
Hari begitu cepat berlalu kehamilan Wulan sudah semakin membesar. Hanya tinggal menghitung hari saja perkiraan kelahiran bayi Wulan. Begitu juga dengan Kehamilan Dini dan Nita yang berselisih dua bulan. Hanya menyisakan Imel yang tak kunjung hamil. Imel pun sempat drop karena memikirkan hal itu. Dirinya merasa tak pantas bersamding dengan Bima. Sempat menjauhi Bima dan mengurung diri di rumah kost yang di sewanya.
Namun, Bima mampu meyakinkan kembali Imel dan Imel kembali pulang. Entah apa yang di fikirkan oleh Imel. Tapi, hati wanita mana yang tak sedih melihat ketiga sahabatnya yang setelah menikah langsung hamil sedang dirinya tidak. Setelah Imel berhasil di bujuk untuk pulang Imel pun tak ingin menemui siapapun. Hanya Bima, Papa Bambang dan Mama Yuni yang bisa bertatap muka. Saras dan Melati pun tak ingin dia temui walaupun mereka berdua tak pernah membahas dan mempermasalahkan mengenai kehamilan.
Namun, mereka mengerti dengan keadaan Imel. Sebagai sesama wanita sudahlah pasti mereka bisa merasakan hal yang sama. Terlebih Melati yang hanya memiliki satu orang putra. Melati telah berjuang dan berusaha agar bisa kembali hamil anak kedua namun nyatanya nihil. Hingga Dodit kini telah menikah Melati tak kunjung kembali hamil. Berbagai program telah di lakukan namun nyatanya Tuhan tak berkehendak.
Hari ini Dini akan mengadakan acara tujuh bulanan kehamilannya sayang Imel tak dapat menghadirinya bahkan Imel tak pernah tau jika Dini akan mengadakan syukuran. Imel bagai menutup diri dari dunia luar. Sedih tentu saja Dini rasakan. Di sisi lain dirinya begitu bahagia atas kehamilannya namun di sisi lain dirinya pun harus bersedih karena Imel tak dapat berkumpul bersama.
"Ta, apa kamu sudah bisa menghubungi Imel?" Tantmya Dini.
Nita hanya menjawabnya dengan gelengan.
"Apa kehamilan kita salah?" Tanya Dini lagi.
"Tidak Din, Ta. Kehamilan kita tidak salah. Dan apa yang terjadi pada Imel pun tidak salah. Wajar Imel merasa tersisih karena dirinya tak kunjung hamil. Dengan begitu mungkin Tuhan masih menginginkan Imel dan Om Bima untuk pacaran. Tuhan masih meminta Om Bima untuk fokus pada Imel sebelum perhatiannya akan teralih pada bayi mereka." Jelas Wulan.
"Tapi sampai kapan Wu?" Nita.
"Bersabar dan berdo'alah." Wulan.
"Gw pengen peluk dia dan bilang tak masalah jika dirinya belum Tuhan percaya untuk mengandung. Bayi gw juga bayinya. Imel bisa lakukan apapun untuk bayi gw. Gw rela berbagi anak gw nanti." Dini.
"Tentu Din. Anak Lu, Nita, dan Imel nanti akan jadi anak gw begitupun sebaliknya." Wulan.
__ADS_1
"Gw denger dari Mami Imel kurusan. Gw jadi makin sedih Wu." Dini.
"Kita do'akan saja. Om Bima sedang berusaha membujuk Imel walau Om Bima tau kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain." Wulan.
"Tapi, Imel bukan orang lain Wu.." Nita.
"Iya Ta, gw ngerti. Kita harus lebih banyak lagi bersabar." Wulan.
Mereka bertiga pun larut dalam obrolan mereka mengenai Imel. Acara Dini pun akan segera berlangsung. Dini dan Dodit hanya mengadakan acara pengajian untuk mendo'akan kehamilannya semoga lancar sehat Ibu dan bayinya.
Acara pun berlangsung dengan khidmat. Bahkan orang tua Dini pun datang dari kota C. Mereka berencana menginap satu malam karena Dini mengadakan acara sore hari. Orang tua Dini sempat bertanya mengenai Imel karena setiap kali mereka datang ke kota Y lmel dan yang lainnya akan berburu menemui mereka tapi kali ini tanpa kehadiran Imel yang mereka tau rumah mereka berdekatan.
Dini terpaksa berbohong jika Imel tengah ikut ke luar kota bersama Bima karena ada pekerjaan. Walaupun sedikit aneh dan janggal pasalnya salah satu di antara mereka tak oernah melewatkan momen apapun tapi kali ini Imel pergi. Ibu Dini pun tak ingin membahasnya lagi. Sementara di rumah Bima. Imel tengah asik bersama ikan-ikannya di belakang.
Bima yang datang terlambat mencari keberadaan istri tercintanya. Rumah tampak sepi. Bima fikir Papa dan Mamanya belum kembali dari rumah Dodit selepas acara tadi sore. Tapi, dimana Imel. Bima mencari ke dalam kamar mandi juga tidak ada. Bima berfikir apa Imel ikut bersama Papa dan Mamanya tapi yidak mungkin pasalnya Imel pasti mengatakannya dan pasti akan merengek minta di temani olehnya.
"Bi, dimana Imel?" Bima.
"Mba, Imel masih di kolam sepertinya Mas." Jawab Bibi.
"Masih di kolam? Sejak kapan?" Bima.
"Iya Mas. Sejak sore tadi." Bibi.
__ADS_1
Bima pun bergegas segera menuju kolam ikan karena khawatir apa yang di lakukan Imel sehingga dirinya belum pulang sampai malam tiba bahkan melewati jam makan malam. Keterlambatan Bima memang sudah di ketahui Imel melalui pesan yang di kirim Bima sore tadi. Dan betapa terkejutnya Bima saat melihat Imel tertidur di pinggir kolam dengan tangan kanan yang menjuntai masuk ke dalam air. Banyak ikan di sekitar tangannya yang tengah mengerubuti tangan Imel.
"Astaga! Sayang..." Panggil Bima pelan.
Imel tak terusik sama sekali dengan kehadiran Bima. Bima segera menggendongya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Bima tak habis fikir dengan tingkah istrinya ada saja yang membuatnya geleng kepala. Bima membaringkan tubuh Imel perlahan fi tempat tidur. Bima pun mengganti pakaian Imel yang sedikit basah. Dan semua kegiatan Bima tak membuat tidur Imel terusik.
"Apa yang kamu fikirkan sayang hingga tertidur di sisi kolam." Oceh Bima setelah mengganti pakaian Imel.
Kemudian Bima segera membersihkan dirinya dan menyusul Imel tidur. Bima membawa Imel masuk kedalam pelukannya. Tak lama Bima pun ikut terbuai ke alam mimpinya. Karena pekerjaannya di kantor sedikit menguras tanaganya hari ini.
Papa Bambang dan Mama Yuni baru saja pulang setelah jam menunjukan pukul sepuluh. Karena asik berbincang hingga melupakan waktu mereka dan karena mereka fikir tak apa pulang larut toh rumah mereka hanya di sebrang jalan saja. Saat pulang Bibi melaporkan kejadian dimana Imel tertidur di kolam.
"Astaga! Apa Bibi ngga bercanda?" Mama Yuni.
"Tidak Nyonya. Mas Bima sendiri yang melihatnya dan menggendongnya masuk." Bibi.
"Kenapa sampai tidak ada yang tau Imel maish berada di kolam hingga malam?" Papa Bambang.
"Menurut tukang kebun dia sudah meminta Mba Imel masuk dan Mba Imel pun mengiyakan tak di sangka jika Mba Imel malah tertidur di sana Tuan Nyonya." Jelas Bibi.
"Astaga! Semoga ga masuk angin." Mama Yuni.
🌹🌹🌹
__ADS_1