Kita bersaudara jadi sudah sepatutnya kita saling membantu." Bima.
"Ibu akan bujuk Anya sepulang dari sini. Semoga segala jeri payah kita membuahkan hasil yang baik." Ibu Maryam.
"Aamiin."
"Semoga saat Imel melahirkan nanti Ibu dan Kak Anya sudah kembali dengan Kak Anya dan Ibu yang sehat ya Bu." Bima.
"Aamiin Nak." Ibu Maryam.
"Nanti Imel telfon Kak Anya Bu. Supaya Kakak mau pergi." Imel.
"Iya. Beberapa kali Lena pun sudah menghubungi Anya agar memindahkan Stela dan Bian ke kota B." Ibu Maryam.
"Semoga Kakak berubah fikiran menjadi mau." Imel.
"Aamiin."
__ADS_1
🌹🌹🌹