
Bukannya mau di antar Bima Imel malah berjalan sendiri menuju lift. Saat Bima akan masuk Imel malah melarangnya membuat Bima bingung. Tadi nangis karena ga di antar sekarang malah melarang dirinya ikut masuk di lift.
"Stop! aku ga mau di antar Om-om. Bye..." Ucap Imel.
Bima mematung di depan lift sementara Arman, Johan dan Aldi tertawa namun tak mengeluarkan suara. Saat Bima berbalik mereka pun berpura-pura tak melihat dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Tak ada siapapun di lantai tersebut karena di lantai itu khusus ruangan Bima, Arman dan Steve yang kini tengah berada di LN. Steve tengah mengurus perpindahan pusat kantor ke tanah air.
"Arman, kita lanjutkan pekerjaan yang tadi." Ucap Bima sambil melangkah ke ruangannya.
"Ga di kejar dulu Bos. Biasanya perempuan suka di kejar." Arman.
"Sekali lagi kamu bilang tentang dia gaji kamu saya potong 50%." Bima.
Sementara Imel pulang ke kost biasa saja. Nita dan Dini yang kebetulan berada di warung makan depan kost mereka. Dini dan Nita melihat ke arah Imel.
"Mel, dari mana? Kok baru pulang?" Nita.
"Ngambil gaun buat besok." Tunjuk Imel pada paper bag di tangannya.
"Kok baru di ambil? Bukannya kemarin ya?" Dini.
"Hah! Iya kemarin. Ini ketinggalan di mobil si Om rese jadi kerja dua kali deh gw ngambil nih gaun." Imel.
"Om Rese?!!"
Ucap Nita dan Dini bersamaan. Mereka pun saling berpandangan.
"Udah ah, gw males ngomongin dia. Gw masuk dulu ya gerah pengen mandi." Pamit Imel.
"Ya udah sana gih." Nita.
Setelah Imel pergi Dini dan Nita pun saling berpandangan. Tatapan mereka seolah menyiratkan banyak tanya siapa Om rese yang di maksudkan oleh Imel.
"Itu kali Mba yang kemarin antar Mba Imel pulang." Ibu Warung.
"Hah! Imel pulang di anter Om-om?" Nita.
"Ga tau Mba. Tapi, kemarin Mba Imel pulang di anter mobil mewah." Ibu Warung.
"Hah! Aduh, jangan sampe. Ayo cepet ke kamar Imel." Ajak Dini.
"Apaan sih Din?" Nita.
__ADS_1
"Gw ga mau ya karena sakit hati sama Raka Imel salah jalur." Dini.
Akhirnya Nita pun mengikuti langkah Dini masuk ke dalam rumah kos mereka. Ibu Warung tersenyum melihat tingkah mereka. Ibu warung memang sudah mengenal mereka sejak lama. Sejak Mereka bertiga duduk di bangku sekolah.
Mereka bertiga tidak pernah pindah kost karena merasa nyaman. Saat Ibu kost meminta kenaikan kost mereka membayar dengan sukarela tanpa protes. Karena bagi mereka kenyamanan nomer satu.
"Mel, Imel." Panggil Dini dari luar.
"Apaan sih Din. Gw lagi mandi nih." Protes Imel yang keluar dengan hanya menggunakan handuk saja.
"Mel, lu ga macem-macem kan putus dari Raka?" Dini.
"Ngga lah. Emang gw ngapain?" Imel.
"Lu main Om-om Mel?" Nita.
"Astagfirullah! Nita mulut Lu. Ngga lah. Kaya gw ga laku aja main Om-om. Gw masih bisa kali dapet daun muda." Imel.
"Ish... Kalian ini. Gw serius Imelda." Dini.
"Gw juga serius Dini." Imel.
"Terus kenapa Lu bilang Om rese tadi?" Nita.
"Ya emang tu Om rese. Makanya gw bilang Om rese." Imel.
"Gw siangan ya kesana nya. Mau nganterin laporan dulu." Imel.
"Oke. Udah yuk Nit." Ajak Dini pada Nita.
Nita dan Dini pun keluar dari kamar Imel. Kemudian Nita pun protes.
"Lu gimana sih Din? Katanya mau lempengin Imel biar ga terjerumus Om-om." Nita.
"Udah biar nanti aja. Imel amsih belum bisa du tanya-tanya." Dini.
"Loh, bukannya dia tadi jawab ya tiap kali kita tanya dia?" Nita.
"Iiiih... Nitaaaa.... Udah ah ayo gw mau tidur." Dini.
Pagi-pagi sekali Imel sudah pergi ke rumah sakit untuk memberikan laporan pada temannya karena ada tugas yang harus mereka kerjakan. Nita dan Dini bersiap ke rumah Wulan. Karena Wulan mengadakan acara siang hari.
Sampai di rumah Wulan. Dini dan Nita bercengkrama bersama sambil menunggu Imel datang. Dini dan Nita oun menceritakan tentang Imel yang menyebutkan Om rese. Mereka berfikir jika Imel menjadi sugar baby Om-om.
__ADS_1
"Tapi, kita jangan menuduh dulu. Kita tunggu penjelasan Imel saja." Nita.
"Iya dong Nit. Kita kan ga gitu. Yang penting kita tetep mendo'akan kebaikan untuk dia." Dini.
"Tapi, bentar deh. Kemarin Om gw minta no telfon Imel. Apa bukan Om gw ya yang di maksud Om rese sama Imel?" Wulan.
"Tapi, kan Imel belum pernah ketemu Om Lu Lan." Nita.
"Udah pas di cafe. Pas Imel ke cafe di sana ada Om gw." Wulan.
"Sekali ketemu sih belum tentu di inget Lan sama dia." Dini.
"Iya juga sih. Tapi, kan Om gw inget gimana dong?" Wulan.
"Tapi, masa Imel langsung percaya gitu aja?" Nita.
"Ga tau ah gw pusing. Biar aja yang penting Imel bahagia. Yang terpenting itu Om-om bukan punya orang lain. Statusnya masih single." Dini.
"Aamiin.."
Saat mereka asik berbincang MUA yang menangani Wulan pun telah tiba dan Wulan pun segera bersiap begitu juga dengan Dini dan Nita. Heru dan Dodit pun telah hadir disana. Tingal menunggu Imel yang tak kunjung datang.
Namun, di detik-detik terakhir setelah semuanya beres dan menunggu kedatangan keluarga Juan Imel pun datang dengan gaun yang sama senada dengan Nita dan Dini.
"Astaga Mel. Dari mana sih Lu?" Protes Dini.
"Sorry Din. Dosen gw telat jadi gw telat juga deh." Imel.
"Ga bisa nanti aja gitu?" Nita.
"Ga bisa Nit. Soalnya kita masuk lebih awal dari yang lain." Imel.
"Ssstt... Udah yang penting kan Imel udah di sini." Lerai Dodit.
Sementara Heru hanya diam. Karena Heru lebih pendiam dan tak banyak bicara. Itu yang membuat Nita nyaman. Heru lebih bawel saat bersamanya saja namun tidak di depan sahabat-sahabatnya.
Tingkah Imel tak luput dari pandangan seseorang yang masih geram karena sikapnya kemarin. Ingin rasanya membalas kekacauan dirinya kemarin tapi tak mungkin juga dia merusak acara keponakannya.
Juan dan keluarga pun telah sampai dan acara segera di mulai. Rangkaian demi rangkaian telah usai di laksanakan sesi foto pun di mulai. Di mulai dari keluarga ini hingga teman-teman Juan dan Wulan.
"Mel, ayo kita foto." Ajak Dini.
"Eh, udah mulai ya?" Ucap Imel yang sejak tadi fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Kemudian mereka berempat pun saling berfoto kemudian pasanga mereka ikut bergabung sementara Imel tak ada pasangan membuat mereka bergaya mesra dengan pasangan masing-masing dan Imel bergaya cemberut seolah bersedih di tinggal ketiga sahabatnya.
🌹🌹🌹