
Di perjalanan Wulan dan Nita terus mendesak Imel untuk bercerita bagaimana bisa Imel memanggil Om Bima dengan sebutan Mas. Dan apakah benat dugaan mereka jika Imel memiliki hubungan dengan Om Bima.
Dan itu semua pun di tanggapi dengan antusias oleh Wulan. Karena Wulan sangat senang jika Imel bisa menjadi Tantenya. Wulan pun mengancam akan memberitahukan hubungan Imel pada Opa dan Omanya jika Imel tak mau bercerita.
"Bilang saja. Gw ga ngelakuin apa-apa." Imel.
"Tapi, lu mesra banget tadi sam Om Bima. Ga mungkin kalo itu cuma sandiwara di depan Raka." Nita.
"Kalo iya gw sama Om Bima kenapa? Terus kalo gw ga sama Om Bima juga kenapa?" Imel.
"Kalo lu sama Om Bima gw seneng banget. gw bakal kasih apa aja yang lu mau. Tapi kalo lu ngga sama Om gw juga ga masalah. Yang penting Lu sama Om gw bahagia siapapun pilihan kalian." Wulan.
"Kalo Lu?" Tanya Imel sama Nita.
"Ya sama dong Mel gw juga seneng banget tapi ya gw ga bakal kasih apapun ke lu ya. Cuma gw ikut seneng banget dari pada lu balik sama si Raka." Nita.
"Kalo gw balik sama Raka gimana?" Imel.
"Lu bukan sahabat gw." Nita.
"Bener." Wulan.
"Lah, katanya siapapun pilihan gw asal gw bahagia." Imel.
"Terkecuali buat yang satu itu." Wulan.
Juan dan Heru hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mereka melihat tingkah ketiga perempuan yang sudah lama bersahabat itu. Juan dan Heru sudah lama menjadi saksi persahabatan mereka.
Bahkan Raka juga dulu akrab dengan mereka. Hanya saja Raka yang memiliki pergaulan di luar batas membuat Raka meninggalkan Imel hanya demi kepuasan sesaat. Imel, Wulan, Dibi dan Nita memang begitu menjaga diri mereka.
Itulah yang membuat Dodit, Heru dan Juan begitu menjaga Wulan, Nita dan Dini. Karena perempuan yang mampu menjaga harga dirinya akan mampu menjaga harkat derajat keluarganya.
Sebenarnya Imel sabuk hitam taekwondo dan ketiga sahabat juga pasangannya tau itu. Tak perlu pengawalan seperti yang di lakukan Bima sekarang. Hanya saja Imel tak ingin mengotori tangannya untuk menyakiti pria yang pernah singgah di hatinya.
Bahkan seharusnya Raka pun tau jika Imel memiliki kemampuan bela diri itu. Hanya saja Raka tak pernah memperhatikan apapun yang Imel lakukan. Yang dirinya tau bahwa Imel menjadi mahasiswa kedokteran melalui jalur beasiswa.
Raka mengaguminya karena kepintarannya dan juga kecantikannya tentu saja. Dan mungkin saja apa yang Raka rasakan bukanlah rasa sayang melainkan hanya sebatas obsesi.
Sampai di kota C hari sudah larut. Wulan dan yang lainnya memilih mencari hotel terlebih dahulu untuk Juan dan Heru menginap barulah setelah itu mereka minta di antarkan ke rumah Dini.
"Astaga! Kalian dari mana saja jam segini baru nyampe sini?" Sambut Dini.
"Alhamdulillah kalian sampai dengan selamat. Begitu sih seharusnya." Ucap Nita.
__ADS_1
"Hm ya. Ayo masuk. Kalian sudah makan?" Dini.
"Sudah. Kami sudah makan tadi di jalan." Wulan.
"Ma, Pa. Ada sahabat Dini datang." Panggil dini kepada kedua orang tuanya.
"Masya Allah... Alhamdulillah. Ayo masuk." Mama Dini.
"Terima kasih Tante. Maaf kami datang kemalaman." Imel.
"Ngga apa-apa. Ayo masuk." Ajak Mama Dini.
"Iya Tante. Ini sekalian pacar kita mau pamit balik ke hotel. Besok mereka kembali lagi." Wulan.
"Woalah kenapa ga tidur di sini saja? Kan bisa dempet-dempetan tidur di sini.". Papa Dini.
"Iya Om, terima kasih. Kami biar di hotel saja." Juan.
"Kami permisi Om, Tante." Heru.
Mereka berdua pun kembali ke hotel sementara Wulan, Nita dan Imel masuk kedalam. Dan mereka langsung masuk ke kamar Dini karena mereka ingin cepat mandi dan beristirahat setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan.
"Halo." Ucap Imel menjawab telfon yang masuk.
"Sudah, baru aja. Maaf belum kasih kabar." Imel.
"Ga apa-apa. Istirahat ya. Besok kita ketemu." Bima.
"Belum berangkat?" Imel.
"Besok sekalian dengan yang lainnya. Nanti pulang sama Mas ya." Bima.
"Iya. Nyetir sendiri?" Imel.
"Iya. Kan pulangnya nanti di temenin." Bima.
"Ya udah hati-hati ya." Imel.
"Oke. Mimpiin Mas ya." Bima.
"Iih..." Imel.
Panggilan pun terhenti. Tanpa sadar semua mata tertuju padanya dengan penuh selidik. Imel menampilkan deretan gigi putihnya saat melihat ketiga sahabatnya menatap tajam padanya.
__ADS_1
"Imelda Anastasya! Lu mau cerita sekarang atau Lu ga tidur malam ini." Ancam Nita.
"Jahat! Biarin gw mandi dulu deh nanti gw ceritain." Pinta Imel.
Akhirnya Wulan dan Nita mandi lebih dulu agar Imel tak tertidur setelah mandi. Dan benar saja saat Imel keluar dari kamar mandi ke tiga sahabatnya sudah bersiap pada posisi masing-masing untuk mendengarkan cerita Imel.
Dengan santai Imel menyimpan perlengkapannya dan memakai skincare sebelum tidur. Setelah itu barulah Imel menceritakan bagaimana bisa Imel menyebut Bima dengan sebutan Mas.
Wulan pun senang karena jebakannya berhasil malam itu. Karena Wulan merasa greget dengan sikap Omnya dan Imel yang sama-sama suka tapi begitu sulit untuk saling mengakui.
"Selamat ya cintah.." Dini.
"Welcome Tante ku sayang." Wulan.
"Kalian bersaudara terus gw." Ucap Nita di buat sesedih mungkin.
"Sebelum Dini dan Imel nikah sama saudara gw kalian sudah menjadi saudara gw. Jangan gitu dong gw jadi sedih." Wulan.
"Aaa... Maafin gw Nita sayang. Abis Om-om itu godain gw terus jadi kan gw nya tergoda." Imel.
"Jadi, cintaku berlabuh pada Om-om nih?" Dini.
"Yaah,, sekuat apapun gw menghindar jika Tuhan sudah menentukannya gw bisa apa." Imel.
"Ceh, dasar aja lu nya juga demen." Nita.
"Siapa mau nolak kalo Om-om nya kaya Dia." Imel.
"Om Gw ya itu." Wulan.
Mereka pun tertawa bersama. Perbincangan pun harus terhenti karena waktu semakin larut. Dini harus segera tidur karena besok siang akan melangsungkan acara lamaran.
Pagi hari Heru dan Juan sudah berada di rumah Dini setelah menyantap sarapan pagi di hotel. Juan dan Heru menutuskan untuk langsung pergi ke rumah Dini. Sementara rombongan Dodit sudah hampir sampai.
Dini telah menyiapkan satu rumah milik saudaranya yang kosong untuk keluarga Dodit beristirahat sejenak sebelum acara d mulai. Kebetulan rumah tersebut berjarak tak jauh dari rumah Dini.
Bima memberitahukan Imel jika dirinya sudah berada di rumah yang telah di sediakan oleh Dini. Namun, Imel enggan menemui Bima terlebih dahulu karena dirinya masih malu dan takut oleh Opa dan Oma Wulan.
Imel takut jika mereka menolaknya. Karena mereka semua mengenal Imel sebagai Sahabt Wulan. Imel takut mereka berfikir jika Imel mau dengan Bima karena harta. Nyatanya keluarga Bima tak memandang hal itu.
Sebaliknya mereka senang mendengar Imel dekat dengan Bima karena mereka telah mengenal bagiamana Imel. Mereka tau langsung dari Bima. Dan mereka bersikap biasa seolah belum mengetahui jika mereka telah tau jika Imel dan Bima berhubungan.
🌹🌹🌹
__ADS_1